Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Bermalam di Sebuah Desa

sumber foto pixabay

sumber foto pixabay

“Tapi aku sudah tujuh belas kali mendengar suara orang menyapu pada pukul tiga dini hari di rumah tua itu,” Mara dengan hati-hati memilah jalan di pematang sawah yang agak licin. Sepasang kaki indah itu seolah sudah terbiasa dengan jalanan di pematang sawah yang becek dan sedikit licin itu. Aku berjalan di belakangnya mengikuti ke mana ia akan pergi petang itu. Langit sudah tampak merah-merah kelabu, sesekali Camar-camar itu terbang melintas di atas kepala kami. Dan aku ingat kata-katanya barusan.

“Hanya Si Siluman itu yang bisa menyelesaikan segala urusan tentang demit.”

*

Orang-orang biasa memanggilnya Si Lelaki Orang Utan, Manusia Kera, Kera Sakti, Siluman Kera atau Si Siluman. Tapi setelah melihatnya di sebuah foto sefia, sebuah foto yang agak buram, yang beberapa bagiannya blur, mungkin karena terkena air atau udara yang lembab. Menurutku wajah lelaki itu masih tampak jelas meski hanya berwarna hitam putih dan agak kekuning-kuningan. Lelaki itu kurang lebih mirip Orang Utan dari pada kera. Dan berdasarkan desas-desus orang-orang dusun itu, lelaki itu telah berusia lebih dari satu setengah abad. Bahkan ada yang beranggapan ia kekal abadi dan tidak bisa mati, bumi tak mau menerima jasadnya. Orang-orang tua yang kini sudah mati pernah melihat dan bersaksi bahwa si Lelaki Orang Utan itu pernah terkena peluru senapan bagian dada kirinya. Saat itu para orang tua yakin bahwa Si Lelaki Orang Utan itu telah mati dan tidak bernyawa lagi ketika tubuhnya sepersekian detik melayang di udara. Orang-orang melihat matanya telah memutih dengan mulut menganga. Namun ketika tubuhnya jatuh dan menyentuh tanah Si Lelaki Orang Utan itu tiba-tiba bernapas dan segera berdiri, bekas lubang peluru yang menembus dada kirinya lenyap begitu saja seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Kejadian itu membuat para penjajah segera pergi dan tidak jadi mengacak-acak dusun.

Orang-orang juga mengakui bahwa waktu itu si Lelaki Orang Utan memang pelindung dusun. Ia adalah satu-satunya orang yang berani berdiri di garis paling depan ketika para penjajah hendak mengacak-acak dusun. Ia juga yang mengusir PKI ketika pada malam-malam yang sepi dan dingin mereka datang dan menyekap guru ngaji di surau. Orang-orang melihat bagaimana sabit dan pedang orang-orang PKI itu patah ketika mereka ayunkan dengan deras menghujam leher Si Lelaki Orang Utan. Seakan-akan tubuhnya terbuat dari baja. Lalu Si Lelaki Orang Utan itu hanya cukup berkata, “Pergilah dan jangan kembali lagi ke dusun ini!” Dan Orang-orang PKI itu tak pernah kembali lagi ke dusun itu hingga hari ini.

Namun keadaan semacam itu benar-benar membuat Si Lelaki Orang Utan tampak tak berguna. Pada hari-hari itu ia hanya bisa duduk-duduk di depan rumahnya yang reot dan hampir ambruk. Sesekali ia memandangi gadis-gadis desa yang hendak pergi ke sungai untuk keperluan mencuci dan sekalian mandi. Saat itulah Si Lelaki Orang Utan mulai mengetahui keindahan tubuh perempuan ketika diam-diam mengintip mereka yang mandi dari balik rerumputan yang tumbuh di pinggiran sungai.

Namun ketika Si Lelaki Orang Utan itu melamar dengan baik-baik kepada gadis-gadis itu, tak satupun dari mereka yang mau menerimanya. Gadis-gadis itu tidak mau memiliki lelaki yang mirip beruk katanya. Si Lelaki Orang Utan itu memang mirip dengan Orang Utan. Rahangnya besar dan maju ke depan, tubuhnya kekar dan entah kenapa tangannya tampak lebih panjang. Dan bulu-bulu di tubuhnya lebih lebat dari kebanyakan lelaki. Oleh karena itulah para gadis tidak mau dipinangnya. Beberapa mengaku lebih baik mati dari pada bersuami hewan.

Tidak lama setelah kejadian itu, mungkin hanya selang tiga atau lima hari tepatnya orang-orang tidak lagi melihat Si Lelaki Orang Utan duduk-duduk di warung kopi, memancing ikan di sungai, tiduran di gubuk milik para petani, dan tak satupun ada yang bertanya ke mana. Beberapa hanya mengira-ngira pasti ia kembali ke lubuk hutan, tempat ia berasal.

*

“Sebentar lagi kita akan memasuki hutan itu.”

“Apa kau benar-benar yakin akan ke sana?”

“Tentu saja, Pram. Kalau kau takut kau boleh pulang!”

“Bukan begitu,”

“Lalu?”

“Mungkin kita bisa memastikan lagi asal suara itu.”

“Aku sudah memastikannya sebanyak tujuh belas kali dan suara itu tidak pernah berasal dari mana-mana!”

Aku tahu Mara sedikit kesal denganku. Tapi bagaimanapun aku tidak ingin Mara pergi ke lubuk hutan itu dan membuat perjanjian dengan Si Lelaki Orang Utan. Aku tidak pernah percaya dengan kutukan atau apapun yang bersentuhan dengan klenik ataupun mitos. Aku percaya mitos hanyalah semacam dongeng-dongengan yang belum jelas keberadaannya namun sudah terlanjur diimani oleh orang-orang. Dan kali ini Mara, pacarku yang sedang melakukan studi penelitian tentang kearifan lokal di sini, sepertinya telah termakan mitos sialan itu. Aku ingin mengumpat ala orang sini: Jancuk tenan!

*

Kami tidak sengaja mendapatkan berita tentang dusun itu dari sobekan koran, yang digunakan sebagai pembungkus nasi kuning di warung kecil di samping kampus kami. Sebelum membuang bungkus itu, perhatianku tersita oleh sebuah judul berita: Sepasang Wisatawan Tiba-tiba Tak Bernyawa Setelah Bermalam di Sebuah Desa. Lalu aku menunjukkannya pada Mara yang sedang pusing memikirkan judul skripsinya. Dan setelah membacanya kami mendapatkan beberapa keganjilan tentang tempat itu, diantaranya penyebab kematian wisatawan yang memaksa untuk tinggal di dusun 7itu semalam saja, meski sudah diberi tahu bahwa jika penghuni kampung itu melebihi jumlah dari sembilan pasang keluarga maka selebihnya akan mati. Selama beberapa hari Mara memikirkan berita itu dan mencari sumber sebanyak-banyaknya tentang tempat itu, namun hasilnya nihil tak ada satupun artikel atau informasi yang tersebar tentang kampung itu, kecuali hanya keterangan adanya lokasi tempat itu dari Google Maps.

Akhirnya satu bulan kemudian kami pergi ke tempat itu setelah dosen penguji menyetujui judul penelitian yang diajukan Mara. Di Bungurasih kami menunggu bus jurusan kota kecil itu. Sekitar lima belas menit kami menunggu kedatangan bus kelas ekonomi tersebut. Sebagai mahasiswa kelas menengah ke bawah tentu saja kami harus pintar-pintar mengelola pengeluaran, apalagi kami juga tidak tahu harus berapa lama penelitian itu selesai. Di dalam bus kami terpaksa berdiri karena seluruh kursi penumpang penuh. Dan sialnya lagi kernet bus itu tak berhenti memasukkan penumpang meski kursinya telah habis, aku tahu orang macam itu di kepalanya hanya ada uang, dan selalu mencari cara agar hidupnya selalu untung tak peduli orang lain buntung. Sesekali bus yang kami tumpangi berhenti dipinggir jalan memasukkan penumpang, juga pengamen amatir yang cacat dan suka mengintimidasi penumpang ketika mereka tak memberinya recehan. Ketika sudah sampai kota tujuan, bus itu menurunkan kami di sebuah pertigaan. Di sana berjejer warung-warung kecil nan kumuh yang dibangun seadanya menggunakan papan-papan kayu . Beberapa orang di dalam warung itu memandangi kami dengan pandangan yang seolah-olah sedang mencurigai. Aku dan Mara berjalan ke salah satu warung dan menyerahkan potongan koran itu ke salah satu lelaki dengan perut buncit yang sedang menghisap rokok.

“Maaf, apa ada yang tahu tempat ini?” Aku menunjuk ke koran usang itu, lelaki yang membawa koran tadi menyerahkan koran itu pada lelaki yang berada di sampingnya, mereka seperti terkejut. Dan sejenak berbisik-bisik satu sama lain seakan-akan sedang merencanakan sesuatu.

“Lima puluh ribu sampai ke tempat itu, kalau berdua jadi seratus.”

Perkataan lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa itu penawaran, tetapi sebaliknya lebih mengarah ke pemaksaan. Aku menatap Mara, sebagai isyarat bagaimana? Dan ia hanya mengangguk pasrah.

“Baiklah!” Jawabku.

“Tapi kami hanya bisa mengantarkan kalian tepat di depan gapura dusun itu. Selebihnya kalian harus jalan kaki sendiri untuk ke sana.”

Jika ini di kotaku sendiri mungkin aku sudah memukul dua lelaki sialan itu, berhubung ini di kota orang dan kami tidak sedang ingin mencari masalah, kami terpaksa mengikuti alur yang mereka buat. Akhirnya dua lelaki itu mengantar kami dengan motor bebeknya. Perjalanan ke tempat itu kurang lebih memakan waktu hampir setengah jam. Dan seperti kata mereka, kami harus turun di depan gapura bertuliskan huruf yang sudah tidak jelas, tapi kami tahu maksud huruf-huruf itu tidak lain ingin menyebut: Alas Wangon.

Sore itu tak ada tanda-tanda ada kendaraan masuk ke Alas Wangon, dua lelaki tadi langsung pergi setelah kami mengeluarkan selembar uang merah yang mereka inginkan. Langit berwarna merah kelabu seperti warna kesedihan seakan-akan duka yang dalam mengendap di langit itu. Aku dan Mara terpaksa berjalan kaki menuju Alas Wangon, jalanan berbatu, di sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon Asem, Mahoni, juga Jati. Jalan itu memang seperti sebuah lorong yang mengantarkan ke dunia antah berantah. Jika tidak karena Mara aku tidak akan pernah mau pergi ke tempat aneh itu.

Di tengah perjalanan kami melihat sebuah warung kecil di kanan jalan. Sebuah warung yang terbuat dari batang-batang bambu. Sepertinya sedari pagi kami hanya makan sekali, dan dari luar kami dapat mencium aroma harum masakan. Dan tidak lama kemudian aku mendengar perutku berbunyi. Kemudian aku dan Mara saling pandang. Untuk beberapa saat saling tertawa.

“Baiklah kita istirahat dulu di warung kecil itu?” Kata Mara sambil tersenyum manis padaku. Aku tidak bisa melupakan senyumnya. Itu adalah senyum yang mirip senyum pertama ketika kami bertemu pada masa Ospek dulu.

“Pesan apa?”

“Adanya apa Pak?” Sebelum bertanya aku menyisir seluruh ruang dan tak menemukan papan bertuliskan menu makanan.

Kemudian Pak Tua itu menyebutkan seluruh menunya.

“Pecel Lele dua, minumnya es teh.” Kataku, sepertinya kami berdua ingin merasakan makanan itu di kota yang merupakan rumahnya sendiri.

Pak Tua itu hanya mengangguk lantas segera kembali ke penggorengannya. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan warung ini. Perasaanku saat itu.

“Sepertinya kalian orang luar ya?” Sambil menyiapkan pesanan kami Pak Tua itu bertanya.

“Iya,” kata Mara. “Kami akan melakukan sedikit penelitian di Alas Wangon.”

“Apa kalian tahu Alas Wangon tidak seperti kampung pada umumnya?”

Kami mengangguk, seraya menelan ludah.

“Kampung itu hanya boleh ditinggali sembilan kepala keluarga saja, jika kalian sudah menikah sebaiknya kalian pergi jika tidak ingin mati.”

“Kenapa bisa seperti itu Pak?”

“Seorang lelaki di ceruk hutan itulah yang mengerti seluruh kejadian-kejadian ganjil di kampung. Tapi sudah lama tak satupun orang kampung melihat sosoknya, sejak pengusiran PKI di tahun enam lima dulu. Meski sudah terlalu lama, orang-orang kampung itu meyakini bahwa Si Lelaki masih hidup, ia sakti, dan tak bisa mati. Dan barangkali kekal. Dialah yang membuat Alas Wangon seperti itu. Beberapa hari setelah kepergiannya ke hutan. Orang-orang kampung meninggal secara bersamaan, hanya menyisakan sembilan kepala keluarga. Dan hingga kini hanya ada sembilan kepala keluarga. Memang kata orang banyak kejadian-kejadian ganjil yang tidak masuk akal di sana.”

Pak Tua itu menceritakan banyak tentang Alas Wangon. Tentang rumah-rumah kosong, ladang jagung, ikan-ikan di waduk, dan larangan untuk memasuki hutan tempat di mana si Lelaki Orang Utan tinggal. Setelah selesai makan, kami segera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Pak Tua menyarankan kami untuk menunggu sejenak. Sebentar lagi ada tumpangan gratis. Dan benar tidak lama kemudian dari arah utara datang sebuah kereta yang di tarik oleh dua ekor sapi dan lelaki dengan capil duduk tepat di belakang dua ekor sapi sambil membawa cambuk. Itulah kendaraan yang kami tumpangi menuju Alas Wangon.

*

Di depanku Mara masih saja berjalan, kakinya yang indah tampak lincah melompat dari batu ke batu untuk menyeberangi sungai yang arusnya tidak terlalu deras, namun sepertinya cukup untuk menghanyutkan kita berdua. Di ujung sungai yang kami seberangi terdengar suara gemuruh air. Sepertinya di sana ada semacam air terjun yang tingginya barangkali lebih dari sepuluh meter.

“Apa kau yakin mau menemui lelaki itu?”

“Sudahlah, Pram. Jika kau takut tidak usah ikuti aku.”

Memang sedikit banyak aku takut, tapi aku akan tampak pengecut, banci, dan lebih perempuan dari perempuanku itu, jika aku takut dan memutuskan untuk pulang. Akhirnya kami terus berjalan melewati semak-semak, pohon-pohon jati, trembesi, mahoni, di sela-sela pohon-pohon itu kadang juga tumbuh pohon pisang. Di dekat pohon-pohon pisang itu ada petak-petak tanah yang dipenuhi rumput liar, dulunya petak-petak itu adalah ladang warga. Namun karena sudah lama tak digunakan mungkin karena pemiliknya telah mati atau keluar dari desa sehingga petak-petak ladang itu tak terawat dan lebat dipenuhi dengan rumput-rumput.

“Sebentar lagi kita akan memasuki lubuk hutan di mana si laki-laki itu tinggal.”

Tepat beberapa meter di depan kami pohon-pohon tinggi dan lebat yang entah aku tidak tahu nama dan jenisnya. Sebelum memasuki lubuk hutan, di langit, di atas hutan itu kawanan burung gagak terbang dan sesekali berkoak. Suaranya seakan-akan sedang mengantarkan kami ke dunia entah.

*

“Sepertinya cuma dia yang bisa mengendalikan setan-setan di sini. Dialah satu-satunya orang yang pernah berhubungan dengan dunia antah berantah itu. Menurut para orang tua ketika ia masih di desa tak ada yang bisa melukainya. Beberapa Orang Pintar bersaksi ada puluhan bahkan ratusan Lelembut yang melindunginya.”

“Apa kutukan dan setan-setan yang kerap mengganggu orang-orang itu juga karena ulahnya?” Tanya Mara pada Pak Salim, Kasun Alas Wangon.

“Kelihatannya seperti itu, mungkin ia merasa telah disakiti oleh para perempuan sini. Tidak ada satupun yang mau menerima cintanya waktu itu?”

“Apakah kutukan itu akan berakhir jika ada seorang perempuan yang mau menerimanya?”

“Entahlah, mungkin iya mungkin tidak.” Kata Pak Salim, sambil mengantarkan kami ke sebuah rumah yang akan kami tinggali selama sebulan melakukan penelitian.

*

Sepertinya kami sudah lebih dari dua jam berjalan kaki. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Si Lelaki Orang Utan itu. Sementara di depanku Mara masih berjalan menyibak semak, memotong sulur, menghindari duri-duri yang tajam. Dan sepertinya ada yang aneh di hutan ini. Aku melihat ke atas langit masih tampak jingga, dan kelepak burung sesekali masih terdengar. Tidak ada yang perlu dirisaukan, tak ada tanda-tanda hujan akan datang.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Mara tiba-tiba.

Aku segera melihat jam tangan digitalku. “20.45 ada apa?”

“Lihatlah ke atas!” Meskipun aku baru saja melihat langit, aku menuruti perintah Mara. Aku melirik ke atas dan Langit masih tampak jingga, tiga burung yang berwarna legam terbang melintas diatas kami. Iya langit masih berwarna jingga. Aku melirik jam tangan digitalku. 20.47

“Apa kau tahu, Pram. Kita sudah berada di jalan yang benar. Jadi tenanglah sebentar lagi kita akan bertemu dengan Si Siluman.”

*

“Barangkali jika ada perempuan yang menerima cintanya, dusun ini akan terbebas dari kutukan juga segala demit, yang kerap mengganggu orang-orang.” Begitu kata Mara pada suatu sore ketika kita berjalan menyusuri pematang di sebelah selatan dusun. Petak-petak sawah warga tidak banyak yang berisi padi, kebanyakan tidak terawat dan hanya berisi rumput-rumput liar yang meninggi hingga paha. Kami tahu semua ini karena sedikitnya warga yang tinggal di dusun. Sambil merenungi kesedihan yang seperti mengambang di atas hamparan petak-petak sawah yang dibiarkan tak terurus kami memutuskan untuk duduk di sebuak gubuk panggung yang terbuat dari bambu. Sepertinya hanya gubuk ini yang masih kokoh berdiri di sebuah petak sawah yang dipenuhi rumput.

Kami memandangi langit yang bersih di sebelah selatan. Aku melirik Mara yang duduk di sebelah kananku. Ia hanya diam saja sejak tadi, matanya berkilauan. Bibirnya merona sekali dan tampak basah. Sore itu ia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing baju di dekat leher yang keluar dari lubangnya. Dan itu membuatku bisa melihat keindahan di celah dadanya. Aku tahu Mara menyadari aku sedang melirik ke mana. Lalu benar-benar seperti mimpi, kedua tangan Mara bergerak sendiri sesuai apa yang kupikirkan sejak tadi. Jari-jari yang lentik itu secara perlahan mengeluarkan satu persatu kancing itu dari lubangnya. Kemudian ia mendorongku, rebah di gubuk bambu yang sedikit reot tapi masih kokoh.

“Sore ini aku milikmu Pram!”

*

“Kau dengar itu Pram?” Kata Mara tiba-tiba. Ia berhenti di depanku dan matanya menyisir dahan-dahan pohon yang tinggi besar itu. Di sebuah pohon kami melihat anak kera. Anak kera itu melihat kami. Kami juga melihatnya. Kemudian ia berlari. Aku dan Mara saling pandang sebentar, kemudian berlari mengikuti anak kera itu. Kami menyibak rerumput, melompati batu-batu, sambil sesekali melihat anak kera itu tanpa kesulitan melompat dari ranting ke ranting. Sialan, mungkin dia sedang tertawa melihat kami kesulitan.

“Tidak ada yang tahu jalan ke sana, keyakinanmu lah yang akan mengantarkan ke sana. Namun jika kau sudah melihat kera yang melompat-lompat di ranting. Itu tandanya kau sudah hampir dekat dengan tempat Si Siluman.” Sepertinya Mara juga masih ingat dengan ucapan seseorang yang kami jumpai sepulang dari gubuk bambu. Ia lelaki tua nan ringkih yang kerap mencari kayu bakar di hutan.

Tidak lama kemudian, setelah melewati dataran yang agak terjal, kami melihat sebuah rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu. Dan di tengah-tengahnya seperti sedang digelar sebuah pesta. Orang-orang tampak bahagia mereka membawa piring dan bergerak dari tungku satu ke tungku yang lain sambil mencicipi isi makanannya. Kami tidak pernah mendengar ada perkampungan di tengah-tengah hutan. Orang-orang Alas Wangon tak pernah sekalipun menceritakan perkampungan ini.

“Dari mana saja kalian? Ayo ikut aku kalian sudah ditunggu sejak tadi.” Perempuan Bersanggul yang entah siapa itu tiba-tiba meraih tangan Mara, dan memaksanya ikut dengan dia. Sementara aku hanya bisa berjalan di belakang perempuan itu. Melihat orang-orang yang riuh di lapangan, mereka seperti bercakap-cakap, sambil berjalan dari satu tungku ke tungku yang lain. Di tungku-tungku yang tergantung di sebuah tongkat di atas perapian itu, sepertinya berisi bermacam makanan. Lalu seseorang tiba-tiba meraih tanganku, telapak tangannya benar-benar kasar, ia memberiku sebuah piring.

“Makanlah sesukamu Bocah!” Kata Si Lelaki, aku menuruti permintaannya melihat-lihat makanan yang berada di tungku. Aku belum pernah melihat jenis makanan itu. Kebanyakan seperti slime dengan aroma yang menyengat dan benar-benar membuatku ingin muntah. Si Lelaki mengguyurkan slime itu ke piringku.

“Makanlah yang lahap sebentar lagi pesta pernikahannya akan dimulai, dan kau tak boleh mencicipi makanan ini.”

“Siapa yang akan menikah?” Tanyaku.

“Tentu saja Raja kita!”

Dan beberapa saat kemudian di podium, aku melihat lelaki dengan dada yang bidang dan besar. Kedua tangannya juga besar dan panjang, rahangnya agak menjorok ke depan. Ia mengenakan jas hitam dan dasi kupu-kupu menempel di pangkal lehernya. Di belakangnya seorang perempuan mengenakan gaun berwarna putih. Dan ketika aku melihat wajah si perempuan, aku berteriak memanggil namanya. Tapi si perempuan sama sekali tak mendengarku, sementara orang-orang itu melihat ke arahku. Mereka membungkam mulutku. Memegangi kedua tangan dan kaki.

“Diam kau Manusia, lebih baik kau kembali ke duniamu!” Itu adalah Si Lelaki yang mengguyurkan slime ke piringku. Ia membawa gada. Dan ketika ia hantamkan ke kepalaku, tubuhku tiba-tiba seperti kapas yang melayang-layang di ruang hampa.

*

Aku mencium asap rokok, ketika mataku sedikit terbuka, aku mendapati bocah itu duduk di lantai di dekat kepalaku. Ia membaca Kumara, novel S Jai. Di cover depannya yang berwarna gelap aku bisa membaca bahwa novel itu pernah memenangi Sayembara Sastra, dan ilustrasi cover itu selalu saja menggangguku, seperti seorang perempuan yang dibalut dengan kafan. Tapi sepertinya ada sesuatu yang telah kulupakan. Bocah itu terbatuk setelah menghisap rokoknya. Aku membayangkan proses difusi di paru-parunya, spiral-spiral hemoglobin itu membawa asap rokok ke rubuhnya. Bocah itu terbatuk lagi. Aku membaca judul novel itu. Kumara. Seperti ada yang telah hilang. Kumara. Ku-Ma-Ra. Kuma-Ra. Ku-Mara.

“Dos apa kau tahu Mara sekarang di mana?” Aku baru ingat Mara.

“Siapa yang kau maksud, aku baru mendengar nama itu?”

Dos atau si bocah itu memang seperti sampah, tidak pernah bisa diandalkan. Lalu aku melihat sebuah foto yang kutempel di dinding kamar. Di foto itu aku hanya berdiri sendirian di pantai, dan tanganku seperti hanya menggenggam udara.[]

—Lamongan, Februari 2019

Iklan

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, Muhidin M. Dahlan

“Kalian sedang melempari batu—kalian yang ingin membunuh wanita ini—kenapa kalian ingin membunuh dia? Karena ia seorang pelacur? Karena ia melacurkan badannya? Apakah kalian lebih baik dari dia? Kalian telah melacurkan jiwa kalian, roh kalian. Kalian semua munafik. Adakah satu pun di antara kalian yang belum pernah melacurkan jiwanya, rohnya? Kalau ada, biarkan dia melemparkan batu pertama. Kalian semua kotor, tidak bersih. Kalian tidak berhak menghukum wanita ini.”

Sebelum membaca isi buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Kita akan membaca cuplikan cerita, atau semacam sepenggal tragedi yang dikutip dari Anand Krishna, Surat Al-Fatihah bagi Orang Modern. Entah kenapa sepenggal cerita itu terasa sangat kuat dan selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Itu adalah sebuah kisah di mana seorang pelacur hendak dibunuh, dengan dilempari batu oleh pemuka agama, tokoh masyarakat bahkan anak-anak kecil yang tidak mengerti apa itu “pelacur” atau “zina” juga ikut melempari perempuan itu dengan batu. Lalu datanglah lelaki itu, yang kata orang adalah Nabi Isa. Ia lantas berujar pada orang-orang yang hendak membunuh perempuan malang itu sebagaimana paragraf pertama dalam tulisan ini.

Sebenarnya ini adalah buku memoar, sebuah buku yang ditulis berdasarkan kisah nyata seseorang. Sebelumnya saya juga pernah membaca buku The Seven Good Years, Etgar Keret. Juga semacam buku memoar. Namun perbedaannya, buku Etgar Keret itu ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialami penulisnya sendiri sementara, buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! ditulis bukan berdasarkan kisah nyata Muhidin M. Dahlan, namun berdasarkan kisah seorang perempuan bernama Nidah Kirani yang dalam buku tersebut berperan sebagai tokoh utama sekaligus narator. Sehingga, ketika memperdebatkan apakah seluruh isi ini benar-benar nyata dari si perempuan atau ditambah-tambahi dengan argumen penulis kita tidak tahu.

Memang membaca buku ini kurang lebih seperti membaca novel, ceritanya mengalir dari mulut Nidah Kirani, atau yang dalam cerita kerap dipanggil Kiran. Kiran mulanya adalah perempuan yang taat pada syariat agama Islam. Ia rajin beribadah, mengikuti diskusi-diskusi tentang Islam, juga mengikuti organisasi-organisasi bernafaskan Islam. Ia merasa seperti itulah hidup yang sempurna. Dan aktivitas lain adalah kesia-siaan. Ketika ia sudah merasa pemahamannya tentang Islam sudah mencapai puncak, ia akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan suatu kelompok yang mengatakan dirinya adalah kelompok Islam Kaffah. Dan ketika sudah resmi menjadi anggota kelompok tersebut, yang bahkan bercita-cita menegakkan negara Islam. Saat menjadi anggota kelompok itu, Kiran melakukan apapun, menginfaqkan seluruh harta yang ia punyai, juga berjihad sambil mengajak beberapa orang untuk ikut dengannya. Namun setelah lama berada dalam kelompok itu dan merasa apa yang anggota kelompok itu ucap-ucapkan tidak sama dengan perbuatannya, Kiran merasa kecewa. Dan memutuskan untuk melarikan diri sekaligus keluar dari anggota itu.

Saat itulah kehidupan Kiran berbalik 180 derajat, Kiran merasa kecewa, terasing, bahkan tidak memiliki harga diri. Ia merasa menjadi makhluk paling rendah. Dan mulai dari sinilah, konfliknya dengan tuhan dimulai. Ia memiliki pemahaman beragama yang berbeda dari kebanyakan orang. Seakan-akan ia ingin menjadi antitesis dari pemahaman beragama secara umum. Ia ingin melanggar seluruh aturan beragama yang telah ditetapkan dalam agama tersebut, yang tentu saja aturan-aturan yang telah termaktub dalam sebuah kitab yang mana kita tahu, sebuah kitab dalam agama Kiran, diyakini dibuat oleh Tuhan itu sendiri. Yang isinya diharapkan menjadi pelajaran, pedoman atau panduan hidup seluruh umatnya. Sementara yang dilakukan Kiran sebagai umat dalam agama tersebut adalah sebaliknya. Ia ingin menentang ketentuan Tuhan, ia ingin melakukan sesuatu yang dilarang dalam agama tersebut sebagai sebuah pencarian. Entah kenapa Kiran dalam tokoh buku ini, mengingatkan saya pada kisah Nabi Ibrahim, yang berusaha mencari tuhan dengan menyembah matahari, bulan, bintang. Sebelum akhirnya bertaubat dan menemukan Tuhan yang ia percaya dan yakini sebagai tuhan yang selama ini ia cari-cari. Begitu juga dengan Kiran, ia memutuskan untuk menyelami jurang kegelapan, memutuskan untuk melewati jalan yang berbeda sebagai tujuan hidupnya. Sebagaiamana dalam pengantar dikatakan oleh Muhidin, “Kita boleh sama membaca Quran dan Sunnah, tapi gambaran di dalam kepala kita bisa jadi berwarna banyak.”

Menurut saya secara garis besar buku ini berbicara banyak tentang ketuhanan, pemahaman dan konsep beragama, juga disinggung peran laki-laki dan perempuan dalam beragama, asal muasal kerusakan dunia, juga eksistensi kita sebagai manusia. Dan terakhir sebagai buku memoar yang kurang lebih hampir mirip dengan novel saya belum bisa menyamakan buku ini dengan Perawan Cantik yang Terlelap-nya Yasunari Kawabata, Norwegian Wood-nya Haruki Murakami, atau Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan dalam urusan erotisme di sebuah buku.

Tanah Surga Merah, Arafat Nur

Menyimak Indonesia berarti menyimak seluruh ragam budaya yang kaya. Seperti budaya malas baca, budaya premanisme, birokrasi bobrok, masih adanya tempat-tempat asing dan tertinggal, mitologi-mitologi yang masih dipercaya. Kasus-kasus kriminal terselubung, toleransi beragama yang kerap memicu bencana, juga negara dengan banyak partai. Novel Tanah Surga Merah, yang mendapat penghargaan Pemenang Unggulan Sayembara Novel DKJ karangan Arafat Nur ini seperti ingin memperlihatkan semua itu meski dalam lingkup kecil sebuah kampung di Lamlhok, Aceh. Cerita bermula ketika seorang pemuda pulang ke kampung halaman setelah bertahun-tahun pergi untuk melenyapkan diri, dari kejaran kasus pembunuhan dan orang-orang Partai Merah. Ia adalah Murad tokoh utama sekaligus orang yang berpanjang lebar di novel ini. Di sini Arafat Nur seperti sedang menjadi Murad. Dari mulut Murad-lah semua cerita ini dipaparkan. Sebagai seorang narator Murad dengan jelas menggambarkan suatu keadaan kampung yang masih tegang dengan kepentingan-kepentingan partai. Yakni Partai Merah, sebuah partai yang mendominasi daerah dan juga telah memegangi tampuk kekuasaan. Namun diceritakan dalam novel ini orang-orang Partai Merah adalah orang-orang yang bodoh, tidak mau membaca buku, hanya mengejar kekuasaan dan wanita. Seperti itulah gambaran perilaku orang-orang dari Partai Merah. Mesk adapula Partai Jingga, namun di sini Arafat Nur tidak terlalu banyak membicarakan tentang Partai Jingga. Sepintas ini mengingatkan saya dengan kondisi politik Indonesia yang memboleh kelompok-kelompok tertentu mendirikan partai, yang nantinya barangkali akan digunakan sebagai alat untuk menyalurkan kepentingannya masing-masing. Dalam hal ini tentu saja kepentingan untuk merebut kursi-kursi kekuasaan. Barangkali seperti itulah kerja sebuah partai. Saya teringat pada suatu sore saya mengikuti rapat pertemuan sebuah partai di sebuah rumah kecil di desa. Saya hanya duduk di lantai, lesehan dan mendengarkan retorika dari seorang yang nantinya akan mencalonkan diri dengan menggunakan nama partainya. Orang tua itu pandai sekali beretorika, menyita perhatian sekumpulan orang di rumah itu, meski penampilannya memuakkan (menurutku), namun satu hal yang saya ingat dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, “Di dalam partai tidak ada teman atau lawan abadi, yang ada hanya kepentingan.” Seperti itulah orang-orang partai. Begitu juga Partai Merah, di novel itu mereka adalah antagonis yang ingin melenyapkan Murad, karena keberadaan Murad merugikan partainya. Sehingga dalam novel ini ketika orang-orang Partai Merah mendengar desas-desus kepulangan Murad, mereka terus-menerus mencarinya. Mengacak-acak suatu tempat, bahkan tidak segan-segan melukai rakyat kecil yang mencoba mengusik kekuasaannya. Sehingga novel ini menurut saya adalah sebuah novel pengejaran, dan diakhir cerita diimbuhi sedikit kisah cinta antara Murad dan Jemala, yang barangkali hanya sebagai pemanis cerita, yang membuat saya sebagai pembaca penasaran dengan kisah cinta itu, hingga akhirnya saya merasakan sensasi mengakhiri cerita seperti yang terjadi di Tempat Paling Sunyi, cerita berakhir ketika semuanya tampak belum selesai. Barangkali seperti itulah cara Arafat Nur. Secara keseluruhan novel ini memiliki alur maju, meski dalam beberapa bagian ada flashback yang dipaparkan oleh sang narator. Sekedar memberi tahu saja, ini adalah novel kedua Arafat Nur yang saya baca setelah Tempat Paling Sunyi, meski pernah sekali waktu saya membaca Burung Terbang di Kelam Malam tapi tidak tuntas. Yang membuat saya selalu ingat dengan Arafat Nur adalah gaya berceritanya yang sederhana namun memikat, bahasa yang mudah di pahami, dan caranya menggambarkan kondisi geografis sebuah kampung yang jelas. Terakhir saya sengaja membuat tulisan ini tanpa paragraf karena satu, saya malas membuatnya, dua ingin mencari bentuk-bentuk baru, tiga sedikit ingin meniru Eka (meski saya sadar itu sebuah kemustahilan) Empat semoga kalian menikmati catatan ini.

Ritus Khayali, Astrajingga Asmasubrata

ritus khayali.jpg

masih selalu kunanti, wangi/ senyap tubuhmu yang sedikit mencuat/ sebagai ziarah ritus sunyi khayali/ yang makin digandrungi tukang sajak. (Ritus Khayali, hlm. 28)

Ritus Khayali adalah buku kumpulan puisi tunggal Astrajingga Asmasubrata yang ditulis dalam rentang waktu 2015 – 2016, sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi terbarunya, Miryam. Dalam buku Ritus Khayali terhimpun 92 puisi Astrajingga yang tampaknya sebagian besar berbicara tentang kesunyian, kesedihan, kemuraman yang sepertinya memiliki konotasi sama antara satu dengan yang lain, yakni sebuah keadaan yang tidak menyenangkan. Meski begitu sebagaimana dikatakan Rendy Jean Satria, dalam membacakan puisi-puisinya, Astrajingga selalu tampa enerjik, semangat dan penuh improvisasi. Seakan-akan dari itu kita tahu Astrajingga tidak pernah tenggelam dalam kesunyian di puisi-puisinya.

Beberapa puisi Astrajingga yang membicarakan kesedihan ditunjukkan dalam puisi yang berjudul Antara; dengan apa atau karena/ yang bagaimana: ini kesedihan/ kuhadapi tanpa Sedih?/ dalam puisi tersebut tampak seolah aku lirik ingin sekali keluar dari kesedihan yang telah datang kepadanya sebagai suatu kesusahan yang nyata. Dan ia telah berusaha menghadapi dengan tidak hanya diam, aku lirik berupaya untuk bertanya, meski ia tahu jawaban belum tentu datang dengan mudah. Sebuah kesedihan memang selalu datang tanpa pernah diharapkan, ia datang tiba-tiba, dan hanya atau memang selalu menghadirkan kesusahan, namun adakah sebuah cara untuk menghadapinya tanpa tanpa kita merasa sedih atau terbebani? Seolah itu menjadi pertanyaan bagi setiap orang yang pernah mengalami kesedihan.

Di buku ini kesunyian seakan ditunjukkan memiliki berbagai bentuk, warna, bahkan juga aroma. Kesunyian seperti suatu benda nyata yang bisa dipegang dan kita mainkan sesuka hati. Sehingga kita merasa tak ada suatu kejanggalan di sana. Tapi dalam kenyataannya, sunyi adalah sesuatu yang abstrak dan relatif, tak ada keadaan yang tepat untuk menggambarkannya, barangkali untuk sebagian orang yang mencintai keramaian tentu kesunyian adalah suatu keadaan yang sangat tidak diharapkan dan mungkin menakutkan. Namun apakah selalu seperti itu? apakah kesunyian selalu menakutkan, berwarna hitam, berbau anyir, dan tidak terlalu dibutuhkan?

Dalam buku Ritus Khayali, seolah kesunyian adalah segalanya. Kita bisa tenggelam ke dalam jurang yang sangat dalam, tak memilik dasar, dan sangat mengerikan. Di satu sisi kita juga akan dibuat merindukan kesunyian sebagaimana kesunyian yang menenangkan, menentramkan, dan membuat kita betah berlama-lama di sana. Selanjutnya jika kita sudah terbiasa, kesuanyian bisa menjadi hal yang lumrah yang setiap hari selalu kita lihat dan rayakan.

Seperti dalam puisi Wilayah Tak Bernama Tak Ada Dalam Peta; di wilayah yang entah ini, langkahku kehilangan jejaknya. aku seolah/ tapi tak seolah dibekap kesunyian yang amat jahanam, bahkan/ ketika bayangan perempuan silam melintas aku tak mampu/ menyebut nama atau melambaikan kisah-kisah buram. Di puisi tersebut kita seolah tahu, saat aku lirik sedang berada dalam suatu tempat yang asing, bahkan sebuah langkah juga kehilangan jejaknya. Aku lirik seperti merasa atau tidak merasa, kesunyian tiba-tiba datang dan membekap, memeluk erat si aku lirik. Namun kesunyian di sini tak memiliki konotasi kesunyian yang menyenangkan, sebaliknya kesunyian diartikan sebagai sebuah bencana yang tidak diharapakan kedatangannya. Kesunyian yang datang itu hanya membuat si aku lirik semakin susah. Ketika membaca larik ketika bayangan perempuan silam melintas, aku lirik tak mampu melakukan apapun meski hanya sekedar menyebutkan sebuah nama atau sekedar melupakan suatu kisah tidak menyenangkan. Dan itu ditegaskan dengan umpatan ‘jahanam’ oleh aku lirik ketika kesunyian datang membekapnya.

Selanjutnya dalam puisi Sekedar Braga yang Bernyawa; jejak masa silam malih menjadi bangkai/ sementara sepi dengan kukunya tajam/ mencengkeram hatiku seerat tambang/ pada sekibar bendera di tiang pancang./ kita kembali menemui sunyi yang menakutkan, meski dalam penggalan sajak tersebut penyair lebih memilih menggunakan diksi ‘sepi’ dari pada ‘sunyi’. Pada akhirnya sepi dan sunyi memiliki arti harfiah yang hampir sama, tidak ada bunyi atau suara apapun; hening; senyap. Dan dalam sajak Sekedar Braga yang Bernyawa, penyair kembali menggambarkan kesepian atau kesunyian yang menyakitkan, kesunyian yang memiliki kuku-kuku tajam untuk mencengkeram erat. Tentunya bisa dibayangkan kesunyian macam apa yang memiliki kuku-kuku tajam.

Sementara dalam puisi Sajak Mabuk seperti ada warna berbeda dalam penggambaran penyair terhadap kesunyian. Ini bukan kesunyian seperti dalam dua puisi sebelumnya. berikut saya kutip beberapa larik: aku takjub pada mereka/ yang berkhidmat dalam kesunyian/ kadang aku menginginkan/ bisa juga ambil bagian/ walau cuma di tepi-tepi malam/ dari beberapa larik puisi dalam Sajak Mabuk ini, saya rasa jelas sekali ada sebuah kerinduan untuk masuk ke dalam kesunyian, berkhidmat atau menakzimi kesunyian itu sendiri, seakan kesunyian adalah sesuatu yang memiliki segalanya sehingga membuat aku lirik takjub, terpesona dan berhasrat untuk memilikinya. Saya berasumsi dalam puisi ini kesunyian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya. Dan sebagaimana umumnya sesuatu yang selalu diinginkan adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang menyenangkan, sangat berharga, sehingga dalam sajak tersebut aku lirik tetap sangat menginginkannya meski hanya di tepi-tepi malam yang barangkali memiliki konotasi yanga amat sedikit jumlahnya.

Kondisi kesunyian yang seperti dalam puisi Sajak Mabuk, seolah ditegaskan lagi dalam puisi Ritus Khayali; masih selalu kunanti, wangi/ senyap tubuhmu yang sedikit mencuat/ sebagai ziarah ritus sunyi khayali/ yang makin digandrungi tukang sajak/ di puisi ini kesunyian seakan selalu menjadi sesuatu yang amat dirindukan, meski datangnya dalam bentuk lain, semacam kenangan yang samar dan masih abstrak, belum berbentuk. Namun aku lirik seolah telah menjadikan kesunyian yang abstrak itu menjadi sesuatu yang konkret dan bahkan ia ingin menakziminya sebagai sebuah ritus atau upacara suci kesunyian yang tertata, meski itu hanya sebuah utopia yang belum jadi nyata. Sesuatu itu telah menjadi candu sehingga barangkali batasan antara abstrak dan konkret  telah memudar dan menjadi samar-samar. Sebagaimana kita tahu sesuatu yang telah menjadi candu—entah itu baik atau buruk—sudah tentu selalu dinanti, dirindukan, dan amat dibutuhkan. Seakan-akan si pecandu tak akan bisa hidup jika tak mendapatkannya.

Namun bagiamana jika kesunyian itu datang berkali-kali, di puisi Aforisme, seolah peristiwa itu telah ditegaskan. Dalam larik; “Selamat sunyi, penyair!” seperti ingin menunjukkan bahwa kesunyian juga pantas untuk dirayakan sebagai sesuatu yang lumrah. Sebagaimana ucapan selamat lainnya, yang diucapkan dengan intonasi yang ramah dan bersahaja. Sehingga di sini kata ‘sunyi’ seolah memiliki konotasi sebuah kondisi yang tak perlu disesali–bukan sebuah fenomena atau tragedi–hanya perlu dirayakan sebagaimana kondisi sehari-hari, semacam ibadah yang telah menjadi kebiasaan. Sebagaimana disebutkan Rendy Jean Satria dalam epilog untuk buku Ritus Khayali, mengatakan bahwa dalam kesunyian yang seakan-akan abadi. Satu-satunya kesempatan untuk keluar dari kegelisahan itu, adalah dengan cara untuk menghadapinya bagai seorang satria kelana yang membawa pedang di atas kuda putih. Sepertinya itulah upaya yang sudah berhasil dilakukan penyair dalam menyikapi kesunyian yang datang berkali-kali padanya. Ia tidak pernah lari, memungkiri, atau mengabaikan. Tapi sebaliknya ia peluk kesunyian-kesunyian itu sekaligus merasakan suka serta duka lara yang dibawa olehnya, sehingga kesunyian yang datang seperti memiliki warna-warna yang meriah.

Terlepas dari itu semua di dalam buku puisi Ritus Khayali, seperti nampak sekali usaha Astrajingga untuk mengeksplorasi puisi-puisinya, dengan cara mencari tubuh yang pas dengan berkunjung ke puisi-puisi penyair pendahulunya, membacanya, mengolahnya menjadi puisi orisinal miliknya, dan pencarian itu seolah belum berhenti. Sehingga di sana-sini akan kita temukan diksi-diksi, juga gaya ucap yang kerap kita jumpai pada penyair-penyair tanah air seperti, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Afrizal Malna (sejauh yang saya tahu hanya tiga nama itu yang bisa saya tangkap). Meski saya yakin Astrajingga Asmasubrata sebagai penyair kontemporer telah banyak sowan ke puisi-puisi penyair-penyair tanah air maupun mancanegara. Barangkali seperti itulah seorang pembelajar sejati, ia seperti musafir yang terus berkelana tanpa mengenal lelah mengarungi luasnya hamparan bumi yang entah seberapa luasnya.

Sekali lagi membaca Ritus Khayali, tidak hanya tentang sunyi yang kelam dan menakutkan, lebih dari itu Ritus Khayali mengajak kita untuk menyelami dan tersesat di kesunyian-kesunyian yang multitafsir.

Mencari Sarang Angin, Suparto Brata

Nama Suparto Brata pertama kali saya kenal ketika membaca Jurnal-jurnal Eka Kurniawan. Saya tidak tahu banyak tentang Suparto, saat saya mencoba mencari informasi dari Wikipedia, Suparto terkenal dengan sastrawan berbahasa Jawa. Ia lebih banyak menulis cerita fiksi dalam Bahasa Jawa. Dalam novel Mencari Sarang Angin, rasanya kepiawaiannya dalam menggunakan Bahasa Jawa memang sedikit banyak terlihat. Sehingga saya tak akan menyalahkan Wikipedia atas informasi tersebut.

Jika ditanya mengapa saya membaca Suparto Brata, saya akan menjawabnya dengan jujur setiap nama penulis yang saya dapat dari membaca novel, cerpen, puisi, esai dari seorang penulis akan membuat saya mencari tahu lebih banyak tentang nama penulis itu, lebih-lebih pada suatu hari saya bisa membaca bukunya. Seperti itulah, dugaan saya atas nama penulis yang tertulis atau terselip dalam sebuah tulisan entah itu cerita atau puisi adalah sebuah rekomendasi bacaan oleh si penulis buku, yang bagaimanapun membuat saya ingin membacanya.

Baiklah saya rasa cukup prolog yang saya lantunkan barusan, sekarang mari kita masuk agak dalam ke novel Mencari Sarang Angin. Pertama novel ini saya rasa tidak dibuka dengan kalimat yang mencolok, atau sebuah kalimat yang akan membuat kita kian bernafsu untuk membaca novel dengan tebal kurang lebih 700-an halaman. Novel ini dibuka dengan kalimat-kalimat yang datar yang menggambarkan sebuah setting tempat sebagaimana cerita-cerita lama dipaparkan. Bagi saya tidak ada yang perlu ditandai secara khusus dalam hal pembukaan novel di novel ini.

Sebelumnya perlu diketahui, Mencari Sarang Angin adalah sebuah cerita bersambung yang ditulis dalam rentang waktu 1991 – 1992. Dan kemudian digubah untuk dibukukan menjadi sebuah novel. Cerita ini sebelumnya pernah dimuat secara bersambung di Harian Pagi Jawa Pos. Suparto Brata dalam Biografi Singkat yang disertakan dalam buku ini memang akrab dengan media massa. Tulisan-tulisannya kerap dimuat di berbagai majalah, koran dan media-media lain. Kurang lebih seperti itulah yang tertulis dalam biografi singkatnya. Ini membuat saya memiliki prasangka bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah si penulis sendiri.

Memang secara keseluruhan novel ini menceritakan tentang kehidupan Darwan, seorang lelaki keturunan bangsawan Jawa Surakarta yang ingin mencari kehidupan yang luhur di luar. Tidak terikat dan tergantung dengan lingkungan istana. Yang mana setiap anggota keluarga istana, hidupnya selalu terjamin tidak ada kekurangan suatu apapun entah itu uang atau istri. Setiap lelaki keturunan bangsawan jawa disebutkan disitu ia bebas memilih perempuan yang ia sukai untuk dijadikan istri atau hanya sekedar gundik, yakni perempuan pemuas nafsu belaka. Namun Darwan tidak menginginkan kehidupan yang semacam itu, ia merasa ada yang salah dengan adat yang semacam itu ketika dibandingkan dengan apa yang ia peroleh dari pendidikannya dan saat masih akrab dengan Beatrix, perempuan Belanda yang pernah dekat dengan Darwan. Akhirnya karena merasa adanya ketidakselarasan prinsip hidup dan ingin menunjukkan bahwa ia mampu hidup tanpa tergantung kehidupan Istana. Darwan pun merantau ke Surabaya untuk mencari sarang angin, istilah yang ia pakai untuk menemukan kehidupan yang ia cita-citakan.

Sebagaimana Suparto Brata, Darwan juga adalah seorang penulis, ia ingin hidup sebagai seorang penulis saja, menulis berita di koran dan mengarang cerita. Di awal-awal cerita saya benar-benar kagum dengan pemaparan Suparto terhadap sebuah penerbitan, ia memggambarkan dengan detail apapun yang berada di dalam sebuah penerbitan, saya rasa ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang-orang yang bukan ahlinya, artinya penulis sangat menguasai apapun yang berkaitan dengan penerbitan, tentang mesin cetaknya, percakapan yang biasa menjadi topik wartawan, tentang ideologi penerbitan, dan sebagainya. Hal semacam itulah yang barangkali diperoleh ketika kita menulis dengan melakukan riset terlebih dahulu, dalam fiksi kita memang dituntut untuk mengkonkretkan yang abstrak, kurang lebih begitu kata A.S. Laksana. Sehingga cerita yang kita bangun terasa nyata kuat dan tidak rapuh.

Selanjutnya yang menjadi catatan saya, adalah setting waktu dalam novel ini, Suparto Brata melakukannya dengan sangat apik, sebagaimana seorang maestro. Novel ini merangkum Indonesia saat masih berada dalam jajahan Belanda, Jepang, hingga ketika PKI ingin merebut kekuasaan Pemerintah RI. Semua itu dilakukan Suparto dengan pemaparan yang detail lengkap dengan penggunaan bahasa Belanda, Jepang dan istilah-istilah yang kerap digunakan pada zaman itu, barangkali novel ini bisa juga menjadi rujukan sejarah untuk meneliti bahasa atau budaya yang digunakan pada masa itu.

Sebelum saya akhiri tulisan ini saya ingin membahasnya sedikit, terkait apa yang membuatmu terpacu untuk tetap membaca suatu cerita hingga akhir, jika kau bukan seorang pembaca yang tangguh—orang awam yang akan pusing atau mengantuk atau muntah-muntah ketika disuguhkan pada tulisan. Sehingga saya merasa ini perlu untuk menjadi catatan seorang penulis agar tulisannya tidak banyak ditinggal kabur atau tidur oleh penyimaknya sebagaimana khutbah sholat Jum’at. Jujur dalam membaca sebuah cerita saya berharap ada sesuatu yang baru yang diberikan oleh si penulis agar saya tidak mudah tertidur saat sedang membacanya. Dan dalam novel ini Suparto berhasil membuat ceritanya selesai saya baca karena rasa penasaran saya dengan adegan mesum yang akan diperagakan oleh Darwan dengan Yayi atau Darwan dengan Rokhayah. Menurut saya ini adalah kontent dewasa yang hanya boleh disaksikan ketika usia anda sudah mencapai 18+, saya tidak memungkiri hal semacam ini kerap muncul dalam sastra kita. Entah seberapa penting adegan vulgar harus ada dalam sebuah cerita saya juga kurang tahu, juga kurang tahu pula apa maksud penulis yang sebenarnya. Apakah benar adegan semacam ini hanya untuk menarik minat pembaca yang tidak terlalu tangguh dan suka mengantuk seperti saya agar terus membaca dan membaca hingga akhir. Meski harus saya akui adegan vulgar dalam novel ini tidak lebih jujur dari novel Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan. Di novelnya ini Suparto Brata lebih banyak membuat analogi dan metafora dalam menyusun adegan-adegan vulgarnya. Barangkali untuk lebih jelasnya bisa dibaca sendiri, bukunya. Dan biarkan urusan adegan vulgar dalam sebuah cerita menjadi PR bagi saya.

Cukup sekian dan terimakasih.

Playon, F Aziz Manna

F Aziz Manna adalah seorang penyair kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur. Ia sudah banyak menerbitkan buku kumpulan puisi, dan Playon adalah manuskrip puisinya yang memenangi Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur 2015 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2015 – 2016. Beberapa puisinya juga kerap dimuat di Kompas. Membaca kumpulan puisi Playon-nya F Aziz Manna ini sama sekali berbeda dengan membaca M Aan Mansyur, Afrizal Malna, atau penyair-penyair lainnya. F Aziz Manna seolah ingin menunjukkan daya ucap yang berbeda dari penyair lain dan melalui itu ia seakan telah berhasil menunjukkan dirinya sendiri.

Oka Rusmini, mengatakan Playon merupakan ide yang cemerlang, pembaca dipaksa untuk kembali diseret ke dalam cuaca yang riang, cuaca yang jujur dan seru menjadi kanak-kanak yang dekat dengan alam dan lingkungan sekitar. Kurang lebih seperti itu, F Aziz Manna menunjukkan bahwa puisi juga bisa menyampaikan hal-hal yang akrab dengan anak-anak. Akrab dengan aktivitas sehari-hari di Jawa Timur. Jika anda pembaca dari Jawa Timur anda mungkin akan mengenal buku Playon ini mirip anak sendiri, yang sama sekali tidak asing, pengucapan dan prilakunya, barangkali seperti itu.

Saya merasa buku Playon ini disusun untuk merayakan masa lalu yang masih lugu di Jawa Timur. Dimana kita masih bisa melihat budaya-budaya Jawa Timuran seperti permainan tradisional, kebiasaan sehari-hari orang Jawa Timur, serta mendengar istilah-istilah yang tidak asing jika anda memang orang Jawa Timur.

F Aziz Manna menyusun buku Playon menjadi tiga sub bab, pertama: Main, kedua: Ajang Barang, ketiga: Laku. Puisi-puisi di sub bab pertama banyak berbicara tentang permainan tradisional, mungkin setiap daerah mengenal permainan-permainan itu hanya saja mungkin, memiliki nama yang berbeda. Mungkin inilah yang ingin dikukuhkan oleh F Aziz Manna dalam kumpulan puisi Playon-nya, kekayaan bahasa atau kosakata daerah yang belum terhimpun dalam kosakata Bahasa Indonesia (KBBI) secara resmi. Seperti ada usaha untuk menyelamatkan kata atau istilah-istilah yang pernah populer pada masa lalu di Jawa Timur. Begitu juga dengan dua bab berikutnya, Ajang Barang, ini mirip dengan kata benda, atau suatu barang yang memiliki nama akrab di suatu daerah. Di bab yang ketiga, Laku, ini mirip dengan kata kerja. Meski jika ditilik satu persatu dari keseluruhan puisi di bab ketiga ini tidak seluruhnya adalah kata kerja, seperti puisi Piatu misalnya, rasanya kurang tepat jika ia masuk di bab ketiga, kata kerja, jika Piatu ini memiliki arti seorang anak yang ditinggal mati ibunya. Tapi tidak menutup kemungkinan, Piatu memiliki arti lain selain yang saya katakan barusan jika dikaitkan dengan daerah yang penyair maksudkan.

Dalam kumpulan puisi Playon, F Aziz Manna seperti ingin menunjukkan jati dirinya, bahwa dia adalah orang Jawa Timur. Dia dibesarkan dengan kearifan lokal Jawa Timur. Dan sebagai penyair barangkali adalah sebuah kewajiban mencintai kata-kata, menyelamatkannya dari lupa, dan merawatnya kembali dengan tetap mengenakannya. Sebagaimana kita tahu seriring waktu berjalan banyak sekali kosakata baru, entah itu baku atau bukan yang kerap muncul dan dilupakan, dipakai sebentar dan dibuang, selalu begitu tidak ada usaha untuk merawatnya sebagai benda berharga. Dalam buku Playon ini saya merasa F Aziz Manna telah melakukan usaha-usaha semacam itu. Ia telah menyelamatkan kata-kata yang pernah di pakai pada suatu masa yang lampau di Jawa Timur, sekaligus kenangan dibalik kata-kata itu. Sebagaimana saya percaya setiap kata memiliki romantismenya masing-masing. Ada kenangan yang tersembunyi dibaliknya.

F Aziz Manna saya rasa sebagai penyair ia telah berhasil banyak hal melalui Playon-nya, selain yang saya sebutkan diatas ia barangkali telah berhasil menciptakan daya ucapnya sendiri. Ia telah berhasil menjadi dirinya sendiri sebagai penyair yang berbeda dengan penyair-penyair lainnya. Ia telah menemukan jati dirinya didalam jati diri penyair itu sendiri. Sebagaimana yang saya mengerti, menciptakan daya ucap dalam suatu puisi benar-benar bukan perihal yang mudah. Begitu banyak penyair tapi hanya sedikit yang berhasil menciptakan daya ucapnya sendiri. Bahkan beberapa hanya mengulang-ulang ucapan dari penyair sebelumnya, sebagaimana kita tahu menyimak hal yang sudah pernah dilihat adakah perkara membosankan, barangkali membuat kita muntah juga. Namun tidak menutup kemungkinan menyimak perkara baru, berbeda, dan agak ganjil dengan kebanyakan juga membuat kita tidak nyaman. Cara menikmati Playon barangkali juga seperti itu, ia hadir, berbeda dari kebanyakan, dan ingin dinikmati dengan cara yang berbeda pula dengan puisi-puisi kebanyakan. Saya rasa tidak ada lagi yang ingin saya sampaikan terkait Playon, ini selebihnya baca sendiri, nikmati dan tafsirkan sendiri puisi-puisi didalamnya.

The Adventure of Tom Sawyer, Mark Twain

Sungai Mississippi adalah setting tempat yang pertama kali saya bayangkan sebelum membaca kisah ini. Merupakan tempat yang menarik, mungkin Mark Twain kerap ke sana, mengail ikan sambil melihat kapal uap berlayar. Saya sendiri belum pernah kesana, tapi setelah searching di Google saya mendapatkan gambar Sungai Mississippi yang diambil dari atas. Indah sekali, sungai yang biru, diapit oleh daratan yang hijau dan pepohonan tumbuh di sepanjang kiri kanan sungai. Sebuah kapal atau mungkin semacam Kapal Uap yang kerap dilihat Twain, sedang berlayar di tengah-tengah Sungai Mississippi.

Mark Twain sendiri adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens. Ia lahir pada 30 November 1835 dan meninggal pada 21 April 1910. Dia dibesarkan di Hannibal, Missouri sebuah kota kecil di tepi sungai Mississippi, Amerika Serikat. Disebutkan dalam biografi singkatnya di Wikipedia, dia memang seorang yang tertarik dengan kapal uap yang lalu lalang di Sungai Mississippi, saat ia masih remaja.

Baiklah mari kita usik sedikit novel ini. Di awal pembukaan novel ini, saya tidak menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Kenapa orang-orang mengelu-elukan novel ini? Apa yang menarik dari novel ini? Awalnya saya merasa novel ini biasa-biasa saja, tidak lebih bagus dari penulis tanah air kita. Begitu asumsi saya. Tidak jauh berbeda dengan bentuk-bentuk novel membosankan lainnya. Novel ini dituturkan oleh seorang narator yang sok tahu, ia mengerti segalanya, ia seperti Tuhan yang tahu segalanya. Ia bebas keluar masuk menceritakan isi kepala tokoh-tokohnya dan tahu kejadian di setiap tempat dalam waktu yang sama. Teknik semacam ini mungkin telah banyak digunakan oleh beberapa penulis. Namun rasanya dari Twain lah saya baru mengerti bagaimana cara menggunakannya dengan tepat.

Sebagai Tuhan Yang Maha Tahu segalanya. Ia tahu kejadian yang terjadi di tempat yang berbeda dalam saat yang bersamaan. Hal semacam ini kerap kita lihat penggunaannya di film-film anime, semisal One Piece atau Naruto, seorang narator mengisahkan satu kejadian di tempat A lebih dulu, baru kemudian di halaman selanjutnya ia mengisahkan kejadian di tempat B yang mana keduanya saling mempengaruhi.

Mungkin dari sudut pandang itulah rasanya paling tepat untuk menceritakan kisah ini, yang mana menurut saya novel ini menceritakan kejadian-kejadian menarik dari kota St. Petersburg. Tentu saja dengan kamera yang lebih banyak mengarah pada Thomas Sawyer, atau biasa dipanggil Tom. Ia seorang anak nakal yang tinggal dengan soerang bibi dan dua anak yang lain. Karena kenakalannya itu ia kerap mendapat hukuman dari bibinya. Ia kerap bolos sekolah untuk mengail ikan dan berenang di sungai.

Tom sendiri adalah bocah yang nakal, lincah, cerdas, pemberani, dan baik hati. Memang secara keseluruhan ini adalah cerita anak-anak sebagaimana Twain telah katakan di Kata Pengantar. Namun di balik semua itu beberapa adegan di dalam novel ini patut menjadi renungan. Membaca The Adventure of Tom Sawyer seperti menyelami lagi masa anak-anak yang telah kita tinggalkan. Kita akan di ajak mengambil lagi imajinasi-imajinasi polos kita selama menjadi anak-anak. Kembali ke sungai, merasakan debar mencintai seorang perempuan ketika masih kecil, melakukan kenakalan-kenalakalan yang kita anggap keren, dan seperti biasanya tidak ingin banyak diatur. Juga tak lupa berpetualang ke tempat-tempat jauh, terlarang, berhantu, dan menemukan jalan baru. Kita akan diajak berjalan-jalan di Kota St. Petersburg, hingga ke gang-gang tersembunyi, pergi ke hutan, berenang di Sungai Mississippi, dan kita akan merasakan kembali bagaimana debar sebuah petualangan.