Cerita-cerita Telapak Tangan, Yasunari Kawabata

Setelah Haruki Murakami, penulis Jepang selanjutnya yang saya baca adalah Yasunari Kawabata. Jujur saya tidak terlalu banyak tahu tentang sastra Jepang. Yang membuat saya membaca kumpulan cerpen di Cerita-Cerita Telapak Tangan, salah satunya adalah karena Kata Pengantar yang diberikan Bernard Batubara. Bagimanapun sebuah komentar dari tokoh tentang suatu buku bagi saya sangat mempengaruhi saya untuk membacanya. Disana ia mengaku skeptis terhadap cerpen-cerpen Yasunari Kawabata. Apalagi ini adalah cerpen-cerpen pendek yang katanya muat jika di tuliskan di telapak tangan. Menurutnya sastra jepang selalu identik dengan penggambaran tempat yang berlarut-larut, sehingga mungkin itu akan membuat tempo cerita menjadi agak lambat. Cara demikian sepertinya juga pernah dilakukan oleh Haruki Murakami dalam Norwegian Wood. Cerita yang berlarut-larut dan seringkali di jejali dengan deskripsi tempat yang amat kuat. Sehinga setiap kali memebacanya kita seolah diajak ikut ke dalamnya. Melihat dan mengalami sendiri peristiwa yang sedang di gambarkan penulisnya.

Selama membaca Cerita-cerita Telapak Tangan, jujur saya sebenarnya tidak terlalu banyak mengerti apa yang ingin di sampaikan Kawabata. Namun untuk ukuran cerpen yang pendek saya rasa ia berhasil membuat saya melihat Jepang. Saya merasa penulis-penulis bagus selalu menulis tentang Negaranya sendiri seperti yang sempat dikatakan Bernard Batubara. Didalam Cerita-cerita Telapak Tangan kurang lebih, saya rasa juga seperti itu. Kawabata menulis tentang mitologi, seperti Kappa yang merupakan makhluk jadi-jadian atau kita akrab menyebutnya sebagai siluman yang hidup di air. Atau Jangkrik Lonceng, yang merupakan jangkrik penanda pergantian musim di Jepang. Dan sebenarnya masih banyak lagi.

Saya melihat Kawabata, bercerita apa adanya ia seolah memotret kejadian yang sehari-hari terjadi di Jepang. Mungkin cerpen-cerpen ini juga dapat dijadikan semacam arsip sejarah sepanjang tahun 1923 – 1972 sebagaimana saya yakin setiap cerita—meskipun itu fiksi—paling tidak ia tetap terinspirasi dari kisah-kisah kehidupan nyata. Meski saya juga yakin beberapa cerita di buat hanya untuk menghibur pembaca, atau ini semacam skill dalam tipu-menipu. Karena dalam cerita sendiri hal yang paling penting adalah membuat pembaca percaya terhadap cerita anda, maka orang-orang yang pandai dalam tipu menipu pastinya akan jago sekali dalam membuat cerita, sebagaimana pernah di katakana Dea Anugrah dalam wawancara yang dilakukan oleh Sabda Armandio. Dea menulis karena dulu ia pandai sekali dalam menipu. Kemudian jika di renungkan menipu, kurang lebih adalah membuat rekayasa dalam bercerita. Dan dalam menipu kita semua tahu, kita di tuntut untuk membuat orang percaya pada tipuan kita. Pastinya itu membutuhkan kemampuan yang harus selalu di asah. Mungkin ini ada hubungannya dengan logika bercerita, cerita dapat di terima karena ada runtun yang logis.

Beberapa hari yang lalu saya membaca jurnal Eka Kurniawan, dan paling tidak itu seperti yang saya sering alami. Tentang kemiskinan kosakata dan ensiklopedia. Sebagai penulis saya seringkali ingin tahu apa nama-nama tumbuhan yang selalu saya jumpai di setiap tempat, apa nama benda-benda elektronik, apa nama-nama setiap biji onderdil motor. Dan Eka Kurniawan pernah mengatakan dalam salah satu jurnalnya (saya lupa judulnya) bahwa untuk menutupi kekurangannya ia membeli buku semacam KBBI dan buku ensiklopedia. Untuk selama ini saya juga sering merujuk pada KBBI jika menemukan kosakata-kosakata baru yang masih asing. sementara untuk ensiklopedia sendiri rujukan saya hanya ensiklopedia online, atau Wikipedia. Saya suka penulis-penulis yang kerap membuat saya merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Dan itu akan memaksa saya untuk belajar mencari tahu lebih banyak lagi. Yasunari Kawabata, menurut saya dengan cerita-cerita pendeknya telah berhasil membuat saya mengenal dan mencium aroma Jepang. Keefektifan bercerita Kawabata tidak jarang membuat saya tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. Namun entah apapun itu namanaya Kawabata telah berhasil membuat saya membaca habis tujuh puluh cerpen di Cerita-Cerita Telapak Tangan.

—Badung, 3 Juni 2017

 

Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan

Sebelum kita bicarakan lebih jauh tentang novel ini. Mungkin sebaiknya kita bertanya dulu pada diri kita, apakah kita percaya pada buku-buku sejarah yang telah kita pelajari di bangku sekolah, bahwa itu merupakan kejadian sesungguhnya dari sebuah sejarah bangsa ini. Apa buku itu memang seratus persen benar, tidak dikurangi atau ditambah-tambahi meski sedikit saja. Lebih-lebih jika kita tahu setiap aib, bagaimanapun selalu ingin kita sembunyikan, atau lebih baik di hapus saja jika itu memungkinkan. Barangkali itu adalah sikap skeptis saya terhadap sejarah setelah membaca Cantik Itu Luka.

Pertama saya sadar, bahwa setiap buku memiliki sudut pandang masing-masing. Termasuk juga buku sejarah. Atau mungkin seperti ini, pada tahun-tahun tertentu, peristiwa di suatu tempat jelas berbeda dengan peristiwa di tempat lain. Itulah yang mungkin terjadi dengan Halimunda. Sebelumnya saya sempat penasaran dengan Halimunda, dan iseng mencarinya di Google. Namun yang saya temukan kebanyakan hanya Halimunda yang berkaitan dengan novel Cantik Itu Luka. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah novel yang memiliki setting tempat bernama Macondo, karena saya agak lupa dan hanya pernah membacanya dalam sebuah esai. Saya agak lupa dengan judul dan nama penulisnya. Yang pasti, Macondo juga merupakan sebuah tempat imajiner yang tidak benar-benar ada dalam dunia nyata. Mungkin Halimunda juga seperti itu.

Terakhir saya lebih suka menyebutnya bahwa ini merupakan cerita tentang tragedi di suatu tempat bernama Halimunda. Sejak post kolonialisme hingga nusantara telah memproklamirkan kemerdekaan. Kita akan merasakan bagaimana suatu sejarah masa kolonialisme Belanda di Halimunda, masa kolonialimse jepang, dan sejarah-sejarah kelam Indonesia yang terjadi di suatu tempat. Menurut saya novel ini memiliki latar belakang cerita yang sangat kuat. Pada satu sisi saya percaya novel ini merupakan fiksi semata namun di sisi yang lain saya seakan dituntut percaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi di suatu tempat dan masa tertentu. Dan saya yakin, ketka kita dengan jujur menyebutkan jumlah suatu bilangan atau nama tempat, itu akan membuat orang percaya tentang cerita kita. Sebagaimana kita berkata jujur, kita akan menyebut apapun dengan ringan dan tentunya tidak membuat orang curiga dengan perkataan kita. Sebaliknya ketika berbohong apa yang kita katakana kerap menutup-nutupi dan tidak mengandung kejelasan sama sekali. Selanjutnya, Saya kerap menghela napas takjub karena logika cerita yang dibuat sangat kuat. Di novel ini Eka Kurniawan seolah sedang membuat sejarah lengkap tentang Indonesia di mata Halimunda.

Dalam salah satu jurnalnya, Eka Kurniawan pernah mengatakan bahwa keseluruhan novel ini dibangun atas deskripsi, adegan, dan sedikit dialog. Dan disini dialog hanya berfungsi sebagai humor, ironi, atau punch-line—katanya sendiri—dan itu benar adanya. Novel ini dibangun dari sebagian besar narasi dari pada dialog sebagaiman planet kita ini disusun dari sebagian besar lautan dari pada daratan. Entah kenapa narasi Eka benar-benar menyenangkan dan kerap diselipi humor yang pas, dan tidak berlebihan. Kalimat-kalimatnya benar-benar tampak elegan dan sama sekali tidak berlebihan. Entah bagaimana, saya merasa Eka benar-benar menyajikan kalimat yang tidak membuat mual pembaca.

Saya sebenarnya tertarik dengan cerita bahwa novel Cantik Itu Luka pernah mengalami penolakan berkali-kali dari beberapa penerbit. Namun Eka Kurniawan yakin, cepat atau lambat novelnya akan menemukan penerbit. Jika tidak salah, sebelumnya novel ini berjudul O, Anjing. Saya agak-agak lupa. Saat itu Eka sendiri mendapat pesan dari seorang editor bahwa kurang lebih novel yang baik adalah novel yang serupa novelnya Kuntowijoyo atau Mangunwijaya, kurang lebih seperti itu.

Disini saya tidak mau bercerita dengan detail isi novel ini sebagaimana seorang dalang pewayangan. Namun setelah membaca novel setebal 479 halaman ini saya seolah telah belajar banyak tentang sejarah, filsafat, mitologi, cerita sureal, pemberontakan, hal-hal gaib, pemikiran yang menyimpang, hidup yang gelap, dan tentu saja teknik-teknik menulis yang baru. Bagaimana cara menculik tokoh dan menyeretnya dalam cerita yang baru. Dan bagaimana menulis cerita dengan main-main namun membuat orang percaya. Terakhir, saya baru mengerti kau bisa melakukan apapun yang kau suka dalam cerita yang sedang kau tulis.

Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon, Eko Triono

Setiap kata yang kita dengar atau baca secara tidak langsung akan merepresentasikan apa yang kita mengerti dari kata itu sendiri. Mungkin ini agak membingungkan, tapi seperti itulah kenyataannya. Setiap kali membaca secara tidak sadar ada dua kegiatan yang berlangsung bersamaan dalam diri kita. Pertama perhatian kita pada kata-kata dalam buku, yang kedua proses visualisasi didalam kepala kita. Barangkali ini seperti output dari hasil bacaan itu. Tentu saja dua proses ini seringkali gagal, itu jika fokus membaca kita tidak kemana-mana. Pikiran kita tidak sedang berjalan kemana-mana, ke pesar, ke rumah pacar atau ke perkara rumit yang memusingkan kepala.

Mungkin seperti itulah Eko Triono dalam buku kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi PohonPohon, ini.ia menunjukkan kepiawaiannya dalam bercerita. Sesekali ia menembus batas nalar kita, menghancurkan cerita realisme dan melompat dalam cerita surealisme. Seperti dalam cerpen Antonie Gusteau Ditemukan dalam Mimpi Seorang Baghdad,cerpen ini mengisahkan tentang Antonie yang mencoba mengendalikan mimpinya. Seseorang yang berusaha mempelajari mimpi dan ingin mengendalikan mimpi sebagaimana kehendaknya. Di dalam mimpinya ia bisa melompat kemana-mana ia suka, sebelum akhirnya sesorang menantangnya melakukan sesuatu didalam mimpinya. Cerita yang sama diulanginya dalam Bunga Luar Angkasa, yang mengisahkan tentang seorang kakek yang bekerja sama dengan Alien. Meski terdengar aneh namun Eko Triono mampu membangun logika cerita yang apik. Dan membuat kita bisa menerima apa yang dikatakan. Meski dalam beberapa cerita ia tampak seperti tergesa-gesa dan terlalu melipir kemana-mana. Sehingga rasanya saya seperti terseret arus yang sangat deras dan tidak bisa memahami apa yang sedang ia tunjukkan. Atau kemungkinan kedua karena ketololan saya dan kemiskinan kosakata saya sehingga saya kerap tertinggal narator. Itu boleh jadi.

Sebagaimana kata Tia Setiadi dalam Kata Pengantar buku, Eko Triono digadang-gadang sebagai penulis yang tidak menutup kemungkinan menyamai Eka Kurniawan—jujur saya sangat iri—tapi setelah membaca keseluruhan cerpennya. Saya menemukan aroma itu. Eka Kurniawan sering berbicara tentang teknik menulis, sebuah cerita menjadi menarik karena teknik dalam menulisnya. Dea Anugrah juga sempat mengatakan, ini tentang hitung-hitungan sebuah cerita lebih efektif dituliskan dengan cara apa. Mungkin seperti itulah ragam cerpen Eko Triono di buku Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? Eko mencoba menghadirkan berbagai macam teknik bercerita yang kerap membuat saya senang sekaligus dibuatnya tampak tolol.

Dan kedua, dialog dalam cerita ini sangat kuat dan seringkali tampak filosofis. Tidak jarang ia juga mengangkant ironi sosial seperti yang ia tunjukkan dalam cerpen Ikan Kaleng. Terakhir Eko Triono telah menunjukkan pada saya bahwa dunia itu tidak sesempit kotaku. Dan kata siapa menulis itu perkara mudah. Maka jangan kau perbanyak tidur melulu bocah!

Fantastic Beasts and Where to Find Them, J.K. Rowling

 

fantastic-beasts-and-where-to-find-them-movie-poster-homepage-size

Semenjak saya menyukai novel dan cerita-cerita pendek saya seolah menjadi semakin kritis terhadap film-film yang saya tonton, saya melihat bagaimana konflik itu muncul. Bagaiamana film itu membuat penasaran penontonnya. Dan banyak lagi. Sebagaimana Bernard Batubara pernah merekomendasikan cara efektif membuat cerita adalah dengan cara menonton film.

Maka disini saya akan berusaha mengulas setiap film yang saya tonton dan mencoba mengaitkannya dengan sastra, khususnya cerpen dan novel. Saya menganggap mereka tidak jauh berbeda, pada dasarnya mereka masih suka berbicara tentang kreatifitas dalam bercerita. Baiklah, ini adalah tentang J.K Rowling. Siapa yang tidak mengenal J.K Rowling dan Harry Potter-nya. Jujur saya sudah mendengar lama namanya, namun sekalipun belum pernah menonton film Harry Potter-nya hingga selesai. Apalagi membaca buku-bukunya, mungkin selanjutnya saya harus benyak membacanya. Sebagaimana Bernard Batubara mulai menulis karena pengaruh darinya. Ini juga juga boleh dibilang perkenalan pertama saya dengannya. Melalui sebuah film yang saya ulas ini.

Fantastic Beasts and Where to Find Them, dimulai dengan prolog sebuah isu dunia sihir yang dimuat di koran-koran. Dan sebuah kejadian aneh di kastil yang di selimuti kabut. Mungkin cerita yang bagus paling tidak harus seperti ini, saya menganggap ini sebagai pondasi cerita sekaligus pemicu rasa penasaran penonton untuk tetap mengikuti cerita dari awal hingga akhir. Atau ini juga merupakan PR besar dari seorang pencerita, membuat rasa penasaran yang meluap-luap di dada para pembaca sekaligus menimbulkan pertanyaan di kepala meraka, apa yang akan terjadi?

Kemudian cerita kembali ke tempo yang normal dan datar-datar saja seolah kendaraan yang kita tumpangi menurunkan kecepatannya setelah tadi menancap gas terlalu kencang. Dari sinilah semua berawal, ketika seorang lelaki Inggris datang ke New York membawa sebuah koper. Dan seorang pemeriksa koper di pelabuhan memeriksanya. Disini J.K Rowling tampak ingin mempermainkan rasa ingin tahu penontonnya dengan membuat keganjilan berada di koper yang di bawa oleh tuan Scamander, lelaki Inggris itu.

Dan benar sepertinya cerita berporos pada koper yang dibawa tuan Scamander itu. Ini adalah cerita fantasi atau juga bisa disebut cerita surealis. Sebagaimana kita tahu J.K Rowling adalah master di cerita fantasi. Imajinasi yang kuat dan luar biasa. Di koper itu berbagai hewan sihir hidup dan tinggal. Manusia bisa masuk kedalamnya dan melihat kebun binatang yang serupa dengan luas dunia lengkap dengan, padang rumput, pegunungan, daerah bersalju, goa, langit mendung, seperti itulah. Dan pada suatu hari koper itu tertukar dengan koper tuan Kowalski, yang merupakan orang No-Maj dan tidak tahu sedikitpun tentang sihir. Cerita menemui ketegangan lagi ketika tuan Kowalski dengan ketidak-tahuannya membuka koper itu. Berbagai hewan sihir keluar dan membuat kekacauan-kekacauan. Tentunya cerita tidak sesederhana itu. Dan saya juga tidak akan bercerita terlalu detail disini.

J.K Rowling masih menyelipkan kisah cinta dalam cerita, cinta yang malu-malu namun tampak menarik antara tuan Scamander dan perempuan yang bekerja dalam Agen Rahasia Federasi Sihir. Didalam cerita.yang terlalu rumit J.K Rowling masih menyelipkan cerita cinta, luar biasa. Dialog yang digunakan juga dialog yang sangat berbobot dan filosofis. Dan mungkin yang paling penting disini saya mendapatkan teknik memunculkan tokoh baru ditengah-tengah cerita, seperti yang dilakukan J.K Rowling di film ini. Yakni dengan cara tokoh lain memuculkan tokoh baru yang dulu pernah ia kenal. Saya baru sadar, dalam sebuah cerita, sebuah tokoh mempunyai masa lalu dan masa depan, kapasitas pengetahuan yang selalu tidak di ketahui oleh tokoh lain. Termasuk pembaca, sehingga jika memunculkan tokoh baru dari tokoh lama. Rasanya kita seperti melakukan hal lazim yang bisa diterima dengan nalar. Dan satu lagi pencerita tidak merasa terintimidasi dosa dalam bercerita karena menentang larangan-larangan dalam bercerita. 

Kambing & Hujan, Mahfud Ikhwan

Resolusi membaca saya tahun ini adalah buku-buku yang memenangkan penghargaan. Salah satunya buku yang memenangkan Sayembara Menulis Novel DKJ. Atau jika ada buku bagus lain yang merupakan rekomendasi dari penulis-penulis besar, saya tidak keberatan untuk membacanya.

Kebetulan sekali Kambing & Hujan novel pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2014, saya dapatkan dengan cuma-cuma. Buku itu nangkring di Perpustakaan Umum Kabupaten Lamongan, disertai dengan tanda tangan penulisnya juga. Tentu saja itu rasanya seperti permen nano nano. Hehe

Maaf kebiasaan buruk saya terbawa lagi, suka melipir kemana-mana. Baiklah mari kita bicarakan seperti apa novel pemenang sayembara itu. Apakah memang benar-benar bagus dan enak dibaca. Setelah saya membaca habis novel ini. Menurut saya tidak hanya itu saja. Mungkin itu seperti makanan yang tidak membuat kita  enek saat kita sedang memakannya. Dan rasanya ingin membaca lagi dan membaca lagi.

Dan Brown juga pernah memikirkan bagaimana membuat para pembaca tidak pernah bosan membaca sebuah buku. Dan sepertinya di novel Kambing & Hujan ini saya seperti merasakan tidak mau berhenti membaca buku ini. Sejak awal saya rasa Mahfud Ikhwan sudah berhasil menyelipkan penasaran di kepala para pembacanya, termasuk saya.

Novel ini menurut saya mempunyai Point of View (POV) yang unik. Pertama ini di kisahkan oleh orang ketiga yang sok tahu dan tidak terjun dalam cerita itu sendiri. Selanjutnya setelah agak lebih dalam kita akan menemukan tokoh di dalam novel ini berubah menjadi narator. Pada awalnya saya mengira novel ini serupa novel Saman yang memiliki lebih dari satu POV namun dalam novel Ayu Utami itu, yang menjadi narator adalah tokoh-tokohnya sendiri. Sementara disini tidak. Mugkin ini yang di maksud novel adalah seni, tidak ada batasan didalamnya.

Seperti yang saya sebut tadi, novel ini sangat bergizi. Cerita-cerita di dalamnya bermula ketika Mif anak dari imam besar masjid utara yang merupakan Islam Modern menyatakan keinginannya untuk menikah dengan perempuan idamannya, Fauzia anak dari imam besar masjid selatan yang merupakan Islam Tradisional. Dimana nanti keduanya akan memperjuangkan cinta ditengah perbedaan dua organisasi besar yang menyimpan masalalu yang suram. Namun keduanya tetap saling berjuang meski jalan yang dilalui mereka tampak buntu. Akhirnya mereka mau tidak mau harus mengurai benang kusut itu untuk menemukan harapan yang sedang mereka perjuangkan.

Selanjutnya kita akan dibawa berjalan kesana kemari dan seolah disuguhi cerita yang di pecah-pecah. Itu seperti kita di ajak menuju kota, namun di setiap perjalanannya kita di ajak berhenti sejenak, bahkan tidak jarang kita juga akan diajak berbelok, menyimpang, memutar, sehingga cerita yang seharusnya pendek akan memanjang. Namun tetap menyenangkan. Di sini saya seolah melihat Mahfud Ikhwan sebagai pemandu wisata yang menyenangkan.

Novel ini sebenarnya sangat serius, menyangkut perbedaan pandangan antara dua organisasi besar Islam di Indonesia. Yang diseret ke sebuah perkampungan kecil bernama Tegal Centong. Disinilah keseluruhan cerita berlangsung, kita akan menemukan kearifan lokal Jawa Timur-an khususnya Lamongan-Tuban.

Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono

Saya teringat guru saya yang sudah tampak tua dari raut wajah hingga warna rambutnya. Ketika mengajar atau sedang memberikan perkuliahan, mereka lebih condong pada nafsunya untuk bercerita. Mereka seolah menjadi dalang yang tahu segala cerita. Tahu segala hal tentang nilai-nilai hidup dan agama. Tentang sejarah dan semacamnya, termasuk perbedaan dulu dan sekarang.

Seperti itulah naluri bercerita orang tua. Mungkin ketika kita tua nanti kita akan lebih senang bercerita ketimbang memikirkan hal-hal rumit terkait pemerintahan, kasus politik, kapitalisme, neo liberalisme dan semacamnya yang sangat teoritis itu. Dan jika terlalu lama di bicarakan, perkara-perkara rumit itu, tidak menutup kemungkinan akan membuat rambut kita rontok. Maaf agak menyimpang mungkin ini dampak dari membaca novel Hujan Bulan Juni.

Ketika novel ini terbit Kakek Sapardi Djoko Damono sudah berumur 75 tahun. Bayangkan, dan sekarang ketika saya menulis tulisan ini Kakek Sapardi, sudah berusia 77 tahun, dan tujuh bukunya yang belum saya baca baru saja terbit. Sebelumnya saya ucapkan selamat ya kakek, kembali berjumpa pada angka yang sama lagi—menyontek ucapan selamat @katakerja. Dan selamat untuk tujuh buku barunya. Semoga kelak saya bisa membacanya. Amiin.

Sebenarnya Hujan Bulan Juni, adalah sebuah puisi, tentu saja kalian sudah tahu ini. Namun di buku ini, puisi itu di ubah menjadi novel. Dari awal saya tertarik dengan buku ini karena saya ingin tahu bagaiamana menovelkan sebuah puisi, namun ketika awal-awal membacanya saya mendapatkan lebih. Beberapa kalimat di buku ini serupa larik-larik puisi yang dinarasikan. Sehingga saya menganggapnya memuisikan novel. Kalimat yang paling saya ingat adalah:

…menatap mata Pingkan yang selalu dibayangkannya sebagai sepasang jendela yang kalau sedang terbuka sering menampakkan sapuan warna perbukitan ketika cahaya pertama muncul. (Hlm. 10)

Dan sebagaimana orang tua yang suka bercerita ngalor-ngidul tentunya di dalam cerita-cerita itu, jika kita jeli. Kita akan menangkap pesan-pesan penting terkait nilai kehidupan. Begitulah kakek Sapardi berkelakar dan saya harus menyimaknya sebagai pendengar yang baik, dan sesekali merenungi apa yang ia sampaikan. Agar kakek tidak kecewa dan marah pada saya he…he….

Sebenarnya tidak hanya itu saja di novel yang saya katakan tipis ini banyak sekali percikan-percikan berharga seperti tentang sejarah jawa. Dan kebudayaan antara jawa dan manado. Dan Perkara-perkara yang bersangkutan dengan dua daerah itu.

Sebetulnya novel ini menceritakan tentang kisah cinta Sarwono dengan Pingkan. Sarwono adalah orang Jawa asli sementara Pingkan adalah orang Manado yang juga memiliki darah keturunan Jawa. Mungkin seperti itu, maaf saya agak kesulitan menangkap arus cerita dalam novel ini. Cerita ini di tuturkan oleh narator yang serba tahu, atau seperti Tuhan ia bisa tahu segala hal, termasuk apa-apa yang ada didalam kepala setiap tokohnya. Sehingga cara berkelakarnya seperti berlarian kesana kemari. Cara berpindah yang terkadang tidak saya sadari. Itulah yang mungkin membuat saya agak keteran mengikuti cerita ini.

Namun tetap menarik untuk di ikuti, masalah mulai muncul ketika Pingkan jadi berangkat ke Jepang dan bertemu dengan Katsuo. Saat itulah cerita seolah semakin menarik untuk disimak. Dan tentunya disini saya tidak akan menceritakan, bagaiamana keseluruhan novel Hujan Bulan Juni ini.

Orang Aneh, Albert Camus

wp-image-36509716jpg.jpg

Setelah mendengar kabar kematian ibunya, Mersault lantas meminta cuti pada majikannya dan segera pergi ke panti jompo, tempat dimana ibunya tinggal selama ini.

Begitulah novel ini dibuka. Pada awalnya saya merasa novel ini akan melelahkan. Sebab menurut saya novel ini menganut hukum show ketimbang tell. Diawal-awal Albert Camus memang tampak bekerja keras dan berusaha menunjukkan prosesi pemakaman ibunya secara detail dengan menunjukkan hal-hal kecil yang ia peroleh dari kelima indranya atau beberapa orang menyebutnya dengan istilah deskripsi lima indra. Menurut A.S. Laksana hal itu merupakan usaha penulis untuk membuat pembaca seoalah bisa merasakan dengan nyata apa yang sedang di alami penulis dalam dunia rekaannya, atau dunia cerita yang sedang ia buat.

Novel ini dituturkan dari mulut Mersault, orang pertama yang sok tahu. Setidaknya saya bisa belajar cara bertutur cerita dari sudut pandang aku, apa saja yang boleh dikatakan dan tidak boleh dikatakan. Dan sekedar prasangka ternyata boleh-boleh saja. Sejak awal saya sebenarnya mempunyai rasa penasaran yang berlebihan tentang penulis satu ini. Penulis ini juga telah mempengaruhi tulisan-tulisaan Sabda Armandio. Ketika saya mencari informasi lebih banyak tentang Albert Camus, ia adalah seorang penulis bergenre absurditas. Rasanya saya setuju jika dia telah membuat tulisan-tulisan Sabda Armandio berkuasa membuat saya terpingkal disana sini sambil memujanya sebagai penulis yang wajib saya curi ilmu-ilmunya. Namun dalam novel satu ini aroma absurditas itu hanya nampak sedikit saja, bahkan dibagian kedua, Albert Camus tampak filosofis sekali.dan hanya sesekali saja ia sempat membuat saya tertawa.

Sebenarnya novel ini memang memiliki dua bagian. Pertama adalah bagian yang menceritakan tentang kematian ibunya dan hari-hari biasa yang terjadi setelah ibunya meninggal. Hari-hari itu adalah masa berkabung Mersault atas meninggalnya ibunya. Namun masa-masa barkabung itu tak membuatnya bersedih. Ia malah bisa ke pantai bersama Marie pacarnya dan sesekali bersenang-senang dengan pacarnya itu. Bagian pertama ini di akhiri dengan adegan pembunuhan yang dilakukan Mersault pada orang Arab dengan menembakkan lima butir peluru pada orang arab itu. Yang kemudian segala masalah dan klimaks cerita akan diselesaikan dalam bagian kedua cerita.

Dibagian kedua ini saya seolah melihat Albert Camus menjadi seperti orang tua yang membenci tawa dan omong kosong. Ia tampak seperti seorang yang selalu serius. Dan benar memang dibagian kedua ini. Mersault telah dimasukkan sel dan sedang menunggu persidangan kasus kriminalnya. Ketika didalam penjara inilah, Albert Camus berbicara tentang perkara-perkara serius yang membuat saya merenung. Ia berbicara melalu psikoligi seorang Mersault yang sedang berada di dalam sel. Ia mengoceh kemana-mana, mengoceh tentang kebebasan yang dirampas dan akhirnya ia mengatakan, “perasaan kekurangan atau kehilangan adalah bagian dari hukuman.”

Saya tidak akan menjelaskan secara detail ceritanya bagaimana. Namun di bagian kedua ini barangkali adalah klimaks dari cerita ini. Albert Camus berbicara serius tentang kematian, juga psikologi orang akan meninggal. Dan ia juga berusaha membuat kematian itu sebagai perkara yang tidak perlu dibesar-besarkan atau membuat kematian memang suatu yang biasa terjadi. Inilah yang ia ucapkan:

Dalam arti yang luas, dapat kupahami cuma terdapat perbedaan kecil, apakah seseorang akan mati pada umur 30, 60 atau 100 tahun, karena ada orang-orang lain—perempuan dan laki-laki yang akan terus hidup dan dunia akan berputar pula seperti semula. Dan mati—tak dapat dipungkiri—akan tetap terjadi juga. Terserah apakah kau akan mati sekarang atau 40 tahun yang akan datang. (Hlm 101)

Seolah-olah ia ingin menunjukkan bahwa kematian adalah hal yang wajar untuk setiap yang hidup. Dan mungkin ia juga ingin menghapus ketakutan akan kematian itu. Namun ketakutan akan kematian itu benar-benar tidak mudah untuk ditiadakan, seolah mirip api yang tidak bisa kau padamkan meski berkali-kali kau siram dengan air. Tidak hanya itu saja di beberapa kesempatan Albert Camus juga berbicara tentang kesadaran yang diyakini oleh seorang ateis, yakni tidak memiliki kesadaran akan adanya dosa.

Untuk catatan saja, sebenarnya saya membaca sastra luar, karena saya ingin menemukan cerita apa yang terjadi di luar negara saya. Dan budaya seperti apa yang ada disana. Pertanyaan-pertanyaan itulah barangkali yang menyesaki kepala saya dari awal hingga akhir. Dan tentu saja sambil bermaksud mencuri-curi teknik menulis mereka. Dibeberapa kesempatan saya juga mencatat apa-apa yang tidak saya ketahui semisal: pohon sipres, bunga geranium, anjing keturunan spaniel, rumput purun, topi felt, wanita moor, pisau guillotine, topi panama dan lain-lain. Menurut saya hal-hal kecil itu juga termasuk budaya. Seperti budaya membuang sampah sembarangan di negara kita.