Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Bermalam di Sebuah Desa

sumber foto pixabay

sumber foto pixabay

“Tapi aku sudah tujuh belas kali mendengar suara orang menyapu pada pukul tiga dini hari di rumah tua itu,” Mara dengan hati-hati memilah jalan di pematang sawah yang agak licin. Sepasang kaki indah itu seolah sudah terbiasa dengan jalanan di pematang sawah yang becek dan sedikit licin itu. Aku berjalan di belakangnya mengikuti ke mana ia akan pergi petang itu. Langit sudah tampak merah-merah kelabu, sesekali Camar-camar itu terbang melintas di atas kepala kami. Dan aku ingat kata-katanya barusan.

“Hanya Si Siluman itu yang bisa menyelesaikan segala urusan tentang demit.”

*

Orang-orang biasa memanggilnya Si Lelaki Orang Utan, Manusia Kera, Kera Sakti, Siluman Kera atau Si Siluman. Tapi setelah melihatnya di sebuah foto sefia, sebuah foto yang agak buram, yang beberapa bagiannya blur, mungkin karena terkena air atau udara yang lembab. Menurutku wajah lelaki itu masih tampak jelas meski hanya berwarna hitam putih dan agak kekuning-kuningan. Lelaki itu kurang lebih mirip Orang Utan dari pada kera. Dan berdasarkan desas-desus orang-orang dusun itu, lelaki itu telah berusia lebih dari satu setengah abad. Bahkan ada yang beranggapan ia kekal abadi dan tidak bisa mati, bumi tak mau menerima jasadnya. Orang-orang tua yang kini sudah mati pernah melihat dan bersaksi bahwa si Lelaki Orang Utan itu pernah terkena peluru senapan bagian dada kirinya. Saat itu para orang tua yakin bahwa Si Lelaki Orang Utan itu telah mati dan tidak bernyawa lagi ketika tubuhnya sepersekian detik melayang di udara. Orang-orang melihat matanya telah memutih dengan mulut menganga. Namun ketika tubuhnya jatuh dan menyentuh tanah Si Lelaki Orang Utan itu tiba-tiba bernapas dan segera berdiri, bekas lubang peluru yang menembus dada kirinya lenyap begitu saja seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Kejadian itu membuat para penjajah segera pergi dan tidak jadi mengacak-acak dusun.

Orang-orang juga mengakui bahwa waktu itu si Lelaki Orang Utan memang pelindung dusun. Ia adalah satu-satunya orang yang berani berdiri di garis paling depan ketika para penjajah hendak mengacak-acak dusun. Ia juga yang mengusir PKI ketika pada malam-malam yang sepi dan dingin mereka datang dan menyekap guru ngaji di surau. Orang-orang melihat bagaimana sabit dan pedang orang-orang PKI itu patah ketika mereka ayunkan dengan deras menghujam leher Si Lelaki Orang Utan. Seakan-akan tubuhnya terbuat dari baja. Lalu Si Lelaki Orang Utan itu hanya cukup berkata, “Pergilah dan jangan kembali lagi ke dusun ini!” Dan Orang-orang PKI itu tak pernah kembali lagi ke dusun itu hingga hari ini.

Namun keadaan semacam itu benar-benar membuat Si Lelaki Orang Utan tampak tak berguna. Pada hari-hari itu ia hanya bisa duduk-duduk di depan rumahnya yang reot dan hampir ambruk. Sesekali ia memandangi gadis-gadis desa yang hendak pergi ke sungai untuk keperluan mencuci dan sekalian mandi. Saat itulah Si Lelaki Orang Utan mulai mengetahui keindahan tubuh perempuan ketika diam-diam mengintip mereka yang mandi dari balik rerumputan yang tumbuh di pinggiran sungai.

Namun ketika Si Lelaki Orang Utan itu melamar dengan baik-baik kepada gadis-gadis itu, tak satupun dari mereka yang mau menerimanya. Gadis-gadis itu tidak mau memiliki lelaki yang mirip beruk katanya. Si Lelaki Orang Utan itu memang mirip dengan Orang Utan. Rahangnya besar dan maju ke depan, tubuhnya kekar dan entah kenapa tangannya tampak lebih panjang. Dan bulu-bulu di tubuhnya lebih lebat dari kebanyakan lelaki. Oleh karena itulah para gadis tidak mau dipinangnya. Beberapa mengaku lebih baik mati dari pada bersuami hewan.

Tidak lama setelah kejadian itu, mungkin hanya selang tiga atau lima hari tepatnya orang-orang tidak lagi melihat Si Lelaki Orang Utan duduk-duduk di warung kopi, memancing ikan di sungai, tiduran di gubuk milik para petani, dan tak satupun ada yang bertanya ke mana. Beberapa hanya mengira-ngira pasti ia kembali ke lubuk hutan, tempat ia berasal.

*

“Sebentar lagi kita akan memasuki hutan itu.”

“Apa kau benar-benar yakin akan ke sana?”

“Tentu saja, Pram. Kalau kau takut kau boleh pulang!”

“Bukan begitu,”

“Lalu?”

“Mungkin kita bisa memastikan lagi asal suara itu.”

“Aku sudah memastikannya sebanyak tujuh belas kali dan suara itu tidak pernah berasal dari mana-mana!”

Aku tahu Mara sedikit kesal denganku. Tapi bagaimanapun aku tidak ingin Mara pergi ke lubuk hutan itu dan membuat perjanjian dengan Si Lelaki Orang Utan. Aku tidak pernah percaya dengan kutukan atau apapun yang bersentuhan dengan klenik ataupun mitos. Aku percaya mitos hanyalah semacam dongeng-dongengan yang belum jelas keberadaannya namun sudah terlanjur diimani oleh orang-orang. Dan kali ini Mara, pacarku yang sedang melakukan studi penelitian tentang kearifan lokal di sini, sepertinya telah termakan mitos sialan itu. Aku ingin mengumpat ala orang sini: Jancuk tenan!

*

Kami tidak sengaja mendapatkan berita tentang dusun itu dari sobekan koran, yang digunakan sebagai pembungkus nasi kuning di warung kecil di samping kampus kami. Sebelum membuang bungkus itu, perhatianku tersita oleh sebuah judul berita: Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Bermalam di Sebuah Desa. Lalu aku menunjukkannya pada Mara yang sedang pusing memikirkan judul skripsinya. Dan setelah membacanya kami mendapatkan beberapa keganjilan tentang tempat itu, diantaranya penyebab kematian wisatawan yang memaksa untuk tinggal di dusun 7itu semalam saja, meski sudah diberi tahu bahwa jika penghuni kampung itu melebihi jumlah dari sembilan pasang keluarga maka selebihnya akan mati. Selama beberapa hari Mara memikirkan berita itu dan mencari sumber sebanyak-banyaknya tentang tempat itu, namun hasilnya nihil tak ada satupun artikel atau informasi yang tersebar tentang kampung itu, kecuali hanya keterangan adanya lokasi tempat itu dari Google Maps.

Akhirnya satu bulan kemudian kami pergi ke tempat itu setelah dosen penguji menyetujui judul penelitian yang diajukan Mara. Di Bungurasih kami menunggu bus jurusan kota kecil itu. Sekitar lima belas menit kami menunggu kedatangan bus kelas ekonomi tersebut. Sebagai mahasiswa kelas menengah ke bawah tentu saja kami harus pintar-pintar mengelola pengeluaran, apalagi kami juga tidak tahu harus berapa lama penelitian itu selesai. Di dalam bus kami terpaksa berdiri karena seluruh kursi penumpang penuh. Dan sialnya lagi kernet bus itu tak berhenti memasukkan penumpang meski kursinya telah habis, aku tahu orang macam itu di kepalanya hanya ada uang, dan selalu mencari cara agar hidupnya selalu untung tak peduli orang lain buntung. Sesekali bus yang kami tumpangi berhenti dipinggir jalan memasukkan penumpang, juga pengamen amatir yang cacat dan suka mengintimidasi penumpang ketika mereka tak memberinya recehan. Ketika sudah sampai kota tujuan, bus itu menurunkan kami di sebuah pertigaan. Di sana berjejer warung-warung kecil nan kumuh yang dibangun seadanya menggunakan papan-papan kayu . Beberapa orang di dalam warung itu memandangi kami dengan pandangan yang seolah-olah sedang mencurigai. Aku dan Mara berjalan ke salah satu warung dan menyerahkan potongan koran itu ke salah satu lelaki dengan perut buncit yang sedang menghisap rokok.

“Maaf, apa ada yang tahu tempat ini?” Aku menunjuk ke koran usang itu, lelaki yang membawa koran tadi menyerahkan koran itu pada lelaki yang berada di sampingnya, mereka seperti terkejut. Dan sejenak berbisik-bisik satu sama lain seakan-akan sedang merencanakan sesuatu.

“Lima puluh ribu sampai ke tempat itu, kalau berdua jadi seratus.”

Perkataan lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa itu penawaran, tetapi sebaliknya lebih mengarah ke pemaksaan. Aku menatap Mara, sebagai isyarat bagaimana? Dan ia hanya mengangguk pasrah.

“Baiklah!” Jawabku.

“Tapi kami hanya bisa mengantarkan kalian tepat di depan gapura dusun itu. Selebihnya kalian harus jalan kaki sendiri untuk ke sana.”

Jika ini di kotaku sendiri mungkin aku sudah memukul dua lelaki sialan itu, berhubung ini di kota orang dan kami tidak sedang ingin mencari masalah, kami terpaksa mengikuti alur yang mereka buat. Akhirnya dua lelaki itu mengantar kami dengan motor bebeknya. Perjalanan ke tempat itu kurang lebih memakan waktu hampir setengah jam. Dan seperti kata mereka, kami harus turun di depan gapura bertuliskan huruf yang sudah tidak jelas, tapi kami tahu maksud huruf-huruf itu tidak lain ingin menyebut: Alas Wangon.

Sore itu tak ada tanda-tanda ada kendaraan masuk ke Alas Wangon, dua lelaki tadi langsung pergi setelah kami mengeluarkan selembar uang merah yang mereka inginkan. Langit berwarna merah kelabu seperti warna kesedihan seakan-akan duka yang dalam mengendap di langit itu. Aku dan Mara terpaksa berjalan kaki menuju Alas Wangon, jalanan berbatu, di sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon Asem, Mahoni, juga Jati. Jalan itu memang seperti sebuah lorong yang mengantarkan ke dunia antah berantah. Jika tidak karena Mara aku tidak akan pernah mau pergi ke tempat aneh itu.

Di tengah perjalanan kami melihat sebuah warung kecil di kanan jalan. Sebuah warung yang terbuat dari batang-batang bambu. Sepertinya sedari pagi kami hanya makan sekali, dan dari luar kami dapat mencium aroma harum masakan. Dan tidak lama kemudian aku mendengar perutku berbunyi. Kemudian aku dan Mara saling pandang. Untuk beberapa saat saling tertawa.

“Baiklah kita istirahat dulu di warung kecil itu?” Kata Mara sambil tersenyum manis padaku. Aku tidak bisa melupakan senyumnya. Itu adalah senyum yang mirip senyum pertama ketika kami bertemu pada masa Ospek dulu.

“Pesan apa?”

“Adanya apa Pak?” Sebelum bertanya aku menyisir seluruh ruang dan tak menemukan papan bertuliskan menu makanan.

Kemudian Pak Tua itu menyebutkan seluruh menunya.

“Pecel Lele dua, minumnya es teh.” Kataku, sepertinya kami berdua ingin merasakan makanan itu di kota yang merupakan rumahnya sendiri.

Pak Tua itu hanya mengangguk lantas segera kembali ke penggorengannya. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan warung ini. Perasaanku saat itu.

“Sepertinya kalian orang luar ya?” Sambil menyiapkan pesanan kami Pak Tua itu bertanya.

“Iya,” kata Mara. “Kami akan melakukan sedikit penelitian di Alas Wangon.”

“Apa kalian tahu Alas Wangon tidak seperti kampung pada umumnya?”

Kami mengangguk, seraya menelan ludah.

“Kampung itu hanya boleh ditinggali sembilan kepala keluarga saja, jika kalian sudah menikah sebaiknya kalian pergi jika tidak ingin mati.”

“Kenapa bisa seperti itu Pak?”

“Seorang lelaki di ceruk hutan itulah yang mengerti seluruh kejadian-kejadian ganjil di kampung. Tapi sudah lama tak satupun orang kampung melihat sosoknya, sejak pengusiran PKI di tahun enam lima dulu. Meski sudah terlalu lama, orang-orang kampung itu meyakini bahwa Si Lelaki masih hidup, ia sakti, dan tak bisa mati. Dan barangkali kekal. Dialah yang membuat Alas Wangon seperti itu. Beberapa hari setelah kepergiannya ke hutan. Orang-orang kampung meninggal secara bersamaan, hanya menyisakan sembilan kepala keluarga. Dan hingga kini hanya ada sembilan kepala keluarga. Memang kata orang banyak kejadian-kejadian ganjil yang tidak masuk akal di sana.”

Pak Tua itu menceritakan banyak tentang Alas Wangon. Tentang rumah-rumah kosong, ladang jagung, ikan-ikan di waduk, dan larangan untuk memasuki hutan tempat di mana si Lelaki Orang Utan tinggal. Setelah selesai makan, kami segera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Pak Tua menyarankan kami untuk menunggu sejenak. Sebentar lagi ada tumpangan gratis. Dan benar tidak lama kemudian dari arah utara datang sebuah kereta yang di tarik oleh dua ekor sapi dan lelaki dengan capil duduk tepat di belakang dua ekor sapi sambil membawa cambuk. Itulah kendaraan yang kami tumpangi menuju Alas Wangon.

*

Di depanku Mara masih saja berjalan, kakinya yang indah tampak lincah melompat dari batu ke batu untuk menyeberangi sungai yang arusnya tidak terlalu deras, namun sepertinya cukup untuk menghanyutkan kita berdua. Di ujung sungai yang kami seberangi terdengar suara gemuruh air. Sepertinya di sana ada semacam air terjun yang tingginya barangkali lebih dari sepuluh meter.

“Apa kau yakin mau menemui lelaki itu?”

“Sudahlah, Pram. Jika kau takut tidak usah ikuti aku.”

Memang sedikit banyak aku takut, tapi aku akan tampak pengecut, banci, dan lebih perempuan dari perempuanku itu, jika aku takut dan memutuskan untuk pulang. Akhirnya kami terus berjalan melewati semak-semak, pohon-pohon jati, trembesi, mahoni, di sela-sela pohon-pohon itu kadang juga tumbuh pohon pisang. Di dekat pohon-pohon pisang itu ada petak-petak tanah yang dipenuhi rumput liar, dulunya petak-petak itu adalah ladang warga. Namun karena sudah lama tak digunakan mungkin karena pemiliknya telah mati atau keluar dari desa sehingga petak-petak ladang itu tak terawat dan lebat dipenuhi dengan rumput-rumput.

“Sebentar lagi kita akan memasuki lubuk hutan di mana si laki-laki itu tinggal.”

Tepat beberapa meter di depan kami pohon-pohon tinggi dan lebat yang entah aku tidak tahu nama dan jenisnya. Sebelum memasuki lubuk hutan, di langit, di atas hutan itu kawanan burung gagak terbang dan sesekali berkoak. Suaranya seakan-akan sedang mengantarkan kami ke dunia entah.

*

“Sepertinya cuma dia yang bisa mengendalikan setan-setan di sini. Dialah satu-satunya orang yang pernah berhubungan dengan dunia antah berantah itu. Menurut para orang tua ketika ia masih di desa tak ada yang bisa melukainya. Beberapa Orang Pintar bersaksi ada puluhan bahkan ratusan Lelembut yang melindunginya.”

“Apa kutukan dan setan-setan yang kerap mengganggu orang-orang itu juga karena ulahnya?” Tanya Mara pada Pak Salim, Kasun Alas Wangon.

“Kelihatannya seperti itu, mungkin ia merasa telah disakiti oleh para perempuan sini. Tidak ada satupun yang mau menerima cintanya waktu itu?”

“Apakah kutukan itu akan berakhir jika ada seorang perempuan yang mau menerimanya?”

“Entahlah, mungkin iya mungkin tidak.” Kata Pak Salim, sambil mengantarkan kami ke sebuah rumah yang akan kami tinggali selama sebulan melakukan penelitian.

*

Sepertinya kami sudah lebih dari dua jam berjalan kaki. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Si Lelaki Orang Utan itu. Sementara di depanku Mara masih berjalan menyibak semak, memotong sulur, menghindari duri-duri yang tajam. Dan sepertinya ada yang aneh di hutan ini. Aku melihat ke atas langit masih tampak jingga, dan kelepak burung sesekali masih terdengar. Tidak ada yang perlu dirisaukan, tak ada tanda-tanda hujan akan datang.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Mara tiba-tiba.

Aku segera melihat jam tangan digitalku. “20.45 ada apa?”

“Lihatlah ke atas!” Meskipun aku baru saja melihat langit, aku menuruti perintah Mara. Aku melirik ke atas dan Langit masih tampak jingga, tiga burung yang berwarna legam terbang melintas diatas kami. Iya langit masih berwarna jingga. Aku melirik jam tangan digitalku. 20.47

“Apa kau tahu, Pram. Kita sudah berada di jalan yang benar. Jadi tenanglah sebentar lagi kita akan bertemu dengan Si Siluman.”

*

“Barangkali jika ada perempuan yang menerima cintanya, dusun ini akan terbebas dari kutukan juga segala demit, yang kerap mengganggu orang-orang.” Begitu kata Mara pada suatu sore ketika kita berjalan menyusuri pematang di sebelah selatan dusun. Petak-petak sawah warga tidak banyak yang berisi padi, kebanyakan tidak terawat dan hanya berisi rumput-rumput liar yang meninggi hingga paha. Kami tahu semua ini karena sedikitnya warga yang tinggal di dusun. Sambil merenungi kesedihan yang seperti mengambang di atas hamparan petak-petak sawah yang dibiarkan tak terurus kami memutuskan untuk duduk di sebuak gubuk panggung yang terbuat dari bambu. Sepertinya hanya gubuk ini yang masih kokoh berdiri di sebuah petak sawah yang dipenuhi rumput.

Kami memandangi langit yang bersih di sebelah selatan. Aku melirik Mara yang duduk di sebelah kananku. Ia hanya diam saja sejak tadi, matanya berkilauan. Bibirnya merona sekali dan tampak basah. Sore itu ia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing baju di dekat leher yang keluar dari lubangnya. Dan itu membuatku bisa melihat keindahan di celah dadanya. Aku tahu Mara menyadari aku sedang melirik ke mana. Lalu benar-benar seperti mimpi, kedua tangan Mara bergerak sendiri sesuai apa yang kupikirkan sejak tadi. Jari-jari yang lentik itu secara perlahan mengeluarkan satu persatu kancing itu dari lubangnya. Kemudian ia mendorongku, rebah di gubuk bambu yang sedikit reot tapi masih kokoh.

“Sore ini aku milikmu Pram!”

*

“Kau dengar itu Pram?” Kata Mara tiba-tiba. Ia berhenti di depanku dan matanya menyisir dahan-dahan pohon yang tinggi besar itu. Di sebuah pohon kami melihat anak kera. Anak kera itu melihat kami. Kami juga melihatnya. Kemudian ia berlari. Aku dan Mara saling pandang sebentar, kemudian berlari mengikuti anak kera itu. Kami menyibak rerumput, melompati batu-batu, sambil sesekali melihat anak kera itu tanpa kesulitan melompat dari ranting ke ranting. Sialan, mungkin dia sedang tertawa melihat kami kesulitan.

“Tidak ada yang tahu jalan ke sana, keyakinanmu lah yang akan mengantarkan ke sana. Namun jika kau sudah melihat kera yang melompat-lompat di ranting. Itu tandanya kau sudah hampir dekat dengan tempat Si Siluman.” Sepertinya Mara juga masih ingat dengan ucapan seseorang yang kami jumpai sepulang dari gubuk bambu. Ia lelaki tua nan ringkih yang kerap mencari kayu bakar di hutan.

Tidak lama kemudian, setelah melewati dataran yang agak terjal, kami melihat sebuah rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu. Dan di tengah-tengahnya seperti sedang digelar sebuah pesta. Orang-orang tampak bahagia mereka membawa piring dan bergerak dari tungku satu ke tungku yang lain sambil mencicipi isi makanannya. Kami tidak pernah mendengar ada perkampungan di tengah-tengah hutan. Orang-orang Alas Wangon tak pernah sekalipun menceritakan perkampungan ini.

“Dari mana saja kalian? Ayo ikut aku kalian sudah ditunggu sejak tadi.” Perempuan Bersanggul yang entah siapa itu tiba-tiba meraih tangan Mara, dan memaksanya ikut dengan dia. Sementara aku hanya bisa berjalan di belakang perempuan itu. Melihat orang-orang yang riuh di lapangan, mereka seperti bercakap-cakap, sambil berjalan dari satu tungku ke tungku yang lain. Di tungku-tungku yang tergantung di sebuah tongkat di atas perapian itu, sepertinya berisi bermacam makanan. Lalu seseorang tiba-tiba meraih tanganku, telapak tangannya benar-benar kasar, ia memberiku sebuah piring.

“Makanlah sesukamu Bocah!” Kata Si Lelaki, aku menuruti permintaannya melihat-lihat makanan yang berada di tungku. Aku belum pernah melihat jenis makanan itu. Kebanyakan seperti slime dengan aroma yang menyengat dan benar-benar membuatku ingin muntah. Si Lelaki mengguyurkan slime itu ke piringku.

“Makanlah yang lahap sebentar lagi pesta pernikahannya akan dimulai, dan kau tak boleh mencicipi makanan ini.”

“Siapa yang akan menikah?” Tanyaku.

“Tentu saja Raja kita!”

Dan beberapa saat kemudian di podium, aku melihat lelaki dengan dada yang bidang dan besar. Kedua tangannya juga besar dan panjang, rahangnya agak menjorok ke depan. Ia mengenakan jas hitam dan dasi kupu-kupu menempel di pangkal lehernya. Di belakangnya seorang perempuan mengenakan gaun berwarna putih. Dan ketika aku melihat wajah si perempuan, aku berteriak memanggil namanya. Tapi si perempuan sama sekali tak mendengarku, sementara orang-orang itu melihat ke arahku. Mereka membungkam mulutku. Memegangi kedua tangan dan kaki.

“Diam kau Manusia, lebih baik kau kembali ke duniamu!” Itu adalah Si Lelaki yang mengguyurkan slime ke piringku. Ia membawa gada. Dan ketika ia hantamkan ke kepalaku, tubuhku tiba-tiba seperti kapas yang melayang-layang di ruang hampa.

*

Aku mencium asap rokok, ketika mataku sedikit terbuka, aku mendapati bocah itu duduk di lantai di dekat kepalaku. Ia membaca Kumara, novel S Jai. Di cover depannya yang berwarna gelap aku bisa membaca bahwa novel itu pernah memenangi Sayembara Sastra, dan ilustrasi cover itu selalu saja menggangguku, seperti seorang perempuan yang dibalut dengan kafan. Tapi sepertinya ada sesuatu yang telah kulupakan. Bocah itu terbatuk setelah menghisap rokoknya. Aku membayangkan proses difusi di paru-parunya, spiral-spiral hemoglobin itu membawa asap rokok ke rubuhnya. Bocah itu terbatuk lagi. Aku membaca judul novel itu. Kumara. Seperti ada yang telah hilang. Kumara. Ku-Ma-Ra. Kuma-Ra. Ku-Mara.

“Dos apa kau tahu Mara sekarang di mana?” Aku baru ingat Mara.

“Siapa yang kau maksud, aku baru mendengar nama itu?”

Dos atau si bocah itu memang seperti sampah, tidak pernah bisa diandalkan. Lalu aku melihat sebuah foto yang kutempel di dinding kamar. Di foto itu aku hanya berdiri sendirian di pantai, dan tanganku seperti hanya menggenggam udara.[]

—Lamongan, Februari 2019

Iklan