berlin proposal, Afrizal Malna

Puisi yang ditulis ketika Bahasa kehilangan representasinya sebagai bahasa atau alat untuk menggambarkan sesuatu, seperti apa bentuknya? berlin proposal buku kumpulan puisi Afrizal Malna ini ditulis dalam kondisi seperti itu. Ketika ia tak lagi menemukan makna yang mampu di ungkap bahasa.

Dalam catatan moabit dalam buku ini ia sendiri mengatakan: Tubuh saya ada disini. Makna juga ada di sini. Tetapi bahasa yang saya gunakan tidak ada di sini. Ada jendela dari reaksi neurotik yang terbuka … Sebenarnya catatan moabit tak ubahnya sebuah Kata Pengantar dalam sebuah buku. Dalam catatan itu menerangkan bahwa buku puisi ini ditulis Malna ketika ia sedang menghadapi konflik yang terjadi dalam dirinya. Bahasa Indonesia yang biasa ia gunakan dalam mengungkap apapun tiba-tiba kehilangan kesaktiannya, lumpuh dan tak mampu berbuat apa-apa lagi ketika ia sedang berada di Berlin. Saat ia sedang mengikuti artis residen dari DAAD di Berlin selama 1 bulan (2012), dilanjutkan selama 1 tahun (2014 – 2015).

Sebenarnya beberapa tahun yang lalu—entah satu atau dua tahun yang lalu—saya telah selesai membaca buku puisi ini. Menurut saya mengulang pembacaan buku yang sudah selesai dibaca tidak jauh beda dengan memutar ulang film yang telah selesai ditonton. Tentu saja tidak menarik, kita sudah mengenal tokoh-tokohnya, alur cerita, setting, konflik, lalu apa yang kita peroleh kecuali kebosanan dan hanya membuang-buang waktu. Kurang lebih seperti itulah yang saya pikirkan sebelumnya. Namun setelah saya melakukannya di beberapa buku ternyata saya salah besar. Mengulang bacaan bukanlah kesia-siaan.

Di satu titik saya menyadari sebagaimana, kodrat manusia berawal dari kebodohan, tidak tahu apa-apa, dan senantiasa terus belajar untuk mencari tahu. Selama jeda dua tahun ketika pertama kali membaca berlin proposal. Saya mencoba untuk terus membaca dan mencari tahu, memperkaya khazanah bacaan saya istilah kerennya barangkali seperti itu. Di pembacaan kedua saya seperti menemukan banyak yang telah terlewatkan di pembacaan yang pertama. Pandangan saya tentang puisi juga semakin kompleks, meski sebenarnya hingga sekarang saya masih belum tahu makna konkrit dari sebuah puisi. Mungkin sebagaimana Orhan Pamuk, saya hanya menyukai harum buku, gambar sampul, larik-larik tulisan, melihat indahnya dunia di dalam tulisan, dan entah secara sadar atau tidak sadar membuat saya terpancing untuk menulis juga.

Dulu Afrizal Malna tak ubahnya seperti Mario F Lawi di kepala saya, orang yang membuat saya bingung tentang puisi. Namun seiring saya terus membaca dan mencoba menulis puisi, pandangan saya terhadap puisi, dan bagaiamana puisi yang bagus dan memiliki gaya pembaharu atau mungkin karakter yang kuat, adalah kau harus menjadi seperti Mario F Lawi atau Afrizal Malna. Untuk sementara atau batasan pengetahuan saya hanya sebatas mereka. Afrizal Malna dan Mario F Lawi di dalam puisi-puisinya seperti menyuguhkan dunia baru yang benar-benar asing namun tetap menyenangkan untuk dinikmati.

Sebenarnya persoalan terakhir inilah yang membuat saya membaca ulang buku berlin proposal disamping status saya sebagai mahasiswa yang serba kekurangan uang untuk membeli buku bacaan. Akhirnya saya memutuskan untuk membacanya ulang, saya mencoba masuk, dan menyelam di dalamnya sembari menikmati berjuta rasa yang disuguhkan Malna di dalam puisi-puisinya. Dan saya rasa telah berhasil melakukannya. Sedikit bocoran di dalam berlin proposal, Malna seperti sedang bereksperimen tentang bentuk, metafor, frase, kosakata dan macam-macam lainnya tentang puisi yang umum dituliskan orang-orang. Malna seperti ingin menemukan yang baru, melompati hal-hal yang wajar untuk menuju kewajaran yang baru. Barangkali seperti itulah yang telah dilakukan Afrizal Malna dalam berlin proposal. Atau ini hanya semacam ketololan saya yang mencoba mengulas sebuah buku puisi.

Iklan

24 Jam Bersama Gaspar, Sabda Armandio

Apa motif seseorang untuk berbuat jahat? Atau apa bedanya jahat dan baik? Dalam novel 24 Jam Bersama Gaspar ini kau mungkin akan menemukan jawabannya, paling tidak kau akan mengerti seperti apa cara berbuat jahat yang keren dan membuatmu tetap terhormat sekalipun kau selalu berbuat jahat.

Setelah membaca habis seluruh cerpen Sabda Armandio di webnya, Agraria saya benar-benar merasa saya belum apa-apa. Sabda Armandio seperti menunjukkan kepada saya sebuah cerpen kontemporer yang keren, fresh, dan tidak ketinggalan zaman. Ia seperti menyuguhkan sebuah inovasi baru dari pelbagai warna-warni cerpen. Ketika membaca cerpen-cerpennya, saya semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan penulis ini. Memang selalu seperti ini, kebiasaan saya ingin tahu banyak tentang kehidupan penulis selalu muncul setelah saya membaca sekaligus meyakini bahwa ini benar-benar tulisan yang bagus. Tapi kali ini saya patut kecewa karena biografi tentang Sabda Armandio tidak terlalu banyak dipaparkan di dunia maya. Namun tulisan-tulisan tentangnya, dan beberapa wawancara yang dilakukan segelintir orang tentang dia rasanya cukup untuk meyakinkanmu bahwa penulis ini bukanlah pseudofiksi. Seperti yang ia lakukan pada Arthur Harahap. Di Cerpen-Cerpennya kalian akan menemukan humor-humor yang cerdas, terkesan main-main namun kerap membuat kita merenung, cara memvisualisasikan adegannya terkesan kuat dan kita akan dengan mudah membayangkan adegan-adegan tersebut sekaligus dengan mudah juga mencerna alur ceritanya, meski Sabda membuatnya lain dari kebanyakan alur cerita yang biasa kita temui di cerpen-cerpen yang kerap dimuat di media cetak nasional atau online. Bernard Batubara pernah mengatakan bahwa kualitas dari cerpen-cerpen ini benar-benar diatas rata-rata. Rasanya saya setuju dengan yang dikatakan Bang Bara, meski saya tidak mengetahui banyak tentang sastra saya merasakan cerpen-cerpen Sabda punya karakter sendiri. Disini ia seolah meramu dan melatih teknik-teknik menulis yang ia dapatkan dari berbagai sumber. Dan kadang-kadang ia juga bereksperimen dengan gaya baru, entah saya tidak tahu usahanya berhasil atau tidak, tapi ketika membacanya saya merasa senang saja. Disana kau akan menemukan hantu sebagai narator, dua sudut pandang dalam satu cerita, kisah horror kontemporer yang keren sekaligus menakutkan, dialog-dialog yang cerdas yang kerap membuat kita merenung. Salah satunya di cerpen Hujan Katak kau akan menemukan topik pembicaraan tentang Tuhan. Salah satunya yakni, “Tuhan yang menciptakan waktu, atau waktu yang menciptakan Tuhan.” 

Baiklah disini saya akan berusaha mengomel sedikit tentang novel kedua Sabda Armandio ini. Novel ini dibuka oleh sebuah Pengantar dari Arthur Harahap. Jika kau membaca cerpen-cerpennya di web, kau tidak akan asing dengan nama itu. Sabda menyebutkan bahwa Arthur adalah seorang penulis hebat yang selalu melatih ilmu kepenulisannya, kau juga mungkin pernah menjumpainya di jalan saat sedang berjalan-jalan, duduk di sampingnya saat sedang naik bus, entah ini benar atau tidak rasanya Sabda Armandio telah berhasil memainkan rasa penasaran kita, ia seolah ingin mempermainkan keseriusan orang-orang. Atau sekaligus menertawakan dan membuat orang-orang yang selalu menyikapi sesuatu dengan serius tampak tolol, jika memang benar Arthur Harahap adalah adalah sebuah pseudofiksi, kali ini hanya Allah dan Ia saja yang tahu kebenarannya. Sabda Armandio penulis kelahiran 1991 ini seperti telah memberikan warna baru di dunia sastra yang dulunya kebanyakan wajah sastra Indonesia hanya berada di sekitar adat dan budaya masa lalu, pembunuhan massal PKI, kolonialisme, dan semacamnya. Di novel 24 Jam Bersama Gaspar kau akan menemukan sebuah novel yang tidak hanya melulu mengangkat adat sebagai alternatif latar dari keseluruhan cerita. Ia seperti membuat dunia sendiri, kekikinian, namun tetap tidak meninggalkan kearifan lokal tanah air kita. Disini kau masih bisa menemukan warung pecel lele, toko emas, dan suara adzan subuh. Seperti itulah Indonesia kita.

Di novel ini kau akan menemukan dua alur cerita. Pertama sebuah percakapan antara Polisi dengan Mantan Dokter yang membicarakan tentang kasus kematian sesorang. Kedua adalah cerita yang dipaparkan melalui sudut pandang Gaspar. Gaspar sendiri menurut saya adalah seorang narator yang dianugerahi kekuatan jahat yang melimpah ruah. Dan ketika menjadi narator, kita akan segera tahu bagaimana psikologi orang jahat. Sebagaimana niat jahat Gaspar untuk mencuri kotak hitam di toko emas Wan Ali. Wan Ali sendiri adalah orang yang memiliki motif jahat karena alasan untuk kebaikan. Sudah berapa kali kita sendiri melakukannya, berbohong demi kebaikan, mencuri obat karena untuk untuk menyembuhkan orang di rumah. Seperti inilah manusia selalu lihai berlindung diantara alasan-alasan baik. Sebagaimana kita tahu sekarang ini banyak sekali dasar-dasar dalam ayat suci yang diambil sebagian saja untuk membenarkan kepentingan oknum-oknum tertentu. Dan hal inilah barangkali yang membuat Gaspar lahir di dunia. Ia menunjukkan pada kita cara berbuat jahat yang membuatmu tetap dihormati meski engkau adalah manusia yang jahat. Sebagaimana katanya, kalo jahat ya jahat saja, kalo baik ya baik saja. Saya yakin Gaspar benci sekali pada orang-orang jahat yang berlindung di balik pembenaran-pembenaran yang membuat perbuatan jahatnya menjadi baik dan bisa dimaafkan.

Selanjutnya saya tidak akan berbicara banyak tentang keseluruhan cerita, lebih baik baca sendiri novelnya dan silakan menjadi medioker yang banyak omong layaknya seorang kritikus ulung.

Pengemis, Naguib Mahfouz

Naguib Mahfouz, adalah penulis kelahiran Gamaliya, Mesir. Ia meraih penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1988. Pertama kali saya mendegar namanya adalah dari ulasan di blog Bernard Batubara tentang bukunya, The Thief and The Dogs. Sebuah ulasan menarik sehingga membuat saya menandai namanya. Hingga pada suatu hari yang entah kebetulan atau sudah direncanakan Tuhan yang Maha Esa. Di sebuah perpustakaan kota Lamongan, yang tidak begitu besar juga tidak begitu kecil mungkin sedang-sedang saja—tapi bagaimanapun saya sangat mencintainya. Nama Naguib Mahfouz saya temukan di selipan buku-buku tua di rak paling bawah dan barangkali hampir jarang manusia mau membacanya. Dan saya benar-benar tidak menyangka dapat menemukan buku penulis besar terselip di perpustakaan kota yang barangkali tidak begitu mencintai sastra, yakinlah orang-orang disini lebih suka makan ketimbang membaca buku, termasuk saya. Baiklah sepertinya saya sudah terlalu jauh melipir. Novel Mahfouz yang berjudul Pengemis ini menceritakan tentang Omar dan kehidupannya. Omar adalah seorang hakim (seingat saya begitu) yang segala kehidupannya sudah terpenuhi, istri yang cantik, dua orang anak dan harta yang lebih dari cukup. Sebagai orang awam mungkin kita selalu mendamba kehidupan yang semacam itu dan lantas kita akan berasumsi seperti itulah kebahagiaan. Tapi tunggu dulu, apakah seperti itu? Apakah kebahagiaan setiap orang selalu sama di ukur dengan kekayaan dan segala keinginan yang tercukupi? Jujur sebelum membaca novel ini saya pernah memikirkannya namun tentu saja tidak terlalu dalam, seperti apa hidup jika seluruh keinginan kita sudah terpenuhi dan mungkin akhirnya kita tidak mempunyai satupun keinginan. Barangkali seperti itulah tokoh utama Omar dalam novel Pengemis ini. Di usianya yang kian tua ia mengatakan kegelisahan itu sebagai penyakit, dan ketika seorang dokter memeriksanya ia tak menderita apapun. Ia mencoba menuruti segela keinginannya, atau lebih tepatnya nafsu, nafsu seorang lelaki terhadap perempuan. Ia ingin mencari lagi gairah hidupnya dalam sebuah seks, ia terlibat perselingkuhan dengan Warda seorang penari di klub malam. Namun setelah lama ia merasakan lagi kebosanan itu dan berpindah pada Margareth. Hingga akhirnya menemukan sebuah jawaban bahwa seks—yang merupakan representasi dari nafsu dan keinginan liar manusia—bukanlah jawaban yang tepat. Novel ini sedikit mengingatkan saya tentang Norwegian Wood Haruki Murakami, sepertinya novel ini juga membuat kita merenung lebih dalam tentang seks yang bukan merupakan jawaban yang tepat. Keseluruhan dari novel Pengemis tidak bisa saya ceritakan secara detail dari awal hingga akhir. Namun yang perlu saya tandai dari Mahfouz di novel ini, ia menjadi narator yang kerap membuat saya bingung tentang kata ganti orang yang ia gunakan sering berubah-ubah, kata-kata yang ia gunakan entah itu dalam dialog atau narasi kerap kali terkesan puitis dan dalam, saya setuju dengan Bernard Batubara tentang ini. Tentang tulisan ini yang tak memiliki paragraf, terserah kamu bilang saya meniru Eka Kurniawan atau tidak itu urusanmu. Tapi saya hanya ingin mencoba hal baru dan terlalu malas membuat paragraf dan saya ingin mencoba seperti apa rasanya menulis tanpa paragraf seperti yang telah lama dilakukan Eka Kurniawan.

Cinta Semanis Racun, Anton Kurnia

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang menuntut saya untuk menyelesaikan buku kumpulan cerpen, Cinta Semanis Racun yang dikumpulkan dan diterjemahkan oleh Anton Kurnia.

Salah satunya adalah apa alasan suatu cerpen dapat dimuat dan dibaca oleh pembaca dalam skala internasional. Namun sejauh saya membaca hingga habis, saya masih belum tahu jawaban yang tepat atas pertanyaan saya sendiri. Hanya saja ada sedikit bagian-bagian tentang cerpen yang saya mengerti.  Seperti teknik menulis atau membuat cerita, gambaran sosial tentang masyarakat dunia, dan masih banyak kepingan-kepingan lain tentang cerpen yang tidak bisa saya katakan semuanya disini.

Cerpen-cerpen yang ada dalam buku kumpulan Cerpen Cinta Semanis Racun. Sebagian besar dari cerpen-cerpen yang terkumpul di buku tersebut memang pernah dimuat di koran nasional, Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan kawan-kawannya tentu saja. Memang seperti yang telah dituliskan di daftar pustaka, cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini didapatkan dari beberapa kumpulan buku cerpen dunia, koran, majalah, jurnal dan terakhir adalah situs—Words Without Borders. Itu adalah sebuah situs yang ternyata telah memuat dan menerjemahkan cerpen-cerpen dunia ke dalam bahasa Inggris.

saya sebenarnya tidak begitu banyak mengerti tentang cerpen hanya saja saya suka dan barangkali terobsesi dengan cita-cita naif saya untuk menjadi penulis sekelas mereka yang karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Dan tentu saja saya suka membaca, meski harus saya akui, tidak semua apa yang saya baca dapat saya pahami dan benar-benar masuk di kepala saya. Entah memang kepala saya yang bermasalah atau memang karya-karya mereka yang menuntut untuk dibaca berulang-ulang agar pembaca yang tolol seperti saya, tahu diri. Tapi entahlah, sebelum saya melipir kemana-mana. Izinkan saya berusaha berbicara sedikit tentang cerpen-cerpen dunia ini.

Kita mulai dengan Cerpen-Cerpen Asia Timur, tentu saja kita akan bertemu dengan Haruki Murakami, ia kembali membawa cerita yang plotnya kerap membuat saya merasa percaya diri, bahwa plot itu seperti seni, tidak usah direncanakan sejak awal dan akan terbentuk sendiri seiring kita menuliskan cerita tersebut. Baru saya sadari ternyata itu yang bisa saya ambil darinya. Kemudian,Yokomitsu Riichi, Ryunosuke Akutagawa, Gao Xingjian, Mo Yan dengan Cerpennya, Obat Mujarab. Sebelumnya saya pernah membaca cerpen ini di sebuah situs lakonhidup. Cerpen ini menceritakan tentang usaha seorang anak dan ayah mencuri empedu dari mayat seseorang yang baru saja di eksekusi di dekat jembatan yang dilakukan oleh pemerintah pada sekelompok orang. Cara menturkan masalah serius dengan setting yang tidak lazim, membuat saya harus menandai namanya sebagai penulis yang kelak harus saya baca bukunya.

Selanjutnya kita beranjak ke Asia Selatan dan Timur Tengah. Kita akan bertemu Etgar Keret, Parwin Faiz Zadah Malal, Saadat Hasan Manto, R.K. Narayan, Taslima Nasrin, Ibrahim Samu’il, Khushwant Singh, Zakaria Tamer. Diantara nama-nama itu mungkin yang kerap jadi perbincangan adalah Etgar Keret. Beberapa cerpennya pernah saya baca dari blognya Bernard Batubara. Efektivitas bercerita Keret yang tidak berlarut-larut adalah salah satu cirinya. Namun diantara nama-nama itu yang paling berkesan dan saya suka adalah R.K Narayan, seorang penulis India. Cerpennya, Di Bawah Pohon Beringin menceritakan tentang seorang kakek yang selalu bercerita di bawah pohon beringin. Yang saya suka Narayan berhasil membuat rasa penasaran saya terpancing di awal-awal cerita. Entah kenapa saya merasa ia telah menjadi narator yang lincah dengan humor yang juga pas.

Cerpen-cerpen Afrika Utara, kita akan bertemu dengan Nadine Gordimer, dan banyak lainnya. Namun yang berhasil mencuri perhatian saya adalah cerpen, Ular Berbisa dari Tahar Ben Jelloun. Saya suka cara Tahar memainkan plot yang tampak seolah memiliki dua plot dalam satu cerita. Namun pada akhirnya kita akan tahu bahwa dua plot tadi ternyata saling berhubungan.

Di Cerpen-Cerpen Amerika Utara, kita akan bertemu nama-nama besar seperti Ernest Hemingway, O. Henry, Jack Kerouac, Edgar Allan Poe. Di cerpen Amerika Utara ini, Ernest Hemingway dan O. Henry adalah dua orang yang paling membuat saya tertarik, cara menulis mereka menurut saya benar-benar rapi. Kalimat yang mereka pakai adalah kalimat-kalimat yang sederhana. Cara visualisasi yang sangat kuat sehingga pembaca benar-benar mampu untuk memahami apa yang ingin digambarkan penulis. Namun tidak jarang juga penulis hanya melipir saja. Tapi tetap menyenangkan, mereka menunjukkan cara melipir yang tidak membosankan.

Sementara di Cerpen-Cerpen Amerika Latin dan Karibia. Kita akan bertemu dengan Roberto Balano, Jorge Luis Borges, Julio Cortazar, Carlos Fuentes, Gabriel Garcia Marquez, Juan Rulfo, dan masih banyak lagi. Beberapa waktu yang lalu saya sempat berfikir, seiring semakin luas bacaan kita maka akan semakin banyak pula kita terpengaruh. Mungkin semacam itu, seiring waktu kita akan bosan pada hal-hal yang mainstream selanjutnya kita akan mencari jeda dan beralih ke hal-hal baru yang tidak membosankan, mungkin seperti itulah cara sebuah karya menjadi beragam. Begitu juga dengan menulis, semenjak membaca karya-karya cerpen dunia, jujur banyak sekali yang tidak saya mengerti tentang struktur kepenulisan, sudut pandang, plot, atau bagaimana humor-humor yang membuat narator tampak menyenangkan di mata pembaca. Sedikit banyak saya yakin nama-nama besar itulah yang mempengaruhi penulis-penulis setelahnya.

Cerpen-cerpen Eropa Timur. Di kawasan ini ada Anton Chekov, Fyodor Dostoyevsky, Franz Kafka, Leo Tolstoy, dan beberapa yang lain. Hampir keseluruhan saya suka dengan cerpen mereka, namun disini saya sedikit tertarik dengan Anton Chekov yang mempunyai latar belakang seorang Dokter. Mulanya saya berpikir bahwa profesi paling tidak akan mempengaruhi karya-karyanya, namun di cerpen Varka Hanya Ingin Tidur, Anton Chekov seperti tidak menampakkannya sama sekali. Namun ia hanya mengulas bagaimana psikologi seorang Varka, keseharian seorang pembantu rumah tangga yang tidak diberi kesempatan untuk beristirahat sama sekali dan ending cerita yang membuat saya termenung bahwa Chekov ingin memberi pelajaran pada kaum elit dengan ending yang tragis.

Cerpen-cerpen Eropa Barat dan Skandinavia, kita akan bertemu dengan James Joyce, Guy de Maupassant, Salman Rushdie, Dacia Maraini, Angela Carter, dan masih sangat banyak nama-nama lain yang belum begitu akrab ditelinga saya. Kawasan ini saya tertarik dengan Salman Rushdie. Di cerpennya, Wawancara ia menceritakan tentang seseorang yang tengah berusaha mencari pekerjaan, namun ia selalu gagal dalam tes interview. Setelah kian lama ia baru sadar bahwa orang yang menjadi pewawancara di setiap perusahaan adalah orang yang sama. Sampai disini saya suka cara Salman membuat konflik, bermula dari kejadian-kejadian yang kerap kita temui sehari-hari. Namun ia seolah dengan mudah membuat lompatan, atau konflik yang tidak lazim. Yang mana kita tahu apapun di dunia ini yang berbau tidak lazim, atau anti mainstream sering membuat orang-orang tertarik, entah itu gila, tidak waras, atau semacamnya. Di dalam hati kita pasti mengumpat, mencaci, namun kita tidak sadar telah terseret untuk memperhatikan ketidaklaziman itu. Mungkin itulah yang telah berhasil Salman Rushdie lakukan di cerpennya.

Terakhir Cerpen dari Australia dan Oseania. Hanya ada dua penulis Peter Carey dan Thomas Keneally.

Cerpen-cerpen dunia seperti itulah yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Cinta Semanis Racun, memang tidak seluruh cerpen mampu saya ulas disini. Terakhir saya menyadari bahwa cerita mungkin hanyalah sebuah cerita, tentang untuk apa, kenapa, dan dituliskan dengam cara apa. Jika semua cerita diciptakan atau dituliskan untuk memberi pelajaran moral dan sebagainya yang baik-baik, tentu kita akan membenci cerita yang tidak memiliki pesan moral, terutama jika seluruh tokoh yang hidup didalam cerita tidak memiliki kesadaran berbuat baik alias bajingan seperti yang ada di novel Cantik Itu Luka. Tentu kita akan mengumpat ini cerita buruk bahkan mungkin cerita yang gagal. Namun di dunia ini terlalu banyak sekali cerita entah itu baik ataupun buruk dan terlalu banyak teknik bercerita yang di gunakan setiap penulis. Maka mungkin cerita tetaplah cerita tentang bagaimana kita menikmatinya, dan melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.

Sebenarnya saya membaca cerpen-cerpen dunia tidak lain karena ingin belajar banyak bagaiamana cerpen-cerpen yang bagus itu dituliskan dan tentang apa saja, bagaimana tekniknya,  banyak sekali yang masih belum saya ketahuhi. Terakhir tentang Inses intelektual, yang pernah Eka Kurniawan singgung di Jurnalnya. Ini tentang keluh kesah seseorang karena seluruh cerpen yang ia kirimkan ke media tidak pernah dimuat. Dan dengan sengaja atau tidak sengaja sang editor lantas berkicau di medsos, agar si penulis belajar dari cerpen-cerpen yang telah dimuat di media tersebut. Dan tentu saja itu akan menyebabkan perkawinan sedarah kata Kang Eka, sebagaimana kita tahu perkawinan sedarah akan menimbulkan banyak penyakit dan kelemahan. Oke, mungkin maksudnya seperti ini, Eka menganjurkan agar kita tidak hanya belajar dari cerpen-cerpen lokal, ia mengharuskan agar kita membaca dunia, agar inses yang kita lakukan menghasilkan varietas-varietas baru. Cerpen-cerpen baru yang lebih segar dan berbau sedikit antimainstream. Paling tidak ini sebagai wujud inses saya agar keturunan tidak sering sakit-sakitan dan suka batuk-batuk.

Melihat Api Bekerja, M Aan Mansyur

Kau boleh bersedih, kau boleh penasaran, kau boleh merana tersiksa rindu, kau boleh menjadi apapun yang kau mau di dalam puisi. Entah itu berlebihan atau tidak, saya tidak begitu peduli sebab hanya itu yang saya tahu setelah membaca buku puisi Melihat Api Bekerja dari M Aan Mansyur, ini.

Jujur sejak kecil pengalaman membaca puisi saya sangat menyedihkan, referensi puisi saya sangat miskin, saya tidak tahu ada penyair lain selain Chairil Anwar. Bahkan mungkin saya tidak akan pernah tahu satu pun penulis puisi atau penyair tanah air ini jika salah satu puisi Chairil Anwar tidak nampak dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia yang kita pelajari sejak bangku SD hingga SMA, bayangkan berapa tahun lamanya dan di tanah air yang memiliki sekitar 18.000 pulau hanya ada satu nama penyair yang terselip di kepala saya. Tapi saya rasa itu tidak begitu penting, sejauh itu tidak membuat kita berdosa. Mungkin seperti kata para guru ngaji.

Pengalaman membaca puisi saya sangat buruk sebelum saya mengenal metafor, analogi, dan kaidah-kaidah lain dalam karya sastra. Setiap kali membaca puisi kepala saya tiba-tiba menjadi pusing, mungkin itu seperti yang terjadi pada anak TK yang di paksa menyelesaiakan soal persamaan linier dalam matematika—semoga si anak yang di paksa itu bukan Einstein kecil atau kawan-kawannya. Seperti itulah ketololan saya, saya tidak bisa menangkap apa yang dimaksud si penyair dalam larik-larik puisinya. Kadang ketika membaca puisi saya seolah terbawa ke tempat lain yang asing dan mengerikan. Dan jujur itu membuat jiwa saya tersiksa.

Entah seiring perjalanan saya membaca, akhirnya saya mengenal sedikit demi sedikit nama-nama penyair besar serta puisi-puisinya yang menyenangkan. Salah satunya adalah M Aan Mansyur, dan ini adalah buku ketiganya yang saya baca. Setelah Tidak Ada New York Hari Ini, buku ini sebenarnya terbit sebelum Tidak Ada New York Hari Ini meski demikian tidak membuat buku puisi ini jauh dibawah buku puisi setelahnya. Malahan menurut saya buku ini tidak kalah menariknya dengan buku-buku puisi setelahnya. Perlu saya katakan salah satu yang membuat menarik buku puisi ini adalah adanya ilustrasi-ilustrasi liar semacam surealis yang berusaha dengan baik merepresentasikan puisi-puisi M Aan Mansyur. Dan saya rasa Muhamammad Taufiq atau Emte panggilan akrabnya, telah berhasil dengan sangat baik dalam melakukannya. Saya merasa antara penulis dan ilustrator dua-duanya memiliki keberanian dalam bereksperimen untuk menciptakan hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya. Dan yang terjadi adalah sebuah karya yang menyenangkan untuk dinikmati. Iya akhirnya harus saya katakan saya bisa menikmati puisi.

Sebenarnya dan sejujurnya saya tidak begitu banyak mengerti tentang puisi. Saya hanya suka membaca puisi-puisi mereka, sok-sokan mengomentari, dan dengan lancang berani menulis puisi seperti mereka. Dan dalam hati kecil saya yang naif, berharap kelak ada sebuah koran yang mau menerbitkan puisi-puisi saya. Entah kapan saya tidak peduli, kalaupun tidak ada yang mau memuatnya saya akan menerbitkannya dalam buku, secara indie barangkali. Tidak peduli nanti ada yang mau beli atau tidak, ada yang suka atau tidak, saya akan tetap menerbitkan puisi-puisi saya yang tampak seperti anak tengil. Meski hanya dalam web saja.

Kembali ke Melihat Api Bekerja, Sapardi Djoko Damono pun ikut memberikan suara tentang keberhasilan Aan menemukan bentuk baru dari puisi kontemporer. Sebagaimana yang dilakukan Chairil Anwar, Aan berangkali telah membuat lompatannya sendiri. Sebagaimana orang awam saya merasakan adanya perbedaan yang kuat antara puisi keduanya, atau mungkin seperti inilah ketika seorang penyair telah matang. Mereka memiliki identitasnya masing-masing. Sehingga jika terhidang sebait puisi di depan kita, dengan mudah kita bisa merasakan ini racikan puisi siapa.

Terakhir harus saya katakan membaca Melihat Api Bekerja, seperti sedang mendengarkan dongeng-dongeng yang empuk di telinga, tidak membuat telinga berkedut-kedut sebagaimana yang kerap dilakukan lagu dangdut. Disamping itu kita juga akan terhibur dengan ilustrasi-ilustrasi liar yang dihadirkan oleh Emte. Sebuah buku yang menarik untuk kau baca berulang-ulang jika kau mencintai cerita dalam bentuk puisi, atau sebaliknya.

O, Eka Kurniawan

Ini adalah kisah tentang seekor monyet betina bernama O yang ingin menikah dengan seekor monyet jantan bernama Entang Kosasih, mereka berdua saling mencintai sebagai dua ekor monyet yang tinggal di hutan Rawa Kalong. Rencana menikah dan bulan baik telah di tetapkan, namun masalahnya Entang Kosasih, sang pejantan adalah seekor monyet pemimpi. Ia memiliki obsesi untuk menjadi seorang manusia.

Obsesi atau boleh jadi keinginginan luhurnya itu berasal dari cerita tentang Armo Gundul. Monyet-monyet di hutan Rawa Kalong kerap membicarakan seekor monyet bernama Armo Gundul yang berhasil menjadi manusia. Konon Armo Gundul adalah satu-satunya monyet yang berhasil menjadi manusia. Kisah itu kerap diceritakan secara lisan oleh monyet-monyet yang lebih tua ke monyet-monyet muda, barangkali itu semacam kisah turun-temurun yang telah diyakini sebagai legenda.

Meski itu diyakini monyet-monyet lain sebagai legenda, yang belum tentu kebenarannya namun berbeda dengan Entang Kosasih ia berkeras untuk menjadi serupa dengan Armo Gundul, ia ingin menjadi manusia. Seluruh monyet tidak tahu bagaimana cara menjadi manusia, begitupun dengan Entang Kosasih. Namun ia adalah monyet yang keras kepala. Sebagaiamana diketahui O, kekasihnya bukan jenis monyet yang memiliki rencana-rencana detail untuk masa depannya, jika ia menginginkan sesuatau di masa depan, ia akan tetap menginginkannya. Bagaiamana ia akan memperoleh itu, ia hanya akan berkata, kita lihat saja nanti.

Selanjutnya cerita berjalan karena ide tersebut, seekor monyet yang ingin menjadi manusia. Namun keseluruhan cerita tidak hanya didominasi oleh cerita-cerita hewan atau yang biasa kita sebut dengan cerita fabel. Bernard Batubara, mengatakan novel O merupakan novel semi-fabel karena dalam novel ini muncul juga tokoh-tokoh manusia yang tidak hanya sebagai tokoh pelengkap. Mereka muncul sebagai sparring partner, juga memiliki masa lalu dan keinginan-keinginan yang unik. Kisah cinta para hewan sekaligus manusia.

Yang berbeda dari novel-novel sebelumnya disini Eka Kurniawan seolah muncul dengan teknik bercerita yang kaya. Namun tetap seperti novel-novel sebelumnya (Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau) novel O ini di tuturkan oleh narator omniscient. Ini dapat dilihat dari cara Eka menceritakan apa-apa yang sedang dipikirkan tokoh-tokohnya, masa lalu, dan keinginan-keinginannya. Tokoh yang dipilih Eka pun tampak tidak lazim, tidak hanya hewan dan manusia, ada juga Revolver, ia adalah senjata kesayangan Sobar, si polisi. Di satu adegan kita akan menjumpai Revolver tidak hanya benda mati saja, ia juga mempunyai perasaan layaknya manusia. Selanjutnya kita akan menjumpai Kaleng Sarden, ia adalah sebuah kaleng yang digunakan Betalumur majikan O yang merupakan pawang topeng monyet sebagai wadah keping-keping rupiah. Barangkali bagian itu boleh disebut sebagai cerita surealis. Dimana kita bisa menjumpai hal-hal yang tidak lazim.

Seperti biasanya saya suka cara Eka Kurniawan membuat plot, entah bagaimana caranya. Plot yang Eka buat tampak seperti benang kusut, rumit, namun tetap saling sambung-menyambung antar fragmen-nya. Di salah satu tulisan tentang Eka Kurniawan saya pernah menjumpai, namun saya lupa sudah judul tulisan tersebut. Eka mengatakan, ia menulis novel tanpa draft, ia hanya menulis saja, ketika merasa ada bagian dari novelnya yang tampak bolong, ia menulis ulang, mengganti bagian-bagian yang tampak lemah tadi. Untuk novel setebal 470 halaman, mungkin itu butuh waktu yang lama. Sebagaimana di akhir novel Eka mencamtumkan tahun 2008-2016. Entah itu kurun waktu penulisan novel atau ada maksud lain, barangkali hanya penulis yang tahu.

Di novel O ini kita seperti sedamg diperlihatkan Indonesia dalam potret kontemporer. Tentu saja dengan budaya-budanyanya. Topeng monyet, mitologi, dan sejarah tentunya. Di akhir cerita Eka Kurniawan memunculkan mitologi tentang manusia yang menjadi hewan. Mungkin ini sebagai kritik terhadap moralitas, kita kerap menjumpai di berbagai media yang disiarkan di televisi atau di Koran-koran sekarang ini. Banyak sekali kasus-kasus yang tidak manusiawi, korupsi, asusila, dan semacamnya. Bukankah itu terlalu hewani.

Namun pada akhirnya Eka Kurniawan benar-benar membuat saya iri, entah seberapa besar usaha yang harus dilakukan agar bisa menjadi penulis sekelas Eka Kurniawan atau lebih. Hal itu masih menjadi pertanyaan yang kerap membuat tidur saya tidak nyenyak.

Doctor Strange

Dunia sihir, jika berbicara sihir tentunya kita akan mengingat J.K Rowling dengan kisah-kisah fantasi dunia sihirnya, seperti yang kita tahu dalam Harry Potter atau Fantastic Beast and Where to Find Them. Saya sebenarnya kagum dengan keliaran imajinasi Rowling, dan itu seperti tonjokan pada diri saya sendiri: harus berapa banyak buku lagi yang saya baca, agar imajinasi di kepala saya tidak menyedihkan, kering dan barangkali terkesan biasa-biasa saja. Dalam salah satu cerpen Sabda Armandio saya pernah menjumpai ada sebuah nasehat yang terselip di sana, bahwa kita perlu memperluas imajinasi kita dengan banyak membaca. Kurang lebih semacam itu. Terkadang saya merasa ragu dengan diri saya sendiri, sejauh ini saya seolah masih belum apa-apa. Teknik menulis saya masih menyedihkan, pada akhirnya saya menyadari masih belum pantas tulisan saya, cerpen atau puisi-puisi saya dimuat di media sekelas Jawa Pos apalagi Kompas yang merupakan Koran yang memiliki pembaca nasional. Namun entah kenapa ada satu keyakinan dalam diri saya untuk tidak berhenti menulis, dan berharap suatu saat nanti tulisan-tulisan saya entah itu puisi atau cerpen saya pasti di muat di Koran-koran nasional, barangkali ini hanya urusan waktu. Seperti itulah saya, orang yang naif dan kadang-kadang penakut, untuk menjadi naif.
Baiklah, maafkan saya karena terlalu banyak melipir kemana-mana, sampai-sampai curhat segala. Selanjutnya izinkan saya untuk membicarakan Doctor Strange. Sebagaimana kebanyakan film berkualitas lainnya, film ini dimulai dengan prolog yang memicu rasa penasaran penonton. Barangkali jika boleh saya ceritakan sedikit prolog film superhero atau keluarga Marvel Film ini dibuka dengan sebuah ruang berkabut, gelap dan mulanya saya kira itu adalah sebuah bangunan ala Yunani dengan tiang-tiang yang khas. Dari kegelapan yang berkabut itu mucul tiga orang berjubah sedang berjalan pelan dengan wajah yang tertutup kupluk jubah. Tiga orang itu berjalan mendekati seseorang yang tengah menata buku. Itu adalah adegan pencurian selembar dari buku tersebut. Setelah selesai adegan yang memicu banyak pertanyaan itu, dengan seenaknya produser mengalihkan adegan selanjutnya ke suatu tempat yang benar-benar jauh berbeda dengan tempat di adegan perolog tadi sekaligus memberi adegan baru dengan tokoh baru pula yang seolah sama sekali tidak ada kesinambungan dengan adegan prolog pertama tadi. Dan pada akhirnya dengan kejeniusan yang di miliki sang pembuat film kita mendapatkan apa yang sejak pertama kita pertanyakan. Seolah plot ini tidak dibuat dengan main-main dan telah dipetakan sejak awal. Tidak ada unsur spontanitas, atau semacamnya.

Doctor Strange merupakan salah satu film superhero serupa Thor, Iron Man, yang membedakan film ini mengambil latar belakang cerita dalam dunia sihir dan juga barangkali ilmu kedokteran. Tidak bisa dipungkiri jika dalam cerita ini merupakan sebuah campuran cerita yang dijadikan satu, sebagaimana kata Eka Kurniawan. Dan pada akhirnya si tokoh utama selalu terbebani dengan tugas menjaga keselamatan Bumi, seolah itu tugas satu-satunya yang selalu di emban oleh seorang superhero.

Film ini mulai menarik, ketika Stephen Strange, seorang dokter ahli saraf mengalami kecelakaan dengan mobil, itu adalah sebuah kecelakaan yang hebat. Dan membuat saraf si kedua tangannya rusak total, sehingga setelah dilakukan operasa kedua tangannya mengalami tremor yang tak bisa disembuhkan. Sebagaimana kebanyakan manusia, kita benar-benar tidak siap dengan apa yang namanya kehilangan. Disini Doctor Strange benar-benar tidak ingin kehilangan kariernya sebagai dokter bedah saraf hanya karena tangannya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Karena itulah akhirnya ia terpicu untuk mencari sebuah tempat beranama Kamar-Taj yang berada di Kathmandu, Nepal. Dari sanalah cerita inti dari Doctor Strange dimulai.

Keseluruhan cerita ini banyak mengandung kalimat-kalimat filosofis, dan mitologi-mitologi dari dunia sihir seolah itu memang benar-benar nyata. Entah saya kurang tahu tentang kebenarannya. Namun sebagai penonton film ini, saya harus jujur dari awal hingga akhir saya merasa terhibur.