Ritus Khayali, Astrajingga Asmasubrata

ritus khayali.jpg

masih selalu kunanti, wangi/ senyap tubuhmu yang sedikit mencuat/ sebagai ziarah ritus sunyi khayali/ yang makin digandrungi tukang sajak. (Ritus Khayali, hlm. 28)

Ritus Khayali adalah buku kumpulan puisi tunggal Astrajingga Asmasubrata yang ditulis dalam rentang waktu 2015 – 2016, sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi terbarunya, Miryam. Dalam buku Ritus Khayali terhimpun 92 puisi Astrajingga yang tampaknya sebagian besar berbicara tentang kesunyian, kesedihan, kemuraman yang sepertinya memiliki konotasi sama antara satu dengan yang lain, yakni sebuah keadaan yang tidak menyenangkan. Meski begitu sebagaimana dikatakan Rendy Jean Satria, dalam membacakan puisi-puisinya, Astrajingga selalu tampa enerjik, semangat dan penuh improvisasi. Seakan-akan dari itu kita tahu Astrajingga tidak pernah tenggelam dalam kesunyian di puisi-puisinya.

Beberapa puisi Astrajingga yang membicarakan kesedihan ditunjukkan dalam puisi yang berjudul Antara; dengan apa atau karena/ yang bagaimana: ini kesedihan/ kuhadapi tanpa Sedih?/ dalam puisi tersebut tampak seolah aku lirik ingin sekali keluar dari kesedihan yang telah datang kepadanya sebagai suatu kesusahan yang nyata. Dan ia telah berusaha menghadapi dengan tidak hanya diam, aku lirik berupaya untuk bertanya, meski ia tahu jawaban belum tentu datang dengan mudah. Sebuah kesedihan memang selalu datang tanpa pernah diharapkan, ia datang tiba-tiba, dan hanya atau memang selalu menghadirkan kesusahan, namun adakah sebuah cara untuk menghadapinya tanpa tanpa kita merasa sedih atau terbebani? Seolah itu menjadi pertanyaan bagi setiap orang yang pernah mengalami kesedihan.

Di buku ini kesunyian seakan ditunjukkan memiliki berbagai bentuk, warna, bahkan juga aroma. Kesunyian seperti suatu benda nyata yang bisa dipegang dan kita mainkan sesuka hati. Sehingga kita merasa tak ada suatu kejanggalan di sana. Tapi dalam kenyataannya, sunyi adalah sesuatu yang abstrak dan relatif, tak ada keadaan yang tepat untuk menggambarkannya, barangkali untuk sebagian orang yang mencintai keramaian tentu kesunyian adalah suatu keadaan yang sangat tidak diharapkan dan mungkin menakutkan. Namun apakah selalu seperti itu? apakah kesunyian selalu menakutkan, berwarna hitam, berbau anyir, dan tidak terlalu dibutuhkan?

Dalam buku Ritus Khayali, seolah kesunyian adalah segalanya. Kita bisa tenggelam ke dalam jurang yang sangat dalam, tak memilik dasar, dan sangat mengerikan. Di satu sisi kita juga akan dibuat merindukan kesunyian sebagaimana kesunyian yang menenangkan, menentramkan, dan membuat kita betah berlama-lama di sana. Selanjutnya jika kita sudah terbiasa, kesuanyian bisa menjadi hal yang lumrah yang setiap hari selalu kita lihat dan rayakan.

Seperti dalam puisi Wilayah Tak Bernama Tak Ada Dalam Peta; di wilayah yang entah ini, langkahku kehilangan jejaknya. aku seolah/ tapi tak seolah dibekap kesunyian yang amat jahanam, bahkan/ ketika bayangan perempuan silam melintas aku tak mampu/ menyebut nama atau melambaikan kisah-kisah buram. Di puisi tersebut kita seolah tahu, saat aku lirik sedang berada dalam suatu tempat yang asing, bahkan sebuah langkah juga kehilangan jejaknya. Aku lirik seperti merasa atau tidak merasa, kesunyian tiba-tiba datang dan membekap, memeluk erat si aku lirik. Namun kesunyian di sini tak memiliki konotasi kesunyian yang menyenangkan, sebaliknya kesunyian diartikan sebagai sebuah bencana yang tidak diharapakan kedatangannya. Kesunyian yang datang itu hanya membuat si aku lirik semakin susah. Ketika membaca larik ketika bayangan perempuan silam melintas, aku lirik tak mampu melakukan apapun meski hanya sekedar menyebutkan sebuah nama atau sekedar melupakan suatu kisah tidak menyenangkan. Dan itu ditegaskan dengan umpatan ‘jahanam’ oleh aku lirik ketika kesunyian datang membekapnya.

Selanjutnya dalam puisi Sekedar Braga yang Bernyawa; jejak masa silam malih menjadi bangkai/ sementara sepi dengan kukunya tajam/ mencengkeram hatiku seerat tambang/ pada sekibar bendera di tiang pancang./ kita kembali menemui sunyi yang menakutkan, meski dalam penggalan sajak tersebut penyair lebih memilih menggunakan diksi ‘sepi’ dari pada ‘sunyi’. Pada akhirnya sepi dan sunyi memiliki arti harfiah yang hampir sama, tidak ada bunyi atau suara apapun; hening; senyap. Dan dalam sajak Sekedar Braga yang Bernyawa, penyair kembali menggambarkan kesepian atau kesunyian yang menyakitkan, kesunyian yang memiliki kuku-kuku tajam untuk mencengkeram erat. Tentunya bisa dibayangkan kesunyian macam apa yang memiliki kuku-kuku tajam.

Sementara dalam puisi Sajak Mabuk seperti ada warna berbeda dalam penggambaran penyair terhadap kesunyian. Ini bukan kesunyian seperti dalam dua puisi sebelumnya. berikut saya kutip beberapa larik: aku takjub pada mereka/ yang berkhidmat dalam kesunyian/ kadang aku menginginkan/ bisa juga ambil bagian/ walau cuma di tepi-tepi malam/ dari beberapa larik puisi dalam Sajak Mabuk ini, saya rasa jelas sekali ada sebuah kerinduan untuk masuk ke dalam kesunyian, berkhidmat atau menakzimi kesunyian itu sendiri, seakan kesunyian adalah sesuatu yang memiliki segalanya sehingga membuat aku lirik takjub, terpesona dan berhasrat untuk memilikinya. Saya berasumsi dalam puisi ini kesunyian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya. Dan sebagaimana umumnya sesuatu yang selalu diinginkan adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang menyenangkan, sangat berharga, sehingga dalam sajak tersebut aku lirik tetap sangat menginginkannya meski hanya di tepi-tepi malam yang barangkali memiliki konotasi yanga amat sedikit jumlahnya.

Kondisi kesunyian yang seperti dalam puisi Sajak Mabuk, seolah ditegaskan lagi dalam puisi Ritus Khayali; masih selalu kunanti, wangi/ senyap tubuhmu yang sedikit mencuat/ sebagai ziarah ritus sunyi khayali/ yang makin digandrungi tukang sajak/ di puisi ini kesunyian seakan selalu menjadi sesuatu yang amat dirindukan, meski datangnya dalam bentuk lain, semacam kenangan yang samar dan masih abstrak, belum berbentuk. Namun aku lirik seolah telah menjadikan kesunyian yang abstrak itu menjadi sesuatu yang konkret dan bahkan ia ingin menakziminya sebagai sebuah ritus atau upacara suci kesunyian yang tertata, meski itu hanya sebuah utopia yang belum jadi nyata. Sesuatu itu telah menjadi candu sehingga barangkali batasan antara abstrak dan konkret  telah memudar dan menjadi samar-samar. Sebagaimana kita tahu sesuatu yang telah menjadi candu—entah itu baik atau buruk—sudah tentu selalu dinanti, dirindukan, dan amat dibutuhkan. Seakan-akan si pecandu tak akan bisa hidup jika tak mendapatkannya.

Namun bagiamana jika kesunyian itu datang berkali-kali, di puisi Aforisme, seolah peristiwa itu telah ditegaskan. Dalam larik; “Selamat sunyi, penyair!” seperti ingin menunjukkan bahwa kesunyian juga pantas untuk dirayakan sebagai sesuatu yang lumrah. Sebagaimana ucapan selamat lainnya, yang diucapkan dengan intonasi yang ramah dan bersahaja. Sehingga di sini kata ‘sunyi’ seolah memiliki konotasi sebuah kondisi yang tak perlu disesali–bukan sebuah fenomena atau tragedi–hanya perlu dirayakan sebagaimana kondisi sehari-hari, semacam ibadah yang telah menjadi kebiasaan. Sebagaimana disebutkan Rendy Jean Satria dalam epilog untuk buku Ritus Khayali, mengatakan bahwa dalam kesunyian yang seakan-akan abadi. Satu-satunya kesempatan untuk keluar dari kegelisahan itu, adalah dengan cara untuk menghadapinya bagai seorang satria kelana yang membawa pedang di atas kuda putih. Sepertinya itulah upaya yang sudah berhasil dilakukan penyair dalam menyikapi kesunyian yang datang berkali-kali padanya. Ia tidak pernah lari, memungkiri, atau mengabaikan. Tapi sebaliknya ia peluk kesunyian-kesunyian itu sekaligus merasakan suka serta duka lara yang dibawa olehnya, sehingga kesunyian yang datang seperti memiliki warna-warna yang meriah.

Terlepas dari itu semua di dalam buku puisi Ritus Khayali, seperti nampak sekali usaha Astrajingga untuk mengeksplorasi puisi-puisinya, dengan cara mencari tubuh yang pas dengan berkunjung ke puisi-puisi penyair pendahulunya, membacanya, mengolahnya menjadi puisi orisinal miliknya, dan pencarian itu seolah belum berhenti. Sehingga di sana-sini akan kita temukan diksi-diksi, juga gaya ucap yang kerap kita jumpai pada penyair-penyair tanah air seperti, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Afrizal Malna (sejauh yang saya tahu hanya tiga nama itu yang bisa saya tangkap). Meski saya yakin Astrajingga Asmasubrata sebagai penyair kontemporer telah banyak sowan ke puisi-puisi penyair-penyair tanah air maupun mancanegara. Barangkali seperti itulah seorang pembelajar sejati, ia seperti musafir yang terus berkelana tanpa mengenal lelah mengarungi luasnya hamparan bumi yang entah seberapa luasnya.

Sekali lagi membaca Ritus Khayali, tidak hanya tentang sunyi yang kelam dan menakutkan, lebih dari itu Ritus Khayali mengajak kita untuk menyelami dan tersesat di kesunyian-kesunyian yang multitafsir.

Iklan

Mencari Sarang Angin, Suparto Brata

Nama Suparto Brata pertama kali saya kenal ketika membaca Jurnal-jurnal Eka Kurniawan. Saya tidak tahu banyak tentang Suparto, saat saya mencoba mencari informasi dari Wikipedia, Suparto terkenal dengan sastrawan berbahasa Jawa. Ia lebih banyak menulis cerita fiksi dalam Bahasa Jawa. Dalam novel Mencari Sarang Angin, rasanya kepiawaiannya dalam menggunakan Bahasa Jawa memang sedikit banyak terlihat. Sehingga saya tak akan menyalahkan Wikipedia atas informasi tersebut.

Jika ditanya mengapa saya membaca Suparto Brata, saya akan menjawabnya dengan jujur setiap nama penulis yang saya dapat dari membaca novel, cerpen, puisi, esai dari seorang penulis akan membuat saya mencari tahu lebih banyak tentang nama penulis itu, lebih-lebih pada suatu hari saya bisa membaca bukunya. Seperti itulah, dugaan saya atas nama penulis yang tertulis atau terselip dalam sebuah tulisan entah itu cerita atau puisi adalah sebuah rekomendasi bacaan oleh si penulis buku, yang bagaimanapun membuat saya ingin membacanya.

Baiklah saya rasa cukup prolog yang saya lantunkan barusan, sekarang mari kita masuk agak dalam ke novel Mencari Sarang Angin. Pertama novel ini saya rasa tidak dibuka dengan kalimat yang mencolok, atau sebuah kalimat yang akan membuat kita kian bernafsu untuk membaca novel dengan tebal kurang lebih 700-an halaman. Novel ini dibuka dengan kalimat-kalimat yang datar yang menggambarkan sebuah setting tempat sebagaimana cerita-cerita lama dipaparkan. Bagi saya tidak ada yang perlu ditandai secara khusus dalam hal pembukaan novel di novel ini.

Sebelumnya perlu diketahui, Mencari Sarang Angin adalah sebuah cerita bersambung yang ditulis dalam rentang waktu 1991 – 1992. Dan kemudian digubah untuk dibukukan menjadi sebuah novel. Cerita ini sebelumnya pernah dimuat secara bersambung di Harian Pagi Jawa Pos. Suparto Brata dalam Biografi Singkat yang disertakan dalam buku ini memang akrab dengan media massa. Tulisan-tulisannya kerap dimuat di berbagai majalah, koran dan media-media lain. Kurang lebih seperti itulah yang tertulis dalam biografi singkatnya. Ini membuat saya memiliki prasangka bahwa tokoh utama dalam novel ini adalah si penulis sendiri.

Memang secara keseluruhan novel ini menceritakan tentang kehidupan Darwan, seorang lelaki keturunan bangsawan Jawa Surakarta yang ingin mencari kehidupan yang luhur di luar. Tidak terikat dan tergantung dengan lingkungan istana. Yang mana setiap anggota keluarga istana, hidupnya selalu terjamin tidak ada kekurangan suatu apapun entah itu uang atau istri. Setiap lelaki keturunan bangsawan jawa disebutkan disitu ia bebas memilih perempuan yang ia sukai untuk dijadikan istri atau hanya sekedar gundik, yakni perempuan pemuas nafsu belaka. Namun Darwan tidak menginginkan kehidupan yang semacam itu, ia merasa ada yang salah dengan adat yang semacam itu ketika dibandingkan dengan apa yang ia peroleh dari pendidikannya dan saat masih akrab dengan Beatrix, perempuan Belanda yang pernah dekat dengan Darwan. Akhirnya karena merasa adanya ketidakselarasan prinsip hidup dan ingin menunjukkan bahwa ia mampu hidup tanpa tergantung kehidupan Istana. Darwan pun merantau ke Surabaya untuk mencari sarang angin, istilah yang ia pakai untuk menemukan kehidupan yang ia cita-citakan.

Sebagaimana Suparto Brata, Darwan juga adalah seorang penulis, ia ingin hidup sebagai seorang penulis saja, menulis berita di koran dan mengarang cerita. Di awal-awal cerita saya benar-benar kagum dengan pemaparan Suparto terhadap sebuah penerbitan, ia memggambarkan dengan detail apapun yang berada di dalam sebuah penerbitan, saya rasa ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang-orang yang bukan ahlinya, artinya penulis sangat menguasai apapun yang berkaitan dengan penerbitan, tentang mesin cetaknya, percakapan yang biasa menjadi topik wartawan, tentang ideologi penerbitan, dan sebagainya. Hal semacam itulah yang barangkali diperoleh ketika kita menulis dengan melakukan riset terlebih dahulu, dalam fiksi kita memang dituntut untuk mengkonkretkan yang abstrak, kurang lebih begitu kata A.S. Laksana. Sehingga cerita yang kita bangun terasa nyata kuat dan tidak rapuh.

Selanjutnya yang menjadi catatan saya, adalah setting waktu dalam novel ini, Suparto Brata melakukannya dengan sangat apik, sebagaimana seorang maestro. Novel ini merangkum Indonesia saat masih berada dalam jajahan Belanda, Jepang, hingga ketika PKI ingin merebut kekuasaan Pemerintah RI. Semua itu dilakukan Suparto dengan pemaparan yang detail lengkap dengan penggunaan bahasa Belanda, Jepang dan istilah-istilah yang kerap digunakan pada zaman itu, barangkali novel ini bisa juga menjadi rujukan sejarah untuk meneliti bahasa atau budaya yang digunakan pada masa itu.

Sebelum saya akhiri tulisan ini saya ingin membahasnya sedikit, terkait apa yang membuatmu terpacu untuk tetap membaca suatu cerita hingga akhir, jika kau bukan seorang pembaca yang tangguh—orang awam yang akan pusing atau mengantuk atau muntah-muntah ketika disuguhkan pada tulisan. Sehingga saya merasa ini perlu untuk menjadi catatan seorang penulis agar tulisannya tidak banyak ditinggal kabur atau tidur oleh penyimaknya sebagaimana khutbah sholat Jum’at. Jujur dalam membaca sebuah cerita saya berharap ada sesuatu yang baru yang diberikan oleh si penulis agar saya tidak mudah tertidur saat sedang membacanya. Dan dalam novel ini Suparto berhasil membuat ceritanya selesai saya baca karena rasa penasaran saya dengan adegan mesum yang akan diperagakan oleh Darwan dengan Yayi atau Darwan dengan Rokhayah. Menurut saya ini adalah kontent dewasa yang hanya boleh disaksikan ketika usia anda sudah mencapai 18+, saya tidak memungkiri hal semacam ini kerap muncul dalam sastra kita. Entah seberapa penting adegan vulgar harus ada dalam sebuah cerita saya juga kurang tahu, juga kurang tahu pula apa maksud penulis yang sebenarnya. Apakah benar adegan semacam ini hanya untuk menarik minat pembaca yang tidak terlalu tangguh dan suka mengantuk seperti saya agar terus membaca dan membaca hingga akhir. Meski harus saya akui adegan vulgar dalam novel ini tidak lebih jujur dari novel Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan. Di novelnya ini Suparto Brata lebih banyak membuat analogi dan metafora dalam menyusun adegan-adegan vulgarnya. Barangkali untuk lebih jelasnya bisa dibaca sendiri, bukunya. Dan biarkan urusan adegan vulgar dalam sebuah cerita menjadi PR bagi saya.

Cukup sekian dan terimakasih.

Playon, F Aziz Manna

F Aziz Manna adalah seorang penyair kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur. Ia sudah banyak menerbitkan buku kumpulan puisi, dan Playon adalah manuskrip puisinya yang memenangi Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur 2015 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2015 – 2016. Beberapa puisinya juga kerap dimuat di Kompas. Membaca kumpulan puisi Playon-nya F Aziz Manna ini sama sekali berbeda dengan membaca M Aan Mansyur, Afrizal Malna, atau penyair-penyair lainnya. F Aziz Manna seolah ingin menunjukkan daya ucap yang berbeda dari penyair lain dan melalui itu ia seakan telah berhasil menunjukkan dirinya sendiri.

Oka Rusmini, mengatakan Playon merupakan ide yang cemerlang, pembaca dipaksa untuk kembali diseret ke dalam cuaca yang riang, cuaca yang jujur dan seru menjadi kanak-kanak yang dekat dengan alam dan lingkungan sekitar. Kurang lebih seperti itu, F Aziz Manna menunjukkan bahwa puisi juga bisa menyampaikan hal-hal yang akrab dengan anak-anak. Akrab dengan aktivitas sehari-hari di Jawa Timur. Jika anda pembaca dari Jawa Timur anda mungkin akan mengenal buku Playon ini mirip anak sendiri, yang sama sekali tidak asing, pengucapan dan prilakunya, barangkali seperti itu.

Saya merasa buku Playon ini disusun untuk merayakan masa lalu yang masih lugu di Jawa Timur. Dimana kita masih bisa melihat budaya-budaya Jawa Timuran seperti permainan tradisional, kebiasaan sehari-hari orang Jawa Timur, serta mendengar istilah-istilah yang tidak asing jika anda memang orang Jawa Timur.

F Aziz Manna menyusun buku Playon menjadi tiga sub bab, pertama: Main, kedua: Ajang Barang, ketiga: Laku. Puisi-puisi di sub bab pertama banyak berbicara tentang permainan tradisional, mungkin setiap daerah mengenal permainan-permainan itu hanya saja mungkin, memiliki nama yang berbeda. Mungkin inilah yang ingin dikukuhkan oleh F Aziz Manna dalam kumpulan puisi Playon-nya, kekayaan bahasa atau kosakata daerah yang belum terhimpun dalam kosakata Bahasa Indonesia (KBBI) secara resmi. Seperti ada usaha untuk menyelamatkan kata atau istilah-istilah yang pernah populer pada masa lalu di Jawa Timur. Begitu juga dengan dua bab berikutnya, Ajang Barang, ini mirip dengan kata benda, atau suatu barang yang memiliki nama akrab di suatu daerah. Di bab yang ketiga, Laku, ini mirip dengan kata kerja. Meski jika ditilik satu persatu dari keseluruhan puisi di bab ketiga ini tidak seluruhnya adalah kata kerja, seperti puisi Piatu misalnya, rasanya kurang tepat jika ia masuk di bab ketiga, kata kerja, jika Piatu ini memiliki arti seorang anak yang ditinggal mati ibunya. Tapi tidak menutup kemungkinan, Piatu memiliki arti lain selain yang saya katakan barusan jika dikaitkan dengan daerah yang penyair maksudkan.

Dalam kumpulan puisi Playon, F Aziz Manna seperti ingin menunjukkan jati dirinya, bahwa dia adalah orang Jawa Timur. Dia dibesarkan dengan kearifan lokal Jawa Timur. Dan sebagai penyair barangkali adalah sebuah kewajiban mencintai kata-kata, menyelamatkannya dari lupa, dan merawatnya kembali dengan tetap mengenakannya. Sebagaimana kita tahu seriring waktu berjalan banyak sekali kosakata baru, entah itu baku atau bukan yang kerap muncul dan dilupakan, dipakai sebentar dan dibuang, selalu begitu tidak ada usaha untuk merawatnya sebagai benda berharga. Dalam buku Playon ini saya merasa F Aziz Manna telah melakukan usaha-usaha semacam itu. Ia telah menyelamatkan kata-kata yang pernah di pakai pada suatu masa yang lampau di Jawa Timur, sekaligus kenangan dibalik kata-kata itu. Sebagaimana saya percaya setiap kata memiliki romantismenya masing-masing. Ada kenangan yang tersembunyi dibaliknya.

F Aziz Manna saya rasa sebagai penyair ia telah berhasil banyak hal melalui Playon-nya, selain yang saya sebutkan diatas ia barangkali telah berhasil menciptakan daya ucapnya sendiri. Ia telah berhasil menjadi dirinya sendiri sebagai penyair yang berbeda dengan penyair-penyair lainnya. Ia telah menemukan jati dirinya didalam jati diri penyair itu sendiri. Sebagaimana yang saya mengerti, menciptakan daya ucap dalam suatu puisi benar-benar bukan perihal yang mudah. Begitu banyak penyair tapi hanya sedikit yang berhasil menciptakan daya ucapnya sendiri. Bahkan beberapa hanya mengulang-ulang ucapan dari penyair sebelumnya, sebagaimana kita tahu menyimak hal yang sudah pernah dilihat adakah perkara membosankan, barangkali membuat kita muntah juga. Namun tidak menutup kemungkinan menyimak perkara baru, berbeda, dan agak ganjil dengan kebanyakan juga membuat kita tidak nyaman. Cara menikmati Playon barangkali juga seperti itu, ia hadir, berbeda dari kebanyakan, dan ingin dinikmati dengan cara yang berbeda pula dengan puisi-puisi kebanyakan. Saya rasa tidak ada lagi yang ingin saya sampaikan terkait Playon, ini selebihnya baca sendiri, nikmati dan tafsirkan sendiri puisi-puisi didalamnya.

The Adventure of Tom Sawyer, Mark Twain

Sungai Mississippi adalah setting tempat yang pertama kali saya bayangkan sebelum membaca kisah ini. Merupakan tempat yang menarik, mungkin Mark Twain kerap ke sana, mengail ikan sambil melihat kapal uap berlayar. Saya sendiri belum pernah kesana, tapi setelah searching di Google saya mendapatkan gambar Sungai Mississippi yang diambil dari atas. Indah sekali, sungai yang biru, diapit oleh daratan yang hijau dan pepohonan tumbuh di sepanjang kiri kanan sungai. Sebuah kapal atau mungkin semacam Kapal Uap yang kerap dilihat Twain, sedang berlayar di tengah-tengah Sungai Mississippi.

Mark Twain sendiri adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens. Ia lahir pada 30 November 1835 dan meninggal pada 21 April 1910. Dia dibesarkan di Hannibal, Missouri sebuah kota kecil di tepi sungai Mississippi, Amerika Serikat. Disebutkan dalam biografi singkatnya di Wikipedia, dia memang seorang yang tertarik dengan kapal uap yang lalu lalang di Sungai Mississippi, saat ia masih remaja.

Baiklah mari kita usik sedikit novel ini. Di awal pembukaan novel ini, saya tidak menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Kenapa orang-orang mengelu-elukan novel ini? Apa yang menarik dari novel ini? Awalnya saya merasa novel ini biasa-biasa saja, tidak lebih bagus dari penulis tanah air kita. Begitu asumsi saya. Tidak jauh berbeda dengan bentuk-bentuk novel membosankan lainnya. Novel ini dituturkan oleh seorang narator yang sok tahu, ia mengerti segalanya, ia seperti Tuhan yang tahu segalanya. Ia bebas keluar masuk menceritakan isi kepala tokoh-tokohnya dan tahu kejadian di setiap tempat dalam waktu yang sama. Teknik semacam ini mungkin telah banyak digunakan oleh beberapa penulis. Namun rasanya dari Twain lah saya baru mengerti bagaimana cara menggunakannya dengan tepat.

Sebagai Tuhan Yang Maha Tahu segalanya. Ia tahu kejadian yang terjadi di tempat yang berbeda dalam saat yang bersamaan. Hal semacam ini kerap kita lihat penggunaannya di film-film anime, semisal One Piece atau Naruto, seorang narator mengisahkan satu kejadian di tempat A lebih dulu, baru kemudian di halaman selanjutnya ia mengisahkan kejadian di tempat B yang mana keduanya saling mempengaruhi.

Mungkin dari sudut pandang itulah rasanya paling tepat untuk menceritakan kisah ini, yang mana menurut saya novel ini menceritakan kejadian-kejadian menarik dari kota St. Petersburg. Tentu saja dengan kamera yang lebih banyak mengarah pada Thomas Sawyer, atau biasa dipanggil Tom. Ia seorang anak nakal yang tinggal dengan soerang bibi dan dua anak yang lain. Karena kenakalannya itu ia kerap mendapat hukuman dari bibinya. Ia kerap bolos sekolah untuk mengail ikan dan berenang di sungai.

Tom sendiri adalah bocah yang nakal, lincah, cerdas, pemberani, dan baik hati. Memang secara keseluruhan ini adalah cerita anak-anak sebagaimana Twain telah katakan di Kata Pengantar. Namun di balik semua itu beberapa adegan di dalam novel ini patut menjadi renungan. Membaca The Adventure of Tom Sawyer seperti menyelami lagi masa anak-anak yang telah kita tinggalkan. Kita akan di ajak mengambil lagi imajinasi-imajinasi polos kita selama menjadi anak-anak. Kembali ke sungai, merasakan debar mencintai seorang perempuan ketika masih kecil, melakukan kenakalan-kenalakalan yang kita anggap keren, dan seperti biasanya tidak ingin banyak diatur. Juga tak lupa berpetualang ke tempat-tempat jauh, terlarang, berhantu, dan menemukan jalan baru. Kita akan diajak berjalan-jalan di Kota St. Petersburg, hingga ke gang-gang tersembunyi, pergi ke hutan, berenang di Sungai Mississippi, dan kita akan merasakan kembali bagaimana debar sebuah petualangan.

Apresiasi & Proses Kreatif Menulis Puisi, Soni Farid Maulana

Sejauh yang saya tahu atau alami membaca puisi tidak seperti membaca opini, berita, novel, atau jenis-jenis lainnya. Jika tidak terbiasa mungkin kita akan lekas pergi dan meninggalkan puisi-puisi yang kita baca. Kadang saya merasa membaca puisi hampir sama dengan pengalaman spiritual, butuh kekhusukan dan penjiwaan.

Dalam buku Soni Farid Maulana, ini kita akan mengetahui seluk-beluk puisi. Sebenarnya saya menemukan buku ini secara tidak sengaja terselip di rak sastra Perpustakaan Daerah Lamongan. Kadang saya berasumsi bahwa perjumpaan saya dengan buku, memang sudah ditakdirkan oleh Yang Di Atas. Sebab saya menemukan buku ini memang ketika saya ingin tahu lebih banyak tentang isi-isi puisi.

Sebelumnya saya tidak pernah mendengar nama Soni Farid Maulana, boleh dikatakan saya sangat asing dengan nama itu. Namun bagaimanapun saya harus berterima kasih banyak pada beliau, karenanya saya dapat mengerti sedikit lebih banyak tentang isi-isi puisi.

Sebenarnya buku ini semacam kritik umum yang ditulis untuk masyarakat umum yang mencintai sastra utamanya puisis, sehingga bahasa yang digunakan juga sangat sederhana dan mudah dipahami. Menurut saya buku ini sangat cocok bagi para otodidak yang ingin mengerti lebih banyak tentang puisi. Bagaimana pertamakali puisi dituliskan dan apa nama bentuk-bentuk kalimat yang menjadi larik-larik puisi.

Dalam menulis puisi dibutuhkan imajinasi, disebutkan didalam buku ini bahwa imajinasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam merealisasikan gagasan, ide, maupun perasaan estetik yang ditulis dalam karya sastra. Saya merasakan imajinasi merupakan unsur yang tidak bisa dilupakan, imajinasi kerap membantu saya menemukan tempat-tempat baru, semacam utopia atau distopia. Mungkin bentuk-bentuk semacam ini bisa kita temukan di sebagian besar puisi Afrizal Malna, bahkan juga di cerpen-cerpennya.

Di buku ini Soni Farid Maulana juga mengenalkan berbagai nama yang turut mempengaruhi perkembangan puisi di tanah air, semisal Amir Hamzah, Chairil Anwar yang juga banyak mempengaruhi Soni dalam kiprah kepenyairannya. Diakui oleh Soni puisinya yang berjudul Kamar dan Di Pemakaman banyak terpengaruh oleh gaya Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Ada juga W.S. Rendra yang mengaku puisi lahir dari pengalaman yang dihayati, Wing Kardjo yang juga pernah menulis haiku, beliau juga menggarap puisi dari berbagai tema dan variasinya. Ada pula Saini KM dengan Mawar Merah-nya, buku kumpulan puisi pertama dan terakhirnya. Saya tidak mengerti banyak tentang Saini KM hanya saja di buku ini ia begitu banyak mendapat penghargaan kepenulisan. Ia tidak hanya menulis puisi tetapi juga cerpen, naskah drama, dan esai.

Kemudian di dalam puisi ada pula Gerakan Puisi Mbeling yang dipopulerkan oleh Remy Sylado. Puisi Mbeling atau juga Puisi Nakal ini diberikan tempat dalam majalah Aktuil pada tahun 1972-1973, dikatakan konsep estetik dari puisi ini adalah pemberontakan terhadap rezim Orde Baru yang feodal dan munafik pada satu sisi, dan pada sisi lain pemberontakan terhadap arus besar puisi lirik seperti yang banyak dijumpai dalam majalah sastra Horison. Meskipun seperti itu dalam penulisan puisi Mbeling bahasa harus diatur dan dipilih-pilih sesuai dengan stilistika yang baku, begitu kata Remy Sylado.

Masih banyak nama-nama lain yang dibahas Soni Farid Maulana dalam buku ini, termasuk Arifin C. Noer yang mungkin lebih kita kenal karena naskah dramanya dibalik itu puisi-puisi yang ia tulis juga tak kalah indahnya. Oka Rusmini, Acep Zamzam Noer, Sinta Ridwan. Pada dasarnya setiap penyair mempunyai gayanya masing-masing.

Pada akhirnya membaca buku ini seperti telah membuka lebar mata saya, bahwa penyair di tanah air ini begitu banyak, menulis puisi tidak hanya menulis puisi ada kaidah-kaidah yang harus diikuti dari tradisi kepenyairan tanah air, meski pada akhirnya tugas penyair adalah menemukan gaya ungkapnya sendiri dan membuat khasanah puisi tanah air semakin kaya. Namun saya menyadari untuk mencapai level tersebut kita harus mendaki level-level dibawahnya, sebagaimana kita tidak mungkin berada dilantai 3 tanpa melewati lantai 2. Sebagaimana kita tidak bisa merangkai kata sebelum hafal abjad. Semuanya harus melalui tahap-tahapnya. Entah berapa lama mencapai titik itu saya saya sendiri tidak tahu. Tapi berkat buku ini saya merasa apa yang saya kerjakan selama ini sudah berada dalam jalur yang benar.

Perawan Cantik yang Terlelap, Yasunari Kawabata

Ini adalah buku ketiga Kawabata yang saya baca. Dan sekaligus menjadi buku pertama yang saya selesaikan di tahun 2018 beberapa hari yang lalu. Perjalanan saya membaca Kawabata boleh dikatakan secara kebetulan dan tidak menurut pada peta membaca yang biasa ditulis oleh penulis-penulis besar. Namun sesuai niatan awal saya membaca kesusastraan luar adalah dengan niatan, bagaimana saya harus bisa menikmatinya sekaligus mencuri teknik-teknik menulisnya sebanyak mungkin.

Saya mengatakan kenapa harus menikmatinya tentu saja dengan suatu alasan. Menikmati kesusastraan luar bagi saya adalah berkunjung ke suatu tempat yang asing, memasuki lorong-lorong gelap, terperosok ke tempat-tempat surealis sebab dalam lingkup keseharian, kita tak pernah mendapat gambaran tentang hal-hal yang kita temui di dalam kesusastraan tersebut. Sangat berbeda dengan kesusastraan kita, paling tidak kita pernah mendengar setting yang digunakan, kearifan lokal, termasuk beberapa mitologi yang diangkat kembali. Kita kerap melihat penjajahan bangsa lain, cerita tentang kerajaan-kerajaan Jawa, atau budaya-budaya yang masih melekat di daerah-daerah kita. Kepercayaan terhadap pohon, konflik agama, atau yang paling memuakkan kisah cinta anak SMA yang dibalut dengan sangat membosankan dan tampak tidak kreatif sama sekali.

Pertama kali membaca kesusastraan luar, saya berkenalan dengan Carlos Fuentes. Dengan novel atau mungkin lebih tepat disebut noveletnya Aurora, saya rasa ia berhasil membuat saya masuk ke dunia yang amat sangat asing, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan tidak bisa saya jawab. Saya seperti masuk ke rumah yang gelap di tengah malam melihat kamar atau ruang-ruangnya dengan cara meraba dan hanya mendengar suara yang juga tidak jelas. Kurang lebih begitulah saya dituntut untuk menggambarkannya.

Begitu juga dengan Yasunari Kawabata, di buku pertamanya yang saya baca, saya sama sekali tidak menemukan apapun barangkali juga tidak bisa menikmatinya. Namun semuanya itu berubah setelah buku ketiganya—Perawan Cantik yang Terlelap—saya baca. Menyenangkan sekali, saya seolah baru saja melihat keindahan kupu-kupu dengan amat sangat detail dan juga menikmati keindahannya saat mengepakkan sayap. Telur di kepala saya seolah pecah dan sangat ikhlas mengakui, Yasunari Kawabata memang pantas meraih Nobel Sastra pada tahun 1968.

Di Novelnya, Perawan Cantik yang Terlelap menurut saya tema yang diangkat Kawabata hampir sama dengan Deru Gunung masih seputar percintaan lelaki tua dan perempuan muda. Namun yang membedakan keduanya barangkali adalah teknik menulisnya, di Deru Gunung mungkin Kawabata lebih bereksperimen dengan plot atau alur cerita yang lebih kompleks, ia membuat alur cerita yang berkelindan ke luar, tidak hanya seputar kehidupan rumah tangga dimana Shingo tinggal.

Sementara di Perawan Cantik yang Terlelap, Kawabata seolah hanya bermain dalam sedikit tempat, Rumah yang menyediakan perawan-perawan cantik dan kenangan. Namun sebagaimana seoarang master, Kawabata menunjukkan cerita yang tidak membosankan dan tetap enak dibaca hingga akhir. Ia menurut saya lebih banyak menggunakan teknik show dari pada tell sehingga dengan amat jelas kita bisa membayangkan bagaimana lekuk tubuh perempuan cantik yang ingin ditunjukkan oleh Kawabata. Sehingga saya rasa ia menunjukkan dengan jelas setiap perempuan yang ditiduri si tua Eguchi.

Namun dibalik novel yang tampak vulgar, Kawabata seperti ingin mengajak kita untuk kembali menyelami apa itu esensi cinta bagi seorang kakek-kakek. Terakhir seperti biasanya saya tak mungkin menceritakan secara gamblang ceritanya dari awal hingga akhir. Lebih baik anda baca sendiri bukunya biar lebih berkesan dan tampak keren karena membaca memang pada dasarnya pangkal keren, percayalah.

Deru Gunung, Yasunari Kawabata

Deru Gunung, gelora cinta usia senja. Novel Kawabata ini diterjemahkan oleh Nurul Hanafi dari versi Bahasa Inggrisnya, The Sound of the Mountain yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1954. Seperti kata M Aan Mansyur dalam Kata Pengantar yang ia berikan untuk buku ini, bahwa membaca Deru Gunung adalah melakukan perjalanan yang membosankan dan menyenangkan, menyakitkan dan indah, menyedihkan dan berwarna-warni, sederhana dan penuh rahasia, singkat dan tak berujung. Secara keseluruhan saya agak setuju dengan apa yang dikatakan M. Aan Mansyur.

Deru Gunung adalah buku kedua Kawabata yang saya baca di tahun 2017. Di buku pertamanya yang saya baca, Ceritacerita Telapak Tangan yang merupakan kumpulan cerpen-cerpennya, saya tidak menaruh banyak ketertarikan pada tulisan-tulisan Kawabata. Saya merasa ia sama saja dengan penulis-penulis lain yang tidak memiliki karakter kuat yang bukunya saya baca kemudian selesai, tidak mengusik dan meninggalkan bekas di kepala saya, dan seiring berjalannya waktu saya lupa begitu saja pada Kawabata dan tulisan-tulisannya. Atau sangat mungkin itu juga karena ketololan dan kekurangtajaman saya dalam memerhatikan karya sastra sehingga saya menganggap Kawabata biasa-biasa saja, saat membaca Ceritacerita Telapak Tangan di buku tersebut saya merasa beberapa cerita tampak mengambang dan samar-samar. Sama sekali berbeda dengan pengalaman membaca Norwegian Wood, Haruki Murakami.

Apa yang Murakami ceritakan tampak jelas sebagaimana sebuah film, seolah tidak ada hal yang sublim di dalamnya. Meski Murakami dalam Norwegian Wood tampak menggunakan tokoh-tokoh yang saya rasa abnormal, sedang mengalami gangguan psikologis sehingga sangat menyimpang dari kebiasaan tokoh manusia pada umumnya. Keganjilan atau penyimpangan-penyimpangan semacam itu mungkin secara tidak sadar telah membuat saya memberi perhatian yang lebih pada Murakami dan membuat namanya seperti terpatri dalam ingatan saya. Sebagaimana kita tahu beberapa guru di sekolah kita pernah mengatakannya, untuk menjadi murid yang selalu diingat para guru jadilah yang paling pintar atau yang paling bengal, jangan pernah jadi yang setengah-setengah. Mungkin semacam itulah yang dilakukan Murakami.

Sangat berbeda dengan Kawabata di novel Deru Gunung kalian akan menemukan perjalanan yang membosankan sekaligus menyenangkan. Kita akan menemui kejadian sehari-hari yang tampak biasa-biasa saja. Menyaksikan seorang kakek berbicara dengan anggota keluarganya, mengamati pohon, percakapan di kereta api saat berangkat kerja, atau seorang kakek yang mampir belanja bahan masakan saat pulang kerja. Sebelumnya saya merasa hal itu merupakan kejadian biasa-biasa saja, sebelum saya sadar bahwa didalamnya seperti ada yang berbeda diantara kewajaran yang kerap kita jumpai dalam keseharian kita.

Sebagai otodidak saya tidak begitu banyak mengerti tentang perihal-perihal kecil di dalam novel, teknik menulis, gaya kepenulisan, atau unsur-unsur lain yang membuat sebuah cerita itu tampak bagus dan pantas dikatakan sebagai sebuah karya sastra. Saya hanya mencoba meniru apa yang dilakukan penulis-penulis itu didalam karyanya, kadang memodifikasinya menjadi sebuah cerita baru, memotong-motong adegan kedalam cerita baru, atau berusaha memerhatikan hal-hal kecil seperti jenis pohon, budaya lokal di mana cerita berlangsung. Di Deru Gunung, Kawabata seakan mengumbar psikologis tokohnya, menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh tokohnya. Membuat narasi-narasi dari perasaan dan pikiran seorang tokoh mungkin adalah sebuah teknik tersendiri, yang saya rasa sangat tidak mudah untuk dilakukan jika tidak terbiasa. Dan Kawabata melakukannya dengan sempurna, dengan tempo dan irama yang seolah telah diperhitungkan secara matang. Pada saat-saat tertentu membaca Deru Gunung kita akan merasakan sedang membaca haiku atau semacam puisi dengan kalimat-kalimat yang indah dan terasa lembut.

Sekali lagi membaca karya sastra luar menurut saya adalah pengembaraan ke ranah asing, sekaligus mencoba mengenalinya meski dengan mengeja dan terbata-bata. Sebagaimana kata Eka Kurniawan, membaca karya sastra adalah meneropong suatu bangsa dari celah yang sangat kecil. Kita akan mencoba menafsir dari hal-hal yang berhasil kita tangkap melalui sebuah karya sastra. Sebagaimana pengalaman membaca Deru Gunung, kadang semua terasa samar, plot yang tidak jelas entah akan membawa kita kemana, bahkan kita harus siap menerima kemungkinan akan sampai pada hal-hal yang tak berujung. Kita tidak menemui klimaks dari sebuah cerita. Sama sekali berbeda dengan sebuah film yang kerap memiliki klimaks sebuah cerita. Dan rasanya kepuasan semacam itu seolah adalah imbalan yang harus kau dapat setelah membeli tiket untuk sebuah film.

Tapi entah kenapa beberapa karya sastra ditulis dengan ending yang tampak tak memiliki ujung. Seolah cerita belum selesai, namun sebagaimana kata M Aan Mansyur, hal semacam itu merupakan estetika dari sebuah cerita. Sebagaimana pernah saya lakukan juga, sebagai penulis saya mengalami kepuasan tersendiri ketika menyelesaikan sebuah cerita yang tampak mengambang dan seolah belum selesai. Dan ini seperti memberikan lubang pada pembaca untuk mengira-ngira seperti apa cerita selanjutnya atau pembaca lain akan tampak penasaran dengan kejadian selanjutnya dan merasa tidak terpuaskan. Mungkin ini yang dimaksud kita telah memberikan ruang berpikir bagi pembaca, memberikan kebebasan untuk menafsirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan semacamnya. Sehingga semua itu dilakukan bukan karena penulis egois atau apa tapi yakinlah, mungkin mereka hanya ingin melakukannya saja seperti yang pernah saya lakukan satu atau dua kali jika saya mau.

Terakhir saya mohon maaf saya tidak banyak mengulas tentang bagaimana keseluruhan cerita di novel Deru Gunung, tapi jika anda mau silakan baca sendiri dan rasakan perjalanannya.

Catatan:

*)Haiku: puisi Jepang yg biasanya menggunakan ilusi dan perbandingan, terdiri atas 17 suku kata yg terbagi menjadi 3 larik, larik pertama 5 suku, larik kedua 7 suku, dan larik ketiga 5 suku