Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Dea Anugrah

Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, memilih gambar sampul sebuah foto—yang diambil oleh Bhagavad Shambada—tentang sebuah ruang yang acak-acakan, semrawut, dipenuhi barang-barang elektronik: Tape Recorder, DVD, Televisi yang monitornya seolah dipenuhi asap, tumpukan kabel, kardus bekas, pecahan kaca, PCB dan segala isi benda elektronik yang seperti dimuntahkan. Segalanya berserakan, berantakan, tidak tertata, tapi entah mengapa saya merasa ada sebuah keindahan. Entahlah mudah-mudahan saja estetika di kepala saya tidak sedang error, atau bisa jadi estetika di kepala saya dan kepala teman-teman memang telah berbeda.

Ini hanyalah buku esai sekaligus buku non-fiksi Dea, pertama setalah buku kumpulan puisi, Misa Arwah dan buku kumpulan cerpennya, Bakat Menggonggong yang diterbitkan oleh Buku Mojok. Saya mengerti nama Dea Anugrah sekaligus tertarik untuk membacanya, mungkin gara-gara seluruh cerpen Sabda Armandio yang saya baca habis di websitenya. Dalam cerpen-cerpen itu sesekali Dio mencantumkan nama Dea. Bahkan dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Dio, keduanya bertemu di Gurun Gobi, jika tidak salah saat itu di sebuah gurun pasir Dea sedang memancing ikan lele, dalam wawancara itu mereka seolah tidak terlalu serius membicarakan tentang kepenulisan dan segala isinya, jika tidak salah ingat, mereka sesekali menyinggung game, Suikoden, dan entahlah. Kemudian Dio pamit pulang dengan menumpang Burung Simurgh (burung mitologi)—Benar-benar kelewatankan keduanya, meski mereka tak terlalu banyak membicarakan kepenulisan, namun di tulisan atau laporan wawancara itu keduanya seolah telah menunjukkan pada saya yang tolol ini hal-hal tidak terduga yang hanya bisa dilakukan di dalam kepenulisan. Dan setelah perjalanan agak panjang akhirnya saya membaca Bakat Menggonggong, yang kisah-kisahnya benar-benar diluar nalar asyik dan tampak tidak biasa.

Dalam bukunya yang terbaru ini, ia seolah menjadi orang yang tahu segalanya. Ia seperti mengambil secuil ironi di dunia nyata lalu mengolahnya dengan referensi-referensi asing, kisah sebuah Barbershop di Amerika yang pelanggannya hanya para laki-laki pemberani, tentang seorang yang melepas pekerjaan tetap hanya untuk mengabdikan hidup pada fauna di sebuah pulau, Atau seseorang yang mengacak-acak ilmu pengetahuan dan membuat fatwa baru tentang salahnya geosentrisme yang semuanya mengantarkan ia pada kurungan penjara seumur hidup. Dan masih banyak lagi.

Esai-esai yang ditulis Dea entah kenapa terasa ringan tidak terlalu kaku dan hampir seperti cerita, namun sesekali membuat saya termenung memikirkan lebih dalam beberapa pernyataan yang disampaikan Dea dengan gaya yang tentu saja tidak biasa-biasa saja, dan mungkin juga berkesan quotable. Misalnya, “… Dan setiap yang bisa salah semestinya tidak menghukum orang dengan cara merampas darinya hal-hal yang tak terkembalikan.” Pernyataan itu membuat saya termenung lama dan seolah telah membuat sayatan di dinding ingatan. Ia adalah Bruno, Giordano Bruno seorang kosmolog, filsuf, dan bekas biarawan Dominikan yang dibakar hidup-hidup oleh Gereja Katolik pada 17 Februari 1600. Ia menolak pandangan geosentrisme yang mana Bumi sebagai pusat semesta, segala benda langit mengitari Bumi. Sementara pada masa itu Gereja menyatakan bahwa Bumi adalah pusat semesta. Orang-orang bekerja dan mencari keselamatan di Bumi. Seandainya ada kehidupan lain di planet-planet yang jauh, universalitas agama-agama di Bumi jelas akan terganggu. Orang akan bertanya, apa peduli mereka, penghuni planet lain terhadap ajaran rasul-rasul yang seluruhnya lahir di Bumi, yang tidak pernah berbicara tentang mereka, dan terakhir iman-iman agama Ibrahimi yang di dalamnya termasuk Kristen, agama-agama Samawi yang menempatkan Tuhan sebagai entitas esa yang tidak bisa disamakan dengan apapun. Itulah yang dilakukan Bruno, ia membuat pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan Gereja. Meski ia tahu itu akan membuatnya celaka. Mengusik Gereja mungkin juga mengusik orang banyak yang sudah nyaman dengan sistem dan dogma yang diterima begitu saja, tanpa berusaha mencari pembenaran. Dan melakukan penentangan berarti melawan orang banyak yang akan membuatnya celaka, dan anehnya itu tetap dilakukan.

Buku ketiga Dea ini adalah kumpulan esai yang mungkin terlalu menyenangkan. Mungkin juga sudah menjadi gaya menulisnya, ia tidak mau tampak sebagai penulis-penulis baik pada umumnya, ia memilih gayanya sendiri. Namun entah kenapa di esai terakhir buku ini: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Saya seolah melihat Dea sebagai penulis yang tampak sederhana, tidak berusaha menunjukkan segala kemampuannya yang kerap membuat saya geleng-geleng kepala dan bertanya bagaimana cara membuat tulisan semacam ini. Di esai itu Dea seolah jujur mengisahkan salah satu pengalamannya ketika bersama teman sekampungnya. Keduanya mungkin teman yang akrab dan pernah melalui masa-masa yang tidak bisa dilupakan bersama. Namun ketika keduanya bertemu kembali setelah lama tidak bertemu, keduanya telah memiliki isi kepala yang berbeda. Seorang teman beranggapan seluruh masalah Indonesia akan selesai jika Indonesia menjadi negara seperti ini, dan Dea seakan tidak terima, secara spontan ia melontarkan argumen yang samasekali bertolakan. Si Teman lantas terdiam dan segera beranjak dari Dea. Mungkin itu semacam pukulan telak bagi si teman dan sebuah kekecewaan besar bagi Dea karena temannya telah meninggalkannya. Di esai terakhir itu Dea mencoba mengolok-olok dunia ideal, orang-orang optimis, keputusasaan dan bagaimana kita harus menjalani kehidupan. Itulah yang barangkali ingin dikatakan Dea. Tidak pernah ada dunia ideal seperti surga, dunia yang hanya dipenuhi orang-orang baik, dunia yang dipenuhi para malaikat, atau dunia yang barangkali hanya dipenuhi kue apem, begitu ucap Dea di esai terakhirnya.

Mungkin saya sudah terlalu kelewat berpanjang lebar di sini. Mungkin lebih lengkapnya silakan kawan-kawan cari sendiri bukunya, baca dan tafsirkan sendiri perkara-perkara sepele hingga kelewat rumit yang ditulis dalam buku Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Dea Anugrah. Dan terakhir saya seperti baru mengerti bahwa gambar sampul yang dipilih Dea untuk bukunya benar-benar sangat mewakili tulisan-tulisan Dea.

Iklan

Urusan Perang dan Wajib Militer Salinger

Entahlah kenapa orang-orang gemar sekali berperang dari dulu hingga sekarang. Aku tidak tahu persis kejadian pada tanggal 22 Mei 2019 yang barusan terjadi di Jakarta, mungkin jika digolongkan kejadian itu juga termasuk perang, antara rakyat yang memperjuangkan suara mereka, melawan aparat pelindung negara, mungkin semacam itu. Jika memang perang memiliki indikasi: saling pukul, lempar batu, helm, gear motor, knalpot, letupan senapan dan pada akhirnya menghasilkan darah yang mengucur, kematian dan rasa sakit lalu dendam kesumat. Semenjak mengenal sastra aku jarang sekali duduk di depan televisi menyimak apa yang disajikan kotak persegi itu, juga sama sekali tidak mengikuti perkembangan politik di tanah air ini. Dan kebiasaan itu semakin memuncak usai lulus kuliah pada Oktober 2018. Aku sudah tidak pernah ke perpustakaan kampus, membaca Kompas, atau ke Pos Satpam untuk membaca Jawa Pos. Mungkin dari segala hal yang paling kurindukan dari kampusku adalah Kompas dan Jawa Pos dari mereka berdua aku mengenal ada tulisan-tulisan menyenangkan untuk dibaca, selanjutnya tentu saja bocah-bocah anti mainstream itu. Dan sekarang setelah lulus kuliah aku melamar sebagai editor di sebuah penerbit buku lokal di kotaku—prakteknya aku tidak menjadi editor lebih tepatnya pekerja serabutan sesekali menjadi editor, penata letak, dan merangkap pendesaincover dadakan dan imbasnya aku jarang sekali menulis. Pemiliknya menerimaku tanpa syarat apapun, sebagaimana prosedur perusahaan-perusahaan besar melakukan seleksi pada pelamar. Ia menerimaku menjadi pegawai tetap asalkan aku mau belajar dan belajar menutupi kekuranganku dan memenuhi tuntutan badan usaha-nya. Dan di tempat itulah aku berada sepanjang pagi hingga sore, sesekali sampai melewati isya, keterlaluan memang, itu berlangsung setiap senin hingga sabtu. Dan sesekali Rio—jujur dari dia-lah segala hal tentang negara aku dapatkan meski entah benar atau salah—, temanku itu mampir ke tempatku kerja mungkin setelah ia bosan bermain dengan ayam-ayam kesayangannya, aku merasa ia mencintai ayam seperti aku mencintai buku-buku, kami berdua bisa dikategorikan stadium obsesif kompulsif, sesuatu yang kita berdua anggap kearifan tapi di mata seseorang adalah sebuah kegilaan, begitu kata seorang tokoh yang aku lupa namanya, jika kau membaca Creative Writing, A.S. Laksana kau akan tahu. Aku merasa Rio berubah drastis dari seorang apatis pada politik menjadi obsesif kompulsif pada politik. Beberapa kali ia menunjukkan padaku akun-akun Instagram atau medsos yang mengungkap kebusukan para pelaku politik. Aku hanya mengangguk sebagai seorang yang awam, seraya berlagak kagum atau tercengang dengan informasi-informasi yang ia berikan agar ia tidak kecewa. Entahlah kadang aku berpikir, aku yang aneh atau dia yang aneh. Aku seolah tidak tertarik apapun kecuali buku yang berbau sastra. Dan aku hanya bertanya sewajarnya padanya yang sedang berapi-api menjelaskan beberapa kasus. Namun di akhir-akhir aku merasa kemanusiaan sudah tidak ada artinya, aku melihat sendiri beberapa hari yang lalu video di sebuah akun Instagram seorang penulis novel-novel religi, seorang demonstran yang tertangkap menjadi luapan emosi para aparat penegak hukum, mereka menendanginya dengan sepatu lars itu, memukulinya dengan tongkat atau pentungan, bahkan memukulkan popor senapan tanpa ampun ke demonstran yang sudah tidak berdaya itu. Suatu berita lain mengabarkan seorang anak kecil yang berniat membangunkan sahur terkena enam peluru nyasar dan akhirnya meninggal. Entahlah aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Media-media sosial seperti ribuan lebah yang bergerak sangat cepat. Sementara itu aku baru selesai membaca Kronik Gladwaller, Salinger. Cerpen-cerpen ini menurutku juga sedang membicarakan tentang perang, wajib militer, dan semacamnya terkait kejadian pada tahun 1941 ketika Jepang menyerang Pearl Harbor, di mana setiap warga Amerika Serikat waktu itu yang memenuhi kriteria harus mengikuti wajib militer, termasuk Salinger. Dan dikatakan beberapa cerpen di sini terinspirasi dari pengalamanya mengikuti wajib militer. Aku mulai berpikir sebagaimana peristiwa-peristiwa besar, bersejarah seperti perang, pembunuhan massal, dan semacamnya sepertinya memiliki potensi besar untuk menjadi background sebuah cerita. Bayangkan sebuah peristiwa besar seperti masa kolonialisme Belanda di Indonesia. Akan selalu memiliki versi yang berbeda-beda tergantung siapa yang menjadi narator sebuah cerita tersebut. Sangat berbeda dengan buku sejarah, mungkin buku sejarah hanya mengabarkan garis besar peristiwa itu saja. Namun peran fiksi, sastra adalah mengabarkan melalui mulut seorang narator yang akan menunjukkan pada kita peristiwa-peristiwa kecil yang dialami beberapa orang di balik peristiwa besar itu. Sejauh yang aku tahu, Faisal Oddang kerap melakukan ini pada beberapa cerpennya yang kebanyakan dimuat Kompas. Dan di buku Kronik Gladwaller, barangkali J.D. Salinger melakukan hal yang serupa. Ia menulis peristiwa-peristiwa kecil di balik perang itu. Bagaimana perasaan seorang ayah ketika anaknya diterima masuk sebagai tentara, atau percakapan seorang tentara dengan rakyat biasa di sebuah ruang keluarga, hingga kisah asmara di balik perang seperti dalam cerpen Gadis Berpinggang Ramping pada Tahun 1941, menurutku ini yang paling menarik cerita tampak natural, dan dialog-dialog yang seolah sangat alami diucapkan dari mulut setiap tokohnya. Selama membaca cerpen-cerpen ini aku seolah ingin mengerti budaya lokal di sekitar kita yang benar-benar menggambarkan kita, budaya urban, pedesaan, agama, adat dan tentu sesuatu yang lebih menggambarkan Indonesia. Sebagaimana Salinger dengan santai menggambarkan Amerika-nya.

*) Sebuah catatan usai membaca Kronik Gladwaller, J.D. Salinger

All The Time_The S.I.G.I.T

[Intro]

Bm G A (6x)

[Verse]

Bm G A
I wanna live forever
Bm G A
Whom you realize forever means together

Bm
I hope you know
G
When you say it wasn’t over
A
For the third times
Bm
I hope you know
G
You make me wanna give me something
A
More and more

[Chorus]

D F#m
I.. wanna give you hold
G
All the time
A
And wear you robe
F#m
It’s just
G
for the pooring rain
F#m
That Never End
G A
All The Time (my life is raining all the time)

[Interlude]

Bm G A (4x)

[Verse]

Bm G A
I wanna live forever
Bm
Im the oak tree
G A
Forever scar the stranger

Bm
I wanna grow my hair and nails
G A
You up my life
Bm
I hope to do change your last name
G A
And be a wife

[Chorus]

D F#m
I.. wanna share my lungs
G
All the time
A
It’s face the sun
F#m
It’s just
G
Like a burning pain
F#m
That i be alone
G A
All The Time (my life is raining all the time)

[Outro]

Bm G A (7x)

____

I wanna live forever
Whom you realize forever means together

I hope you know
When you say it wasn’t over
For the third times
I hope you know
You make me wanna give me something
More and more

I.. wanna give you hold
All the time
And wear you robe
It’s just
for the pooring rain
That Never End
All The Time (my life is raining all the time)

I wanna live forever
Im the oak tree
Forever scar the stranger

I wanna grow my hair and nails
You up my life
I hope to do change your last name
And be a wife

I.. wanna share my lungs
All the time
It’s face the sun
It’s just
Like a burning pain
That i be alone
All The Time (my life is raining all the time)

Terjemahan:

Saya ingin hidup selamanya
Yang Anda sadari selamanya berarti bersama

Aku harap kamu tahu
Ketika Anda mengatakan itu belum berakhir
Untuk ketiga kalinya
Aku harap kamu tahu
Anda membuat saya ingin memberi saya sesuatu
Lebih dan lebih

Saya .. ingin memberi Anda pegangan
Sepanjang waktu
Dan kenakan jubahmu
Hanya saja
untuk hujan yang buruk
Itu tidak pernah berakhir
Sepanjang waktu (hidupku hujan sepanjang waktu)

Saya ingin hidup selamanya
Saya pohon ek
Selamanya bekas luka orang asing

Saya ingin menumbuhkan rambut dan kuku saya
Kamu hidupku
Saya berharap bisa mengubah nama belakangmu
Dan jadilah istri

Saya .. ingin berbagi paru-paru saya
Sepanjang waktu
Itu menghadap matahari
Hanya saja
Seperti rasa sakit yang membakar
Bahwa aku sendirian
Sepanjang waktu (hidupku hujan sepanjang waktu)

Sesuatu yang Bergerak-gerak di Dalam Perut Pemuda Kita

Kali ini Pemuda Kita sedang memikirkan kematian. Ia menghela napas setelah merebahkan badannya di sebuah dipan yang berada tepat di hadapan televisi 14 inch yang sebulan lalu ia beli dari saudaranya, seorang lelaki tukang servis benda-benda elektronik. Ia baru saja mematikan televisi sialan itu, yang setiap hari hanya menyiarkan sampah, meracuni kepala adik-adiknya yang masih lugu dengan muslihat busuk orang tua: perselingkuhan, sengketa tanah, harta, olok-olok dan prilaku manusia tidak bermoral lainnya. Sampah seperti itu pantas mendapatkan kematian, begitu desisnya. Beberapa saat kemudian ada aroma busuk memenuhi rongga hidungnya, aroma yang tidak asing. Setelah menengok ke bawah dipan ia menemukan segunduk tahi kucing. Lalu seekor kucing dengan wajah tak berdosa melompat ke dipan Pemuda Kita, duduk di pojokan dan menjilat-jilat duburnya, tampak sekali Si Kucing sangat menikmati aktivitasnya.

Bagaimanapun Pemuda Kita tak ingin kucing yang sedang asyik menjilati duburnya berakhir seperti Televisi 14 Inch atau Kartosoewirjo. Entahlah apa keuntungan jika Kartosoewirjo masih hidup, barangkali sama saja. Ia tetap saja seseorang pemuda yang masa bodoh dengan negara, pemilu, partai dan orang-orang berseragam. Tapi setelah membaca Kematian Kecil Kartosoewirjo, entah kenapa beberapa hari yang lalu air matanya mencair. Padahal ia tak pernah menangis sebelumnya meski beberapa bulan yang lalu kucing kesayangannya meninggal, akibat terkena racun tikus yang dipasang tetangganya di belakang rumah. Alih-alih menangis, pemuda kita lebih memilih rebahan di sofa dan melanjutkan tidur siangnya. Tapi ia boleh dikatakan sedikit melankolis, setalah membaca buku puisi Triyanto Triwikromo. Ia sendiri mengenal Triyanto Triwikromo dari koran Kompas, ia pernah membaca beberapa cerpen Triyanto. Dan selama membaca cerpen itu Pemuda Kita merasa pergi ke dunia asing, dunia di mana tidak ada agama, beberapa orang hidup sebagai pembangkang, dan beberapa tempat distopia yang tampak seperti nyata. Sempat pemuda kita berpikir Triyanto dianugerahi bakat penciptaan oleh tuhan, hanya saja Triyanto tak memiliki kuasa untuk menjadikan dunia di cerita-ceritanya menjadi nyata. Untung saja, atau entah itu hukum alam, semesta tak butuh tuhan lebih dari satu. Atau jika kelak Triyanto ingin menjadi tuhan ia harus mencari semesta kosong. Menciptakanya, atau entahlah sebagai narator aku juga tidak tahu bagaimana mendapatkan semesta.

Tiba-tiba Pemuda Kita merasakan sesuatu berjalan di dadanya dan berakhir di perutnya. Saat ia membuka mata, ia melihat Si Kucing meringkuk di perutnya. Mungkin si kucing merasa perut Pemuda kita adalah ranjang yang nyaman. Tapi Pemuda Kita merasa Si Kucing adalah kematian, sesuatu yang tiba-tiba datang dan mengganggu kenyamanan. Ia tetap tidak bisa tidur, setiap kali memejamkan mata, ia akan masuk ke dunia itu: ia berjalan di hutan sendirian melewati pinus-pinus kesepian. Kabut mengambang menenggalamkan setengah badannya. Orang-orang yang biasa berada di dekatnya satupun tak ia jumpai. Ia hanya sendirian di hutan, angin tak berhembus, udara kian lembab dan seolah membuat segalanya menyusut termasuk dirinya. Di hutan itu ia tidak tahu hendak ke mana. Ia hanya berjalan, dan sesekali berteriak-teriak bertanya pada sekitar apakah ada orang. Tapi percuma saja tak ada jawaban kecuali suaranya sendiri yang dipantulkan kembali. Ia terus berjalan. Dari kejauhan Pemuda Kita tampak seperti hanya setengah tubuh, yang berjalan melewati pinus-pinus.

“Apa yang membuatmu datang ke sini, anak muda?” Pemuda Kita tiba-tiba mendengar suara yang serupa gema, tidak tahu siapa dan dari mana datangnya. “Apa kau ingin menyusul orang tua itu, yang dibunuh negara dan kini tak ada orang yang tahu tentangnya, atau ada yang tahu tapi tidak tahu harus bagaimana.”

“Lalu apa yang kau inginkan setelah mati?” Pemuda Kita masih berjalan, sambil mengira-ngira dari mana datangnya suara gema itu.

Beberapa saat tak ada jawaban. Hanya hening yang merambat, dan kabut yang kian lama kian meninggi, entahlah Pemuda Kita juga tidak tahu apa kabut yang kian meninggi atau ia yang kian tenggelam. Tidak lama kemudian ia merasakan sesuatu bergerak-gerak di dalam perutnya, sesaat membuatnya merasa kenyang, penuh, dan tidak nyaman. Saat ia meraba perutnya, sesuatu yang bergerak-gerak itu seperti berjalan naik ke esofagus, orofaring, dan berhenti sejenak di sana, Sesuatu yang Bergerak-gerak itu sedang memainkan katup epiglotis Pemuda Kita dan itu membuatnya terbatuk beberapa kali. Tapi Sesuatu yang Bergerak-gerak itu merambat ke nasofaring. Lalu memenuhi rongga mulut dan saat Pemuda kita membuka mulutnya. Pemuda Kita melihat Si Kucing sedang duduk dipundaknya sambil menjilati ekornya.

—Lamongan, 16 April 2019

*) Catatan ini ditulis setelah membaca Kematian Kecil Kartosoewirjo, Triyanto Triwikromo, dan kenangan bahwa 9 jam ke depan akan dilangsungkan pemilihan presiden Indonesia, antara Prabowo dan Jokowi.

Owl and Wolf_The S.I.G.I.T

Intro: CFCF

C F
We don’t need to speak our names
C F
and our things that float in between
C F
Let me haze over by your side
C F
under your wings as king and queen
G F C
We dance the shadow of these lonely pines
G F C
and tonight we follow the rhythm of this howling wolf

F C F

C F
We sing a song of our midnight glamour
C F
Our eyes illuminate in high and low
C F
I set the fire on the black holes gate
C F
to keep us holding on until day light breaks
G F C
We are the stealer of the stars tonight
G F C
and silently we sing the echoes of this crying wolf

F C F

C F
Under the crescent shades
C G F
We hide, dance and sing, and widely awake
C F
Rovers of the mountain forgotten away
C G
We hold the light of these silent nights
F C
time goes by for these owl and wolf

_______

We don’t need to speak our names
and our things that float in between
Let me haze over by your side
under your wings as king and queen
We dance the shadow of these lonely pines
and tonight we follow the rhythm of this howling wolf

We sing a song of our midnight glamour
Our eyes illuminate in high and low
I set the fire on the black holes gate
to keep us holding on until day light breaks
We are the stealer of the stars tonight
and silently we sing the echoes of this crying wolf

Under the crescent shades
We hide, dance and sing, and widely awake
Rovers of the mountain forgotten away
We hold the light of these silent nights
time goes by for these owl and wolf

Terjemahan Lagu:

Kami tidak perlu menyebutkan nama kami
dan barang-barang kami yang melayang di antaranya
Biarkan saya kabut di samping Anda
di bawah sayapmu sebagai raja dan ratu
Kami menari bayangan pohon pinus yang kesepian ini
dan malam ini kita mengikuti irama serigala melolong ini

Kami menyanyikan lagu glamor tengah malam kami
Mata kita bersinar tinggi dan rendah
Saya menyalakan api di gerbang lubang hitam
untuk membuat kita bertahan sampai fajar menyingsing
Kami adalah pencuri bintang-bintang malam ini
dan tanpa suara kita menyanyikan gema serigala yang menangis ini

Di bawah naungan bulan sabit
Kami bersembunyi, menari dan bernyanyi, dan sangat terjaga
Penunggang gunung terlupakan
Kami memegang cahaya malam yang sunyi ini
waktu berlalu untuk burung hantu dan serigala ini

Catatan:
diterjemahkan oleh Fatah Anshori, tentu saja melalui perantara Google Translate.

Ngaceng, Mashuri

Mulanya saya benar-benar pesimis jika mengaitkan kota kecil saya dengan potensi sastrawannya. Pasalnya di kota saya tidak ada toko buku semacam Gramedia atau Toga Mas yang banyak teman-teman temui di kota-kota besar. Kedua, saya tidak menjumpai seseorang tengah terdiam membaca buku di tempat-tempat umum, entah itu alun-alun kota, atau warung kopi yang kian hari kian menjamur di kanan kiri jalan raya. Ketiga, orang-orang di sini kurang lebih mirip orang-orang di dalam novel Tempat Paling Sunyi, atau Tanah Surga Merah.

Namun ketika saya akhirnya lulus kuliah, dan masih tidak ke mana-mana saya benar-benar salah besar. Kota kecil saya ternyata memiliki karya sastra dan sastrawan yang barangkali tidak bisa dipandang sebelah mata. Mulanya saya bertemu dengan Persinggahan Bayang-bayang, buku kumpulan puisi Bambang Kempling. Saya tidak pernah bertemu dengan Pak Bambang bahkan saya sempat berpikir Pak Bambang sudah tidak ada dan hanya Pseudo-Fiksi, bahwa di kota kecil saya pernah ada seorang penyair. Namun beberapa bulan kemudian akhirnya saya bisa melihat Pak Bambang, saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya hanya bisa melihatnya sambil mendengarkan ia berbicara dengan orang lain, tentang tombol on/off smartphonenya yang baru saja lepas dari tempatnya.

Selanjutnya kabar yang benar-benar membuat saya kian mencintai kota saya adalah kabar tentang adanya toko buku kecil di suatu kecamatan yang dikelola oleh seorang yang benar-benar mencintai sastra. Ia juga mengelola suatu situs yang menghimpun tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Sastra Indonesia. Dan sebenarnya toko buku itu pula yang telah menerbitkan buku kumpulan puisi Ngaceng, Mashuri ini. Tapi hingga hari ini (22/3) saya belum bisa berkunjung ke sana. Beberapa hari ke depan jika tuhan memberi kesempatan, saya akan berkunjung ke toko buku kecil itu untuk menemukan buku-buku menarik seperti Ngaceng, karya Pak Mashuri ini.

Nama Mashuri sendiri saya kenal saat membaca koran Kompas di tahun 2015, beberapa puisinya berhasil dimuat di sana. Saya membaca habis puisi-puisi itu. Namun saya lupa judul puisi-puisi itu. Tapi, secara keseluruhan puisi-puisi Mashuri menyenangkan untuk dibaca, hingga di ujung puisi, saya menemukan biodata penulis, saya menemukan kata Lamongan terselip di paragraf yang menjelaskan sekelumit tentang penulisnya. Entah berlebihan atau tidak saya benar-benar tercengang sekaligus senang ada orang Lamongan yang menulis puisi hingga berhasil dimuat Kompas.

Sejak saat itu saya diam-diam menyoroti Nama Mashuri, hingga akhirnya beberapa hari yang lalu saya menemukan buku beliau terselip di rak buku tua berdebu. Saya menemukan Ngaceng, kitab 99 puisi Mashuri. Ngaceng sendiri sebenarnya adalah bahasa lokal Lamongan, yang memiliki arti ereksi, bersangkutan dengan kelamin laki-laki. Pertama kali membaca judulnya saya terbayang perkara-perkara yang binal. Namun ketika membaca isinya, beliau seperti sedang mengantarkan saya ke tempat-tempat yang gelap, asing, namun saya seolah menikmati perjalanan itu dan secara tidak langsung juga berhasil melihat keindahan tempat-tempat itu. Mungkin hal itu boleh juga disebut sebagai pengalaman bawah sadar saya selama membaca Ngaceng.

Dalam puisi itu saya seolah melihat kelihaian seorang Mashuri melompat dari satu tempat ke tempat yang jauh. Jika lompatan dari satu imaji ke imaji yang lain butuh kekayaan kata atau fantasi yang berlebihan, diibaratkan sebagai kaki, maka Mashuri menurut saya telah memiliki kaki yang sangat kuat untuk melompat sejauh itu. Tidak hanya itu saja, dalam buku kumpulan puisi ini Mashuri seperti telah menunjukkan bagaimana puisi yang padat. Mungkin jika diibaratkan dengan rumah Mashuri telah berhasil memanfaatkan ruang dengan sangat efektif, tak ada ruang sia-sia di dalamnya. Dan tentunya dengan dekorasi yang menyenangkan, ia menyeleksi dengan sangat ketat benda-benda yang ingin ia masukkan ke dalam rumah. Menimbang dengan seksama apakah benda-benda itu diperlukan atau tidak. Bahkan ia juga berani memasukkan gajah ke dalam ruang tamu jika memang ruang tamu itu membutuhkan gajah. Saya menganggap Mashuri telah bekerja seperti itu dalam membangun puisi-puisi dalam buku Ngaceng.

Sementara istilah Ngaceng sendiri seolah memberi imaji pada sesuatu yang nakal, bahkan bisa dibilang kotor atau jorok, kata itu juga tentu saja tidak pantas untuk diucapkan di depan umum. Sebab memiliki makna ke arah perkelaminan, dan ketika membaca satu persatu puisinya, imaji-imaji itu terkesan baru dan tentu saja bertaburan kata-kata yang berdekatan dengan perkelaminan: payudara, farji, selangkangan. Namun buku kumpulan puisi ini seperti berusaha menunjukkan imaji-imaji yang indah dari perkara-perkara yang kerap dianggap itu suatu yang kotor dan hina. Menurut saya Mashuri telah berhasil menunjukkan imaji-imaji yang menyenangkan, baru, juga metafora yang tidak klise. Begitulah barangkali yang telah dilakukan Mashuri dalam membangun puisi-puisinya dalam Ngaceng, Kitab 99 Puisi Mashuri.

Terakhir sebagai catatan, buku puisi ini diterbitkan oleh penerbit PUstaka puJAngga yang di asuh oleh Nurel Jarvissyarqi, lelaki yang kata beberapa orang sangat berperan banyak dalam pertumbuhan sastra di Lamongan. Dan buku ini saya temukan di Kedai Baca Pustaka Ilalang, yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi.

Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Bermalam di Sebuah Desa

“Tapi aku sudah tujuh belas kali mendengar suara orang menyapu pada pukul tiga dini hari di rumah tua itu,” Mara dengan hati-hati memilah jalan di pematang sawah yang agak licin. Sepasang kaki indah itu seolah sudah terbiasa dengan jalanan di pematang sawah yang becek dan sedikit licin itu. Aku berjalan di belakangnya mengikuti ke mana ia akan pergi petang itu. Langit sudah tampak merah-merah kelabu, sesekali Camar-camar itu terbang melintas di atas kepala kami. Dan aku ingat kata-katanya barusan.

“Hanya Si Siluman itu yang bisa menyelesaikan segala urusan tentang demit.”

*

Orang-orang biasa memanggilnya Si Lelaki Orang Utan, Manusia Kera, Kera Sakti, Siluman Kera atau Si Siluman. Tapi setelah melihatnya di sebuah foto sefia, sebuah foto yang agak buram, yang beberapa bagiannya blur, mungkin karena terkena air atau udara yang lembab. Menurutku wajah lelaki itu masih tampak jelas meski hanya berwarna hitam putih dan agak kekuning-kuningan. Lelaki itu kurang lebih mirip Orang Utan dari pada kera. Dan berdasarkan desas-desus orang-orang dusun itu, lelaki itu telah berusia lebih dari satu setengah abad. Bahkan ada yang beranggapan ia kekal abadi dan tidak bisa mati, bumi tak mau menerima jasadnya. Orang-orang tua yang kini sudah mati pernah melihat dan bersaksi bahwa si Lelaki Orang Utan itu pernah terkena peluru senapan bagian dada kirinya. Saat itu para orang tua yakin bahwa Si Lelaki Orang Utan itu telah mati dan tidak bernyawa lagi ketika tubuhnya sepersekian detik melayang di udara. Orang-orang melihat matanya telah memutih dengan mulut menganga. Namun ketika tubuhnya jatuh dan menyentuh tanah Si Lelaki Orang Utan itu tiba-tiba bernapas dan segera berdiri, bekas lubang peluru yang menembus dada kirinya lenyap begitu saja seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Kejadian itu membuat para penjajah segera pergi dan tidak jadi mengacak-acak dusun.

Orang-orang juga mengakui bahwa waktu itu si Lelaki Orang Utan memang pelindung dusun. Ia adalah satu-satunya orang yang berani berdiri di garis paling depan ketika para penjajah hendak mengacak-acak dusun. Ia juga yang mengusir PKI ketika pada malam-malam yang sepi dan dingin mereka datang dan menyekap guru ngaji di surau. Orang-orang melihat bagaimana sabit dan pedang orang-orang PKI itu patah ketika mereka ayunkan dengan deras menghujam leher Si Lelaki Orang Utan. Seakan-akan tubuhnya terbuat dari baja. Lalu Si Lelaki Orang Utan itu hanya cukup berkata, “Pergilah dan jangan kembali lagi ke dusun ini!” Dan Orang-orang PKI itu tak pernah kembali lagi ke dusun itu hingga hari ini.

Namun keadaan semacam itu benar-benar membuat Si Lelaki Orang Utan tampak tak berguna. Pada hari-hari itu ia hanya bisa duduk-duduk di depan rumahnya yang reot dan hampir ambruk. Sesekali ia memandangi gadis-gadis desa yang hendak pergi ke sungai untuk keperluan mencuci dan sekalian mandi. Saat itulah Si Lelaki Orang Utan mulai mengetahui keindahan tubuh perempuan ketika diam-diam mengintip mereka yang mandi dari balik rerumputan yang tumbuh di pinggiran sungai.

Namun ketika Si Lelaki Orang Utan itu melamar dengan baik-baik kepada gadis-gadis itu, tak satupun dari mereka yang mau menerimanya. Gadis-gadis itu tidak mau memiliki lelaki yang mirip beruk katanya. Si Lelaki Orang Utan itu memang mirip dengan Orang Utan. Rahangnya besar dan maju ke depan, tubuhnya kekar dan entah kenapa tangannya tampak lebih panjang. Dan bulu-bulu di tubuhnya lebih lebat dari kebanyakan lelaki. Oleh karena itulah para gadis tidak mau dipinangnya. Beberapa mengaku lebih baik mati dari pada bersuami hewan.

Tidak lama setelah kejadian itu, mungkin hanya selang tiga atau lima hari tepatnya orang-orang tidak lagi melihat Si Lelaki Orang Utan duduk-duduk di warung kopi, memancing ikan di sungai, tiduran di gubuk milik para petani, dan tak satupun ada yang bertanya ke mana. Beberapa hanya mengira-ngira pasti ia kembali ke lubuk hutan, tempat ia berasal.

*

“Sebentar lagi kita akan memasuki hutan itu.”

“Apa kau benar-benar yakin akan ke sana?”

“Tentu saja, Pram. Kalau kau takut kau boleh pulang!”

“Bukan begitu,”

“Lalu?”

“Mungkin kita bisa memastikan lagi asal suara itu.”

“Aku sudah memastikannya sebanyak tujuh belas kali dan suara itu tidak pernah berasal dari mana-mana!”

Aku tahu Mara sedikit kesal denganku. Tapi bagaimanapun aku tidak ingin Mara pergi ke lubuk hutan itu dan membuat perjanjian dengan Si Lelaki Orang Utan. Aku tidak pernah percaya dengan kutukan atau apapun yang bersentuhan dengan klenik ataupun mitos. Aku percaya mitos hanyalah semacam dongeng-dongengan yang belum jelas keberadaannya namun sudah terlanjur diimani oleh orang-orang. Dan kali ini Mara, pacarku yang sedang melakukan studi penelitian tentang kearifan lokal di sini, sepertinya telah termakan mitos sialan itu. Aku ingin mengumpat ala orang sini: Jancuk tenan!

*

Kami tidak sengaja mendapatkan berita tentang dusun itu dari sobekan koran, yang digunakan sebagai pembungkus nasi kuning di warung kecil di samping kampus kami. Sebelum membuang bungkus itu, perhatianku tersita oleh sebuah judul berita: Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Bermalam di Sebuah Desa. Lalu aku menunjukkannya pada Mara yang sedang pusing memikirkan judul skripsinya. Dan setelah membacanya kami mendapatkan beberapa keganjilan tentang tempat itu, diantaranya penyebab kematian wisatawan yang memaksa untuk tinggal di dusun 7itu semalam saja, meski sudah diberi tahu bahwa jika penghuni kampung itu melebihi jumlah dari sembilan pasang keluarga maka selebihnya akan mati. Selama beberapa hari Mara memikirkan berita itu dan mencari sumber sebanyak-banyaknya tentang tempat itu, namun hasilnya nihil tak ada satupun artikel atau informasi yang tersebar tentang kampung itu, kecuali hanya keterangan adanya lokasi tempat itu dari Google Maps.

Akhirnya satu bulan kemudian kami pergi ke tempat itu setelah dosen penguji menyetujui judul penelitian yang diajukan Mara. Di Bungurasih kami menunggu bus jurusan kota kecil itu. Sekitar lima belas menit kami menunggu kedatangan bus kelas ekonomi tersebut. Sebagai mahasiswa kelas menengah ke bawah tentu saja kami harus pintar-pintar mengelola pengeluaran, apalagi kami juga tidak tahu harus berapa lama penelitian itu selesai. Di dalam bus kami terpaksa berdiri karena seluruh kursi penumpang penuh. Dan sialnya lagi kernet bus itu tak berhenti memasukkan penumpang meski kursinya telah habis, aku tahu orang macam itu di kepalanya hanya ada uang, dan selalu mencari cara agar hidupnya selalu untung tak peduli orang lain buntung. Sesekali bus yang kami tumpangi berhenti dipinggir jalan memasukkan penumpang, juga pengamen amatir yang cacat dan suka mengintimidasi penumpang ketika mereka tak memberinya recehan. Ketika sudah sampai kota tujuan, bus itu menurunkan kami di sebuah pertigaan. Di sana berjejer warung-warung kecil nan kumuh yang dibangun seadanya menggunakan papan-papan kayu . Beberapa orang di dalam warung itu memandangi kami dengan pandangan yang seolah-olah sedang mencurigai. Aku dan Mara berjalan ke salah satu warung dan menyerahkan potongan koran itu ke salah satu lelaki dengan perut buncit yang sedang menghisap rokok.

“Maaf, apa ada yang tahu tempat ini?” Aku menunjuk ke koran usang itu, lelaki yang membawa koran tadi menyerahkan koran itu pada lelaki yang berada di sampingnya, mereka seperti terkejut. Dan sejenak berbisik-bisik satu sama lain seakan-akan sedang merencanakan sesuatu.

“Lima puluh ribu sampai ke tempat itu, kalau berdua jadi seratus.”

Perkataan lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa itu penawaran, tetapi sebaliknya lebih mengarah ke pemaksaan. Aku menatap Mara, sebagai isyarat bagaimana? Dan ia hanya mengangguk pasrah.

“Baiklah!” Jawabku.

“Tapi kami hanya bisa mengantarkan kalian tepat di depan gapura dusun itu. Selebihnya kalian harus jalan kaki sendiri untuk ke sana.”

Jika ini di kotaku sendiri mungkin aku sudah memukul dua lelaki sialan itu, berhubung ini di kota orang dan kami tidak sedang ingin mencari masalah, kami terpaksa mengikuti alur yang mereka buat. Akhirnya dua lelaki itu mengantar kami dengan motor bebeknya. Perjalanan ke tempat itu kurang lebih memakan waktu hampir setengah jam. Dan seperti kata mereka, kami harus turun di depan gapura bertuliskan huruf yang sudah tidak jelas, tapi kami tahu maksud huruf-huruf itu tidak lain ingin menyebut: Alas Wangon.

Sore itu tak ada tanda-tanda ada kendaraan masuk ke Alas Wangon, dua lelaki tadi langsung pergi setelah kami mengeluarkan selembar uang merah yang mereka inginkan. Langit berwarna merah kelabu seperti warna kesedihan seakan-akan duka yang dalam mengendap di langit itu. Aku dan Mara terpaksa berjalan kaki menuju Alas Wangon, jalanan berbatu, di sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon Asem, Mahoni, juga Jati. Jalan itu memang seperti sebuah lorong yang mengantarkan ke dunia antah berantah. Jika tidak karena Mara aku tidak akan pernah mau pergi ke tempat aneh itu.

Di tengah perjalanan kami melihat sebuah warung kecil di kanan jalan. Sebuah warung yang terbuat dari batang-batang bambu. Sepertinya sedari pagi kami hanya makan sekali, dan dari luar kami dapat mencium aroma harum masakan. Dan tidak lama kemudian aku mendengar perutku berbunyi. Kemudian aku dan Mara saling pandang. Untuk beberapa saat saling tertawa.

“Baiklah kita istirahat dulu di warung kecil itu?” Kata Mara sambil tersenyum manis padaku. Aku tidak bisa melupakan senyumnya. Itu adalah senyum yang mirip senyum pertama ketika kami bertemu pada masa Ospek dulu.

“Pesan apa?”

“Adanya apa Pak?” Sebelum bertanya aku menyisir seluruh ruang dan tak menemukan papan bertuliskan menu makanan.

Kemudian Pak Tua itu menyebutkan seluruh menunya.

“Pecel Lele dua, minumnya es teh.” Kataku, sepertinya kami berdua ingin merasakan makanan itu di kota yang merupakan rumahnya sendiri.

Pak Tua itu hanya mengangguk lantas segera kembali ke penggorengannya. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan warung ini. Perasaanku saat itu.

“Sepertinya kalian orang luar ya?” Sambil menyiapkan pesanan kami Pak Tua itu bertanya.

“Iya,” kata Mara. “Kami akan melakukan sedikit penelitian di Alas Wangon.”

“Apa kalian tahu Alas Wangon tidak seperti kampung pada umumnya?”

Kami mengangguk, seraya menelan ludah.

“Kampung itu hanya boleh ditinggali sembilan kepala keluarga saja, jika kalian sudah menikah sebaiknya kalian pergi jika tidak ingin mati.”

“Kenapa bisa seperti itu Pak?”

“Seorang lelaki di ceruk hutan itulah yang mengerti seluruh kejadian-kejadian ganjil di kampung. Tapi sudah lama tak satupun orang kampung melihat sosoknya, sejak pengusiran PKI di tahun enam lima dulu. Meski sudah terlalu lama, orang-orang kampung itu meyakini bahwa Si Lelaki masih hidup, ia sakti, dan tak bisa mati. Dan barangkali kekal. Dialah yang membuat Alas Wangon seperti itu. Beberapa hari setelah kepergiannya ke hutan. Orang-orang kampung meninggal secara bersamaan, hanya menyisakan sembilan kepala keluarga. Dan hingga kini hanya ada sembilan kepala keluarga. Memang kata orang banyak kejadian-kejadian ganjil yang tidak masuk akal di sana.”

Pak Tua itu menceritakan banyak tentang Alas Wangon. Tentang rumah-rumah kosong, ladang jagung, ikan-ikan di waduk, dan larangan untuk memasuki hutan tempat di mana si Lelaki Orang Utan tinggal. Setelah selesai makan, kami segera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Pak Tua menyarankan kami untuk menunggu sejenak. Sebentar lagi ada tumpangan gratis. Dan benar tidak lama kemudian dari arah utara datang sebuah kereta yang di tarik oleh dua ekor sapi dan lelaki dengan capil duduk tepat di belakang dua ekor sapi sambil membawa cambuk. Itulah kendaraan yang kami tumpangi menuju Alas Wangon.

*

Di depanku Mara masih saja berjalan, kakinya yang indah tampak lincah melompat dari batu ke batu untuk menyeberangi sungai yang arusnya tidak terlalu deras, namun sepertinya cukup untuk menghanyutkan kita berdua. Di ujung sungai yang kami seberangi terdengar suara gemuruh air. Sepertinya di sana ada semacam air terjun yang tingginya barangkali lebih dari sepuluh meter.

“Apa kau yakin mau menemui lelaki itu?”

“Sudahlah, Pram. Jika kau takut tidak usah ikuti aku.”

Memang sedikit banyak aku takut, tapi aku akan tampak pengecut, banci, dan lebih perempuan dari perempuanku itu, jika aku takut dan memutuskan untuk pulang. Akhirnya kami terus berjalan melewati semak-semak, pohon-pohon jati, trembesi, mahoni, di sela-sela pohon-pohon itu kadang juga tumbuh pohon pisang. Di dekat pohon-pohon pisang itu ada petak-petak tanah yang dipenuhi rumput liar, dulunya petak-petak itu adalah ladang warga. Namun karena sudah lama tak digunakan mungkin karena pemiliknya telah mati atau keluar dari desa sehingga petak-petak ladang itu tak terawat dan lebat dipenuhi dengan rumput-rumput.

“Sebentar lagi kita akan memasuki lubuk hutan di mana si laki-laki itu tinggal.”

Tepat beberapa meter di depan kami pohon-pohon tinggi dan lebat yang entah aku tidak tahu nama dan jenisnya. Sebelum memasuki lubuk hutan, di langit, di atas hutan itu kawanan burung gagak terbang dan sesekali berkoak. Suaranya seakan-akan sedang mengantarkan kami ke dunia entah.

*

“Sepertinya cuma dia yang bisa mengendalikan setan-setan di sini. Dialah satu-satunya orang yang pernah berhubungan dengan dunia antah berantah itu. Menurut para orang tua ketika ia masih di desa tak ada yang bisa melukainya. Beberapa Orang Pintar bersaksi ada puluhan bahkan ratusan Lelembut yang melindunginya.”

“Apa kutukan dan setan-setan yang kerap mengganggu orang-orang itu juga karena ulahnya?” Tanya Mara pada Pak Salim, Kasun Alas Wangon.

“Kelihatannya seperti itu, mungkin ia merasa telah disakiti oleh para perempuan sini. Tidak ada satupun yang mau menerima cintanya waktu itu?”

“Apakah kutukan itu akan berakhir jika ada seorang perempuan yang mau menerimanya?”

“Entahlah, mungkin iya mungkin tidak.” Kata Pak Salim, sambil mengantarkan kami ke sebuah rumah yang akan kami tinggali selama sebulan melakukan penelitian.

*

Sepertinya kami sudah lebih dari dua jam berjalan kaki. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Si Lelaki Orang Utan itu. Sementara di depanku Mara masih berjalan menyibak semak, memotong sulur, menghindari duri-duri yang tajam. Dan sepertinya ada yang aneh di hutan ini. Aku melihat ke atas langit masih tampak jingga, dan kelepak burung sesekali masih terdengar. Tidak ada yang perlu dirisaukan, tak ada tanda-tanda hujan akan datang.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Mara tiba-tiba.

Aku segera melihat jam tangan digitalku. “20.45 ada apa?”

“Lihatlah ke atas!” Meskipun aku baru saja melihat langit, aku menuruti perintah Mara. Aku melirik ke atas dan Langit masih tampak jingga, tiga burung yang berwarna legam terbang melintas diatas kami. Iya langit masih berwarna jingga. Aku melirik jam tangan digitalku. 20.47

“Apa kau tahu, Pram. Kita sudah berada di jalan yang benar. Jadi tenanglah sebentar lagi kita akan bertemu dengan Si Siluman.”

*

“Barangkali jika ada perempuan yang menerima cintanya, dusun ini akan terbebas dari kutukan juga segala demit, yang kerap mengganggu orang-orang.” Begitu kata Mara pada suatu sore ketika kita berjalan menyusuri pematang di sebelah selatan dusun. Petak-petak sawah warga tidak banyak yang berisi padi, kebanyakan tidak terawat dan hanya berisi rumput-rumput liar yang meninggi hingga paha. Kami tahu semua ini karena sedikitnya warga yang tinggal di dusun. Sambil merenungi kesedihan yang seperti mengambang di atas hamparan petak-petak sawah yang dibiarkan tak terurus kami memutuskan untuk duduk di sebuak gubuk panggung yang terbuat dari bambu. Sepertinya hanya gubuk ini yang masih kokoh berdiri di sebuah petak sawah yang dipenuhi rumput.

Kami memandangi langit yang bersih di sebelah selatan. Aku melirik Mara yang duduk di sebelah kananku. Ia hanya diam saja sejak tadi, matanya berkilauan. Bibirnya merona sekali dan tampak basah. Sore itu ia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing baju di dekat leher yang keluar dari lubangnya. Dan itu membuatku bisa melihat keindahan di celah dadanya. Aku tahu Mara menyadari aku sedang melirik ke mana. Lalu benar-benar seperti mimpi, kedua tangan Mara bergerak sendiri sesuai apa yang kupikirkan sejak tadi. Jari-jari yang lentik itu secara perlahan mengeluarkan satu persatu kancing itu dari lubangnya. Kemudian ia mendorongku, rebah di gubuk bambu yang sedikit reot tapi masih kokoh.

“Sore ini aku milikmu Pram!”

*

“Kau dengar itu Pram?” Kata Mara tiba-tiba. Ia berhenti di depanku dan matanya menyisir dahan-dahan pohon yang tinggi besar itu. Di sebuah pohon kami melihat anak kera. Anak kera itu melihat kami. Kami juga melihatnya. Kemudian ia berlari. Aku dan Mara saling pandang sebentar, kemudian berlari mengikuti anak kera itu. Kami menyibak rerumput, melompati batu-batu, sambil sesekali melihat anak kera itu tanpa kesulitan melompat dari ranting ke ranting. Sialan, mungkin dia sedang tertawa melihat kami kesulitan.

“Tidak ada yang tahu jalan ke sana, keyakinanmu lah yang akan mengantarkan ke sana. Namun jika kau sudah melihat kera yang melompat-lompat di ranting. Itu tandanya kau sudah hampir dekat dengan tempat Si Siluman.” Sepertinya Mara juga masih ingat dengan ucapan seseorang yang kami jumpai sepulang dari gubuk bambu. Ia lelaki tua nan ringkih yang kerap mencari kayu bakar di hutan.

Tidak lama kemudian, setelah melewati dataran yang agak terjal, kami melihat sebuah rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu. Dan di tengah-tengahnya seperti sedang digelar sebuah pesta. Orang-orang tampak bahagia mereka membawa piring dan bergerak dari tungku satu ke tungku yang lain sambil mencicipi isi makanannya. Kami tidak pernah mendengar ada perkampungan di tengah-tengah hutan. Orang-orang Alas Wangon tak pernah sekalipun menceritakan perkampungan ini.

“Dari mana saja kalian? Ayo ikut aku kalian sudah ditunggu sejak tadi.” Perempuan Bersanggul yang entah siapa itu tiba-tiba meraih tangan Mara, dan memaksanya ikut dengan dia. Sementara aku hanya bisa berjalan di belakang perempuan itu. Melihat orang-orang yang riuh di lapangan, mereka seperti bercakap-cakap, sambil berjalan dari satu tungku ke tungku yang lain. Di tungku-tungku yang tergantung di sebuah tongkat di atas perapian itu, sepertinya berisi bermacam makanan. Lalu seseorang tiba-tiba meraih tanganku, telapak tangannya benar-benar kasar, ia memberiku sebuah piring.

“Makanlah sesukamu Bocah!” Kata Si Lelaki, aku menuruti permintaannya melihat-lihat makanan yang berada di tungku. Aku belum pernah melihat jenis makanan itu. Kebanyakan seperti slime dengan aroma yang menyengat dan benar-benar membuatku ingin muntah. Si Lelaki mengguyurkan slime itu ke piringku.

“Makanlah yang lahap sebentar lagi pesta pernikahannya akan dimulai, dan kau tak boleh mencicipi makanan ini.”

“Siapa yang akan menikah?” Tanyaku.

“Tentu saja Raja kita!”

Dan beberapa saat kemudian di podium, aku melihat lelaki dengan dada yang bidang dan besar. Kedua tangannya juga besar dan panjang, rahangnya agak menjorok ke depan. Ia mengenakan jas hitam dan dasi kupu-kupu menempel di pangkal lehernya. Di belakangnya seorang perempuan mengenakan gaun berwarna putih. Dan ketika aku melihat wajah si perempuan, aku berteriak memanggil namanya. Tapi si perempuan sama sekali tak mendengarku, sementara orang-orang itu melihat ke arahku. Mereka membungkam mulutku. Memegangi kedua tangan dan kaki.

“Diam kau Manusia, lebih baik kau kembali ke duniamu!” Itu adalah Si Lelaki yang mengguyurkan slime ke piringku. Ia membawa gada. Dan ketika ia hantamkan ke kepalaku, tubuhku tiba-tiba seperti kapas yang melayang-layang di ruang hampa.

*

Aku mencium asap rokok, ketika mataku sedikit terbuka, aku mendapati bocah itu duduk di lantai di dekat kepalaku. Ia membaca Kumara, novel S Jai. Di cover depannya yang berwarna gelap aku bisa membaca bahwa novel itu pernah memenangi Sayembara Sastra, dan ilustrasi cover itu selalu saja menggangguku, seperti seorang perempuan yang dibalut dengan kafan. Tapi sepertinya ada sesuatu yang telah kulupakan. Bocah itu terbatuk setelah menghisap rokoknya. Aku membayangkan proses difusi di paru-parunya, spiral-spiral hemoglobin itu membawa asap rokok ke rubuhnya. Bocah itu terbatuk lagi. Aku membaca judul novel itu. Kumara. Seperti ada yang telah hilang. Kumara. Ku-Ma-Ra. Kuma-Ra. Ku-Mara.

“Dos apa kau tahu Mara sekarang di mana?” Aku baru ingat Mara.

“Siapa yang kau maksud, aku baru mendengar nama itu?”

Dos atau si bocah itu memang seperti sampah, tidak pernah bisa diandalkan. Lalu aku melihat sebuah foto yang kutempel di dinding kamar. Di foto itu aku hanya berdiri sendirian di pantai, dan tanganku seperti hanya menggenggam udara.[]

—Lamongan, Februari 2019